Hiburan
Lihat Profil    Jadikan teman    Kirim Pesan
Menulis sesuatu yang mungkin bermanfaat bagi orang lain (Blog pribadi : http://rihat-online.blogspot.com)
Kemenangan Perancis atas Irlandia dan Hilangnya Makna Sportivitas
Rihat Hutagalung
|  23 November 2009  |  07:00
219
4
Belum ada nilai.


Kemenangan Perancis atas Irlandia dalam pertandingan play-off untuk meraih tiket ke Piala Dunia 2010 setelah menyamakan skor menjadi 1-1 dan unggul agregat 2-1, adalah contoh nyata prinsip Machiavelli, tujuan menghalalkan cara. Dalam tayangan televisi jelas terlihat Thierry Henry menahan bola dengan tangannya sebelum mengoper bola ke William Gallas yang menanduknya menjadi gol. Wasit tetap mengesahkan gol tersebut dengan alasan tidak melihat Henry menyentuh bola dengan tangannya. Padahal Henry sendiri kemudian mengakui bahwa dia menahan bola dengan tangannya.

Hands-ball Henry mengingatkan kita akan ‘Gol Tangan Tuhan’ yang dibuat Maradona ke gawang Inggeris pada piala Dunia 1986 di Meksiko. Maradona yang lebih pendek dari kiper Inggeris ,Peter Shilton, ternyata bisa memenangkan perebutan bola di udara. Bagaimana bisa? Maradona sendiri tidak langsung mengakui bahwa gol itu dia buat dengan tangannya. Lama kemudian baru dia menyatakan bahwa gol adalah gol karena tangan Tuhan. Andaikan wasit menggunakan logika sederhana saja, semestinya dia bisa memutuskan bahwa gol itu tidak sah.

Kemenangan dan kekalahan memang merupakan keniscayaan dalam olahraga. Namun kemenangan semestinya tidak diraih dengan menggunakan cara-cara yang bertentangan dengan prinsip-prinsip yang menjiwai olahraga itu sendiri. Olahraga senantiasa melandaskan diri pada ungkapan Citius, Altius, Fortius (makin cepat, makin tinggi dan makin kuat) sehingga setiap kemenangan seharusnya karena satu tim memang lebih baik dari segi teknik dan strategi bertanding dari tim lawan. Dan setiap kekalahan yang adil akan membuat tim yang kalah mengakui keunggulan lawan sekaligus menjadi cermin untuk memperbaiki diri.

Namun justru prinsip-prinsip inilah yang kini justru menghilang dari dunia olahraga. Segala bentuk tipu daya dan kekerasan di luar batas justru nenjadi pemandangan yang umum. Dalam Piala Dunia tahun 2008, kita harus menyaksikan Australia tersingkir karena pemain Italia melakukan diving dia daerah pinalti. Pelanggaran keras yang berniat mencederai lawan dengan tujuan melemahkan kekuatan tim lawan juga bukan hal yang jarang terjadi.

Sungguh ironis, slogan Fair-Play , yang juga menjadi salah satu prinsip yang sering didengung-dengungkan justru sering dilanggar oleh olahragawan sendiri. Padahal salah satu prinsip dalam Etika Profesi adalah prinsip Keadilan. Artinya setiap pelaku profesi, termasuk pemain bola, dalam menjalankan profesinya tidak boleh merugikan pihak tertentu, khususnya lawan. Namun faktanya, mereka sering melakukan berbagai taktik yang merugikan lawan dan melanggar etika profesinya itu sendiri.

Anehnya, badan olahraga seperti FIFA sendiri ternyata belum mengambil sikap dan solusi yang tegas untuk menghindari berulang-ulangnya kecurangan-kecurangan tersebut. Meski sekarang wasit sepakbola dilengkapi alat bicara wireless yang memudahkan komunikasi antara wasit dan hakim garis, namun FIFA sendiri belum mau mengadopsi teknologi visual modern untuk mengatasi keterbatasan penglihatan wasit dalam melihat kecurangan yang dilakukan pemain, baik karena faktor jarak antara wasit dan pemain yang jauh maupun pandangan wasit terhalang oleh pemain.

FIFA maupun organisasi sepakbola nasional seperti PSSI seharusnya sudah mulai menerapkan penggunaan alat bantu televisi dalam setiap pertandingan sepakbola. Dengan adanya alat bantu ini, wasit bisa meminta hakim pembantu untuk memutar ulang adegan pelanggaran yang luput dari penglihatannya untuk memastikan apakah benar telah terjadi pelanggaran dan seberapa parah. Bila ternyata terbukti ada pelanggaran sebelum terjadinya gol, seperti hands-ball, off-side, dll, maka saat itu juga wasit langsung bisa menganulir gol tersebut, Sehingga tidak akan ada tim yang telah berjuang keras untuk menang dengan segala persiapan berat, namun harus tersingkir hanya karena kecurangan lawan dan keteledoran wasit dalam memonitor jalannya pertandingan.

Sportivitas dan Fair play bukanlah sesuatu yang lahir di ruang hampa. Diperlukan aturan dan perangkat pendukung agar setiap komponen yang terlibat didalamnya senantiasa mematuhinya. Bila semua itu sudah terlaksana, maka kita akan melihat lahirnya atlit yang senantiasa berjuang untuk menjadi lebih cepat, lebih tinggi dan lebih kuat. Dan kita pun bisa menikmati suguhan pertandingan yang indah dan berkualitas. Semoga kita bisa melihatnya dalam waktu yang tidak terlalu lama.


Sebarkan Tulisan:
Tanggapan Tulisan
23 November 2009 07:32
0

mungkin tergantung sudut pandang ya bang, semalam saya juga ada tulis tentang ini, baru mau diposting. salam…hidup harus terus berlanjut, seperti kata wasit Martin Hansson

23 November 2009 09:20
0

kalau saya seneng FIFA tidak mengandalkan teknologi biar kejadian ini menjadi sebuah drama yg besar pada akhirnya Henry atau Maradona mengakui dia curang itu lebih baik menunjukkan bahwa mereka adalah orang jujur di sinilah letak hebatnya sepakbola di banding olahraga yg lain sisi kemanusiaan sangat menonjol wasit tidak melihat semua adalah bentuk keterbatasan manusia.
henry mungkin di hujat oleh masyarakat dunia tapi saya yakin sebagian masyarakat prancis menganggapnya pahlawan heeee HIDUP SEPAKBOLA

23 November 2009 12:43 via Mobile Web
0

Kang Katedra, sudut pandangnya harusnya dilihat dari sini mana?Kalau saya melihatnya dari sisi tengah saja, yaitu keadilan,kejujuran terhadap aturan yg sudah disepakati.Main bola aturannya pakai kaki,jadi tidak boleh pakai tangan demi kemenangan.Kalau main basket dan volley baru boleh…trims kang tanggapannya

23 November 2009 12:49 via Mobile Web
0

Pak kusuma,mungkin saat ini Perancis gembira ,tapi suatu saat bila kejadian yg sama menimpa mereka apakah mereka bisa menerima?Teknologi sifatnya membantu agar tidak ada kekecewaan seperti itu lagi. Seandainya tidak ada gol itu,Perancis masih mungkin menang lewat adu pinalti.Itu lebih terhormat.Trims pak atas tanggapannya.

Tulis Tanggapan Anda
Guest User
Search:
IB: Dengan sistem bagi hasil, tabungan denga...
Ajari Aku Berbisnis Syariah
Oleh Syamsun Naha...
Riset Nokia Global: Masyarakat menengah dunia rata-rata punya lima buah ponsel per orang.

Luangkan Waktu Libur untuk Tanah
Apa yang Anda lakukan di hari libur, khususnya Sabtu dan Minggu?
Copyright 2008 - 2009