
Nama :Drs H Muhammad Jusuf Kalla Lahir :Watampone, 15 Mei 1942 Agama :Islam Jabatan Kenegaraan: Wakil Presiden RI (2004-2009) Menko KESRA Kabinet Gotong Royong (2001-2004) MENPERINDAG Kabinet Persatuan Nasional (1999-2000) Pendidikan : Fakultas Ekonomi, Universitas Hasanudin Makasar, 1967 The European Institute of Business Administration Fountainebleu, Prancis (1977) Organisasi 2010 - Sekarang : Chairman Centrist Asia Pacific Democrats International (CAPDI) 2009 - Sekarang : Ketua Umum PMI 2000 - sekarang : Anggota Dewan Penasehat ISEI Pusat 1985 - 1998 : Ketua Umum...
Dibaca: 2148
Komentar: 83
12 dari 25 Kompasianer menilai Menarik
Hari ini 23 mei 2010, saya diundang ke Jakarta Theatre XXI oleh teman saya Bung Deddy Mizwar untuk menyaksikan film hasil karyanya yang berjudul “Alangkah Lucunya Negeri ini”.Saya cukup terkesan dengan film ini, dan boleh dibilang cukup mengharukan, film ini menggambarkan sebagian kita, yang diceritakan dengan gaya humor yang cukup menyentil.
Film yang berdurasi kurang lebih 2 jam ini menceritakan tentang seorang anak Muda yang bernama Muluk, seorang sarjana Ilmu Manajemen yang kesulitan mencari kerja. Setelah sekian lama tidak juga mendapatkan kerja, akhirnya ia bertemu dengan pimpinan pencopet yang diperkenalkan oleh anak kecil yang pernah mencopetnya di pasar. Dengan pimpinan ini Muluk menawarkan kerja sama dalam hal melakukan manajemen pengelolaan keuangan hasil copetan, yang dipotong 10 % untuk dikelola oleh Muluk, untuk dijadikan modal usaha, dan pendidikan bagi anak anak pencopet tersebut.
Di sinilah letak kepiawaian dari Deddy Mizwar yang selalu berhasil merefleksikan masyarakat dan melakukan kritik-kritik sosial melalui film-filmnya. Bagaimana ia bisa mengangkat ketidak adilan yang ada di tengah masyarakat, dan betapa mirisnya kehidupan masyarakat kecil dengan gaya humor.
Menonton film ini membuat saya menertawai diri sendiri, sekaligus merasa bersalah atas beberapa sindiran dalam film tersebut. Sebagai seorang mantan pejabat saya menyadari betapa masih banyak pekerjaan rumah yang belum selesai. Banyak hal yang ternyata masih harus dikerjakan, memperbaiki kehidupan, menegakkan keadilan, dan meskipun sebuah pendidikan penting, tapi yang paling penting adalah bagaimana menerapkan pendidikan itu, agar masyarakat tidak sekedar pintar tapi bagaiamana ia tercerahkan. Bagaimanapun pencopet dan koruptor, pada dasrnya pekerjaan mereka sama saja mengambil sesuatu yang bukan haknya, yang membedakan hanya latar belakang pendidikan saja, untuk itulah pentingnya pendidikan yang bukan hanya mencerdaskan tapi juga bisa mencerahkan.
Terakhir saya mengucapkan Luar Biasa, film ini betul-betul menggambarkan sesuatu hal yang nyata yang terjadi di tengah masyarakat kita. Semoga Bung Deddy Mizwar masih bisa tetap eksis dengan film-filmnya yang selalu dibumbui humor dan kritik-kritik sosial, dan semoga para sineas muda bisa mengikuti jejak langkah beliau, mencerdaskan masyarakat melalui film-filmnya. Jangan para sineas cuman bisa menakut-nakuti masyarakat melalui film-film Hantu, ataupun memperkenalkan budaya Pop yang terlalu didramatisir melalui film cinta cinta anak muda.