Back to Kompasiana
Artikel

Film

Priyantarno Muhammad

abdi negara yang mencoba bepikir sederhana demi kebaikan negara

Film Tentang Cinta dan Beda Agama

OPINI | 03 August 2010 | 12:54 Dibaca: 392   Komentar: 4   1

Lama juga tidak nulis tentang film, akhir-akhir ini saya baru saja menonton dua film, yang semuanya tentang cinta dan perbedaan keyakinan, yakni film cin(t)a dan film 3 hati 2 Dunia 1 Cinta.

JIka memperbandingkan kedua filmnya, dan disuruh milih maka saya sarankan buat nonton film cin(t)a, film ini berkisah tentang seorang lelaki yang dari Sumatera Utara dan etnisnya cina namanya juga cina, dan seorang wanita bernama annisa, mereka kuliah di jurusan arsitektur, Cina adalah juniornya Annisa, dan karena suatu insiden maka dia membantu Annisa menyelesaikan TA (tugas Akhir), karena keakraban mereka jadi cocok dan tanpa mengatakan “aku cinta kamu” mereka jatuh cinta, yang unik dari film ini karena seakan hanya ada 2 orang pemeran yang lain tidak kelihatan wajahnya, kecuali orang2 yang berbicara tentang hubungan beda keyakinan mereka, latar belakang film ini adalan tahun 2000 ketika ada bom malam natal.

Film yang satunya 3 Hati 2 Dunia 1 Cinta, mengisahkan tentang seorang anak keturunan arab yang menentang simbol keagamaan yakni peci putih, oia film ini adaptasi dari novel ‘da peci code”, nah di sini kisah cintanya natural, seorang pria yang ingin jadi seperti rendra jatuh cinta sama wanita katolik yang agamanya keras, cinta mereka jelas di tentang oleh kedua keluarga, namun akhirnya kedua keluarga itu menyerah terhadap tekad anak2 mereka.

Hal yang menarik dari film ini, bahwa mereka semua berakhir aman, dalam artian tidak seperti mimpi seorang dari merekapindah agama lalu menikah atau mereka ke luar negeri dan menikah. Kedua FILM ini walau pun seakan-akan memberi kesan akan berakhir demikian, exp di film cin(t)a begitu banyak kesaksian dari orang2 yang menikah beda agama, dan di film 3 Hati 2 Dunia 1 Cinta, ada adegan dimana delia, membaca buku “MUHAMMAD” dan mengucap assalamu alaikum, namun endingnya tetap saja mereka tidak bersatu yang satunya hanya menjadi teman, yang satunya lagi membiarkan mengalir apa adanya.

Di indonesia mungkin banyak kasus semacam film2 tadi, saya pernah mengalaminya, itu bukan suatau hal yang indah buat dikenang saat semua harus berakhir dengan bijaksana bahwa cinta tidak boleh egois, bahwa cinta bukan hanya tentang aku, kau, tapi juga tentang lingkungan kita, tentang air mata ibu yang melahirkan kita.

Namun semua tentang cinta, adalah hal layak buat dikenang, indah atau tidak tetap saja ada hikmah dan pelajaran disana. :)

tulisan ini dapat pula di baca di www.priyantarno.blogspot.com

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Forest Mind: Menikmati Lukisan di Tengah …

Didik Djunaedi | | 22 October 2014 | 22:20

“Yes, I’m Indonesian” …

Rahmat Hadi | | 22 October 2014 | 10:24

Ayo, Tunjukkan Aksimu untuk Indonesia! …

Kompasiana | | 09 September 2014 | 16:24

Presiden Jokowi Melanggar Hukum? …

Hendra Budiman | | 22 October 2014 | 17:46

Apakah Kamu Pelari? Ceritakan di Sini! …

Kompasiana | | 25 September 2014 | 11:05


TRENDING ARTICLES

Ketika Ruhut Meng-Kick Kwik …

Ali Mustahib Elyas | 10 jam lalu

Antrian di Serobot, Piye Perasaanmu Jal? …

Goezfadli | 10 jam lalu

Mengapa Saya Berkolaborasi Puisi …

Dinda Pertiwi | 11 jam lalu

MH370 Hampir Pasti akan Ditemukan …

Tjiptadinata Effend... | 11 jam lalu

Waspada Scammer di Linkedin, Temanku Salah …

Fey Down | 11 jam lalu


Subscribe and Follow Kompasiana: