Back to Kompasiana
Artikel

Film

Nu Aqisuy

I just AM...@nuaqisuy

Badik Titipan Ayah (Silariang dan Penyelesaiannya dalam Adat Bugis)

OPINI | 03 October 2010 | 00:25 via Mobile Web Dibaca: 2101   Komentar: 3   0

Tadi malam nu nobar bersama ayah,kk ipar dan ponakan,ada kimcy juga (nonton ato tidur,entahlah).
Sebuah film yang jarang2 diputar ditelevisi Indonesia.
‘badik titipan ayah’ yang berkisah tentang perjuangan seorang pemuda bernama Aso dalam menyelesaikan konflik dalam keluarganya yang tentunya sangat kental akan nuansa bugis (inilah yang saya sebut jarang2 ada dalam film2 Indonesia sekarang).
Bermula dari Tenri (adik Aso) yang ’silariang’ karena tak kunjung mendapat restu dari orang tuanya.
Mungkin saya perlu sedikit menjelaskan apa itu ’silariang’.

Setahu saya dalam adat bugis,’silariang’ berarti lari dari rumah ato kawin lari dengan pacar ato kekasih karena tak mendapat restu dari orang tua,tapi dalam adat bugis perbuatan tersebut sangat dikutuk bahkan pelaku ’silariang’ biasanya dibuang ato sudah tidak dianggap alias dicoret dari daftar keluarga bahkan ada kalanya si pelaku silariang itu dibunuh(ngerii).
Perbuatan ’silariang’ sangat appakasiri’ (memalukan) apalagi untuk suku bugis yang dikenal sangat menjunjung tinggi siri’.

Kembali ke film tadi,Aso yang tengah kuliah di Makassar dan sedang menyusun skripsi terpaksa pulang kampung setelah ditelpon oleh tatta (ayah) dan amma (ibu) memberitahukan perihal perbuatan Tenri. Pulang ke kampung,Aso diberikan sebuah badik pusaka keluarga oleh tattanya dan disuruh mencari adiknya.(wahh,pertanda bahaya ini soalnya setahu nu,dalam adat bugis itu ada sebuah kepercayaan jika dalam menyelesaikan suatu masalah sudah melibatkan badik maka pantang kalo gag ada yang berdarah,”sekali badik tercabut,pantang kembali ke dalam sarungnya(tempatnya) jika tidak berdarah”.
Pada akhirnya,kisah ini berujung dengan kepergian tatta dan kembalinya Tenri bersama suami dan anaknya,walaupun pada awalnya hampir terjadi pertumpahan darah saat aso bertemu dengan tenri dan suaminya padahal saat itu jenazah tatta tengah disemayamkan dihadapan mereka berdua (sungguh akhir yang sangat menegangkan dan mengharu biru apalagi pada adegan saat amma(widyawati) meratap di atas jenazah tatta(aspar paturusi),nu beneran nangis liad adegan ini) kisah berakhir dengan perdamaian,tak ada pertumpahan darah,walaupun di endingnya terlihat pelayan setia tatta menusuk pahanya sendiri dengan badik tersebut kemudian memasukkanya kembali ke tempatnya.

Film yang mengambil lokasi di kota Makassar serta di Bira,Bulukumba dan dibintangi oleh Widyawati(amma),Aspar paturusi(atta),Reza Rahadian(aso) dan saya lupa nama pemain yg berperan sebagai tenri,pantas mendapat acungan jempol(bukan karena nu orang bugis lho,tapi emang filmnya bagus beneran) sarat akan adat istiadat yang dijunjung tinggi oleh orang bugis.
Ini tulisan nu yang pertama kalinya ngebahas soal film,moga ada manfaatnya tuk teman kompasioner yang lain,mohon kritik dan sarannya jikalau ada salah kata.
Salam.

Tags: bugis

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Remaja di Moskow Juga Suka Naik ke Atap KRL …

Lidia Putri | | 01 August 2014 | 19:28

Tunjangan Profesi Membunuh Hati Nurani …

Luluk Ismawati | | 01 August 2014 | 14:01

Apakah ‘Emoticon’ Benar-benar Jujur? …

Fandi Sido | | 01 August 2014 | 18:15

Menelusuri Budaya Toleransi di Komplek …

Arif L Hakim | | 01 August 2014 | 18:18

Punya Gaya “Make Up” Menarik? …

Kompasiana | | 09 July 2014 | 00:21


TRENDING ARTICLES

Info Hoax Umar Abuh Masih Disebarkan …

Gatot Swandito | 9 jam lalu

ANTV Segeralah Ganti Nama Menjadi TV India …

Sahroha Lumbanraja | 13 jam lalu

Kader PKS, Mari Belajar Bersama.. …

Sigit Kamseno | 15 jam lalu

Kalah Tanpo Wirang, Menang Tanpo Ngasorake …

Putra Rifandi | 16 jam lalu

Macet di Jakarta Gubernur Disalahkan, …

Amirsyah | 16 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: