Back to Kompasiana
Artikel

Film

Review Film Black Hawk Down

OPINI | 07 October 2010 | 11:28 Dibaca: 2422   Komentar: 1   2

Review Film Black Hawk Down

Black Hawk Down

Black Hawk Down

Pada tahun 1991 terjadi perang yang membawa kehancuran terhadap pertanian di Somalia. Perang ini dilator belakangi adanya rezim dictator dari kelompok pemberontak yang menguasai sector-sektor signifikan Somalia. Seperti misalnya bantuan asing dari PBB, perekonomian, dan juga pemerintahan. Bantuan PBB berbentuk bantuan pangan. Karena para pemberontak menguasai bantuan tersebut, maka para rakyat mau tidak mau harus mengikuti perintah dari rezim pemberontak jika ingin mengakhiri kelaparan mereka. Yang pada akhirnya akan menyebabkan kelaparan besar di Negara bagian. Lalu masyarakat internasional mulai mengirimkan makanan kepada orang-orang yang menderita kelaparan. Tetapi lebih dari 80 persen dari makanan yang dicuri. Dan Di perkirakan hingga 300.000 orang meninggal akibat kelaparan dan 1.5 juta orang menderita.

AS yang bertindak sebagai dewan keamanan PBB mengambil tindakan dengan megirimkan pasukannya (PKO-AS) untuk mengendalikan situasi Somalia agar tidak semakin kacau dan meluas. Akan tetapi, karena situasi pangan yang kritis, maka tentara-tentara AS pun turut megalamai kelaparan.

Pada tahun 1993 Amerika mengirimkan 150 pasukan prajurit yang dipimpin oleh Mayor Jenderal William F. Garrison yang terbagi menjadi dua pasukan yaitu Delta Force dan US Army Rangers menuju pasar Baakara di Mogadishu yang merupakan ibukota dari Somalia pada kritis misi yang terdiri dari 19 pesawat dan 12 kendaraan. Mereka dikirimkan untuk menangkap laksamana kekerasan rezim Muhammad Farrah Aidid dan letnan-letnan besar pengikutnya yang korup yang telah mengakibatkan kelaparan di Somalia.

Dengan pengiriman pasukan AS, maka masyarakat Somalia menilai AS terlalu ikut campur dalam pemerintahan Somalia. Karena itulah pemberontak menarik/ mencuri stok bantuan pangan yang dikirimkan oleh PBB agar posisi AS berada dalam kondisi kritis dan diharapkan dapat keluar dari wilayah Somalia. Selain itu, pemberontak juga melakukan tindakan kekerasan terhadap pasukan AS, serta melakukan aksi penculikan.

Datang dengan tekad yang mulia, para prajurit dengan seksama mempersiapkan rencana mereka. Tapi kenyataanya rencana mereka gagal total, operasi yang dijadwalkan berlangsung hanya 30 menit saja berlangsung menjadi 18 jam. Misi yang semula dianggap enteng ini berujung menjadi bentrokan yang tak terhindarkan. Semula semua berjalan lancar sampai pada akhirnya milisi memergoki keberadaan tentara Amerika dan memobilisasi masyarakat awam untuk melawan.

Perlawanan yang dilakukan oleh pemberontak Somalia, membuahkan hasil. Mereka berhasil menjatuhkan 2 buah pesawat tempur AS, menembak mati dan menculik beberapa pasukan, dsb. Dapat dikatakan pasukan elite AS berhasil tunduk terhadap serangan yang dilakukan masyarakat Somalia yang notabene sebagai rakyat sipil biasa. Dengan kalahnya pasukan AS, maka secara langsung gengsi tentara AS mengalami keterpurukan. Dengan begitu Presiden Clinton memutuskan untuk menarik mundur pasukan AS dan mengirim negosiator untuk membebaskan tawanan perang yaitu pilot dari Black Hawk Down. AS tidak melakukan perlawanan atas aksi tentara pemberontak Somalia karena mental AS sangat terpukul karena pasukan elit sudah dikalahkan oleh pemberontak Somalia yang tidak pernah menjalani pelatihan khusus seprti yang dijalani tentara AS.Dunia sangat menyayangkan atas campur tangan AS yang sudah terlalu jauh terhadap Somalia.

Peistiwa ini menyebabkan delapan belas orang pasukan AS tewas,dan tujuh puluh tiga orang luka berat,dan lebih dari lima ratus pasukan Somalia tewas dalam konflik tersebut.

Bagaimanapun, Sebuah kehilangan kecil bagi negara adidaya semacam Amerika adalah tamparan keras, apalagi terjadi di wilayah konflik negara ketiga semacam Somalia. Peristiwa di Somalia memicu revisi kebijakan militer luar negeri Amerika Serikat di bawah Presiden Clinton setelah insiden Mogadishu.

Kekuatan militer Amerika untuk menangani konflik-konflik militer di negara ketiga (baik tergabung dalam PBB atau NATO) difokuskan kepada penggunaan artileri dan patroli udara, dibanding mengerahkan tenaga infanteri. Pengiriman batalyon udara untuk menengahi krisis Balkan di 1995 (Bosnia) dan 1999 (Kosovo) adalah bukti bahwa insiden Mogadishu memegang peranan penting dalam kebijakan luar negeri Amerika Serikat. 18 korban tentara AS mungkin tidak sebanding bagi 500 rakyat Somalia. Tetapi dampaknya cukup signifikan bagi perubahan peta politik dunia

Dengan peristiwa Black Hawk Down, maka dapat dilihat seberapa jauh efek atau dampak dari peperangan. Perang terkadang dibutuhkan untuk mempertahankan keamanan negara dan menunjukkan power terhadap dunia lain. Akan tetapi perang tetap memiliki dampak negative yang sangat banyak dan buruk, dan bukan merupakan suatu solusi atau jalan keluar yang baik.

Perang dapat digunakan sebagai struggle of power dari suatu negara. Sejak dulu, negara yang menang dalam peperangan maka posisinya menjadi sangat diperhitungkan dalam masyarakat dunia. Untuk memenangkan suatu perang, maka yang dibutuhkan adalah kekuatan militer yang di dukung oleh kemajuan teknologi dalam persenjataan dan transportasi. Untuk mencapai hal tersebut maka anggaran rumah tangga suatu negara harus besar. Padahal, anggaran yang besar tidak hanya diperlukan untuk peningkatan keamanan saja. Masih banyak hal lain yang dapat terpenuhi dengan anggaran yang besarnya sama dengan anggaran yang dibutuhkan untuk pertahanan militer. Hal-hal tersebut antara lain ialah mutu pendidikan, kesehatan masyarakat, serta fasilitas umum lainnya.

Perang sudah tidak cocok lagi dilakukan dalam dunia hubungan internasional yang modern. Masalah kehidupan manusia yang semakin kompleks membutuhkan perhatian yang cukup besar. Suatu Negara jangan hanya memikirkan cara koservatif saja seperti perang yang memerlukan biaya yang sangat besar, tetapi harus mulai memperhatikan hal-hal lainnya yang dapat diraih dengan cara yang lebih ramah seperti negosiasi, dsb. Usaha ini lebih ramah dalam berbagai sisi. Dan lebih mempunyai hati nurani dibandingkan dengan perang.

Film amerika itu hampir semua mewakili militer amerika sendiri pada masyarakat umumnya. Film itu memiliki daya pikat yang cukup besar. Perwakilan hagemoni amerika di dalam dan luar memiliki potensi besar untuk mewakili berabagai dimensi, baik itu politik, ekonomi dan militer. Dalam film black hawk down ini yang ditonjolkan yaitu dimensi militer.

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Bertemu Dua Pustakawan Berprestasi Terbaik …

Gapey Sandy | | 30 October 2014 | 17:18

Asiknya Berbagi Cerita Wisata di Kompasiana …

Agoeng Widodo | | 30 October 2014 | 15:40

[YOGYAKARTA] Daftar Online Nangkring bersama …

Kompasiana | | 02 October 2014 | 11:06

Paling Tidak Inilah Kenapa Orangutan …

Petrus Kanisius | | 30 October 2014 | 14:40

Inilah Daftar Narasumber yang Siap Beraksi …

Kompasiana | | 20 October 2014 | 15:40


TRENDING ARTICLES

Pramono Anung Menjadi Satu-satunya Anggota …

Sang Pujangga | 5 jam lalu

Mba, Pengungsi Sinabung Tak Butuh …

Rizal Amri | 8 jam lalu

Muhammad Arsyad Tukang Sate Luar Biasa, Maka …

Opa Jappy | 11 jam lalu

DPR Memalukan dan Menjijikan Kabinet Kerja …

Sang Pujangga | 11 jam lalu

Pemerintahan Para Saudagar …

Isk_harun | 11 jam lalu


HIGHLIGHT

Jangan Biarkan Anak Mengerjakan PR Sendiri …

Guntur Cahyono | 8 jam lalu

Review “Mobius” Thiller atau Drama …

Irvan Sjafari | 8 jam lalu

Hujan dan Rinduku …

Redha Wahyu Pradana | 8 jam lalu

Pemuda Dambaan Umat …

Neti Nurhayati | 9 jam lalu

Peneliti Ternak Temukan Pakan Unggas …

Patar Uddin | 9 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: