Back to Kompasiana
Artikel

Film

Arabayah

lahir dan besar di bayah...SMA, kuliah, dan kerja di Bogor..saya cinta menulis...

Shaolin: Lebih Dari Sekedar Film Kungfu

OPINI | 04 February 2011 | 12:29 Dibaca: 707   Komentar: 5   1

1296822875263200853

Saya selalu mendapat energi lebih untuk menonton ketika film mandarin dengan latar dunia persilatan, rilis ke pasaran. Maklum sejak kecil, saya sudah kadung jatuh cinta dengan film bergenre serupa ini. Referensi awalnya adalah film kolosal produksi dalam negeri ‘Saur Sepuh’. Kemudian minat itu berkembang dengan cepat ketika menyaksikan film-film kolosal produksi sineas Hongkong. Ada garansi, saya akan menyaksikan adegan-adegan perkelahian yang dahsyat sekaligus indah.

Maka ingatan ini selalu terpaut pada serial ‘Kembalinya Pendekar Rajawali’ sampai film karya Ang Lee yang menembus Oscar, ‘Crouching Tiger, Hidden Dragon’. Khusus film ini, saya begitu takjub dengan adegan perkelahian di atas daun pohon bambu. Adegan itu terekam begitu lembut, mematikan, sekaligus indah. Salah satu aksi perkelahian di film kolosal yang bagi saya sungguh tak terlupakan.

Hasrat itu masih besar ketika saya memutuskan untuk menonton film ‘Shaolin’. Terlebih ada dua nama besar bintang Asia terlibat di dalamnya. Andy Lau dan Jacky Chan (meskipun hanya tampil dengan porsi yang tak banyak-red) adalah dua nama besar yang saya maksud. Jadilah semangat menonton itu menguat meskipun harus menonton di pertunjukkan terakhir.

Dan rasanya, harapan untuk menyaksikan aksi laga khas film silat mandarin, terpenuhi dengan baik. Meskipun tidak tampil dengan adegan perkelahian indah seperti halnya ‘Crouching Tiger, Hidden Dragon’ atau ‘Hero’-nya Zhang Zhimou, ‘Shaolin’ tetap menyuguhkan adegan-adegan perkelahian menantang nan menarik. Sejumlah jurus-jurus Kung Fu Shaolin tergambar dengan baik sepanjang film. Penggambarannya berhasil menambah rasa cinta saya terhadap film-film dengan genre sejenis sambil berharap sineas lokal mau melakukan hal serupa; membuat film silat kolosal.

Dari jalinan cerita, penulis skenario dan sang sutradara tampaknya kompak untuk tidak sekedar mengajak penonton terkagum dengan adegan-adegan perkelahian sepanjang film. Lebih dari itu, mereka tampaknya ingin mengajak penonton merenung dan memperoleh pencerahan selepas menonton ‘Shaolin’. Meskipun, lagi-lagi semua disampaikan dalam formula umum film-film mandarin; pengkhiatan dan dendam.

Adalah sosok panglima perang Hau Jie (Andy Lau) yang kisah hidupnya sepanjang film mengajak penonton berpikir ulang tentang ambisi, nasionalisme, dan makna hidup. Di awal film, ia adalah sosok panglima perang dengan sejuta ambisi. Tak ada yang tabu untuk dilakukannya untuk meraih sebuah ambisi. Tak terkecuali melakukan pembunuhan di Kuil Shaolin. Di balik ambisinya, Hau Jie adalah ayah yang penyayang bagai anaknya. Sang panglima perang pun menyimpan semangat nasionalisme untuk negerinya, China. Potret ini tergambar ketika ia menolak mentah-mentah usul tentara asing untuk menukar pembangunan rel kereta di provinsinya dengan penjualan senjata (semangat yang mudah-mudahan diserap baik-baik oleh para politisi negeri ini).

Arah hidup seorang Hau Jie berubah 180 derajat ketika ia dikhianati orang kepercayaannya Mao Can (Nicholas Tse). Pengkhiatan ini berakibat sang panglima perang harus kehilangan pengaruhnya. Kehilangan terbesar tentu saja ketika ia menyadari sang buah hati harus meregang nyawa karenanya. Di antara kehilangan itu, ia memutuskan untuk menjadi seorang bhiksu. Sebuah titik balik kehidupan yang demikian dramatis karena sebelumnya Hau Jie adalah panglima perang yang memusuhi kuil Shaolin.

Di kuil yang pernah dibuat onarnya itu, Hau Jie memperoleh banyak pencerahan. Tak terkecuali semangat untuk memaafkan dan berbuat kebajikan terhadap sesama. Jadilah bersama murid-murid Shaolin yang lain, ia menjadi panglima perang sesungguhnya. Menjadi pelindung masyarakat lemah dari penguasa pandir yang juga mantan orang kepercayaannya, Mao Can.

Dan sebagai penonton, saya bisa keluar dari studio dengan senyum mengembang. Karena hasrat menyaksikan aksi silat yang keren mendapatkan tambahan bonus berupa jalinan cerita yang mengesankan dan mencerahkan dari film ‘Shaolin’. ARW

Tags: shaolin review

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Kisah Haji Warto tentang Lumpur Lapindo …

Windu Andhika | | 17 April 2014 | 14:58

Introspeksi Pascapemilu (Kado buat Caleg …

Nurjanah Nitura | | 17 April 2014 | 11:14

Tahan Nafas di Kereta Gantung Ngong Ping …

Eddy Roesdiono | | 17 April 2014 | 15:42

Parkir Sebabkan PAD Bocor …

Eta Rahayu | | 17 April 2014 | 14:54

Inilah Pemenang Kompasiana - ISIC 2014 Blog …

Kompasiana | | 17 April 2014 | 15:52


TRENDING ARTICLES

Meski Tak Punya Ijin, JIS Berani Menolak …

Ira Oemar | 6 jam lalu

Agar Tidak Menyusahkan di Masa Tua …

Ifani | 14 jam lalu

Menguji Nyali Jokowi; “Say No to …

Ellen Maringka | 14 jam lalu

Dinda, Are You Okay? …

Dewi Nurbaiti | 14 jam lalu

Pelajaran Mengenai Komentar Pedas Dinda …

Meyliska Padondan | 15 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: