Back to Kompasiana
Artikel

Film

Laura Ariestiyanty

Writer, Content Editor (www.laurakhalida.com @laurakhalida) dan Media Relations www.irmarahayu.com

Pelajaran dari Film The King’s Speech

OPINI | 18 March 2011 | 17:36 Dibaca: 2348   Komentar: 16   3

13004228671315446566

My castle my rule,” ujar Lionel Louge, seorang terapis bicara kepada Prince Albert, The Duke of York (julukan King George VI sebelum menjadi raja) yang ingin menyembuhkan kegagapannya. Meskipun pasiennya seorang pangeran, Lionel tak sungkan melarangnya merokok di ruang prakteknya.

Diangkat dari kisah nyata, film The King’s Speech berkisah tentang King Geoge VI (ayah dari Queen Elizabeth II, neneknya mantan gw si Prince William) yang gagap dan tertekan karena harus menjadi raja. Ketika ayahnya, King George V meninggal, sebenarnya David, The prince of Wales, kakak kandung Albert yang menjadi raja, namun karena terlibat skandal dengan seorang wanita, David harus mengawini wanita tersebut dan menyerahkan tahta pada Albert.

Namun sejak empat tahun sebelumnya, Albert terserang penyakit gagap. Sulit sekali baginya untuk bicara di depan umum. Berbagai terapis didatangkan ke istana untuk mengobatinya, namun tidak ada yang cocok dengan Bertie (panggilan sayang Albert di kalangan keluarga) yang temperamen.

Hingga suatu ketika, Elizabeth, istri Bertie menemukan Lionel Louge yang mengaku sebagai seorang dokter dan meminta tolong untuk menerapi suaminya. Lionel yang memiliki sikap asertif bersedia menerima Albert, asal terapi dilakukan di ruangan praktiknya.

Di sinilah konflik dan pertentangan antara Lionel dan Bertie terjadi. Sebagai pangeran, Bertie merasa memiliki harga diri yang tinggi, tentu ia tak mau disuruh atau dilarang, sementara Lionel tak peduli apa latar belakang sang pasien, kalau mau diterapi maka harus mengikuti caranya.

Bahkan Albert awalnya tersinggung sewaktu Lionel memaksa menyapanya dengan ‘Bertie’. “Itu panggilan di keluargaku…” katanya. Tapi Lionel keukeuh. Ia bahkan menjanjikan Bertie takkan gagap lagi setelah berobat kepadanya. Pada hari pertama terapi, Lionel memberikan buku berisi naskah Hamlet ‘To be or not to be’. Pada awalnya Bertie gagap membacanya, namun kemudian, Lionel menyerahkan headphone untuk dipasangkan di telinga Bertie dan diputarkan musik Mozart ‘The Marriage of Figaro’.

1300422913256253074

“Bagaimana mungkin aku bisa membaca ini sementara telingaku mendengarkan musik?” tanya Bertie yang merasa sangsi.

“Otakmu akan mengetahui apa yang dilakukan mulutmu…” jawab Lionel.

Kendati ragu, Bertie menurut. Sementara telinganya mendengarkan musik Mozart melalui headphone, mulutnya membaca Hamlet dan direkam oleh Lionel. Namun belum selesai dibaca, Bertie marah dan memutuskan pulang.

“Tunggu,” kata Lionel yang lalu menyerahkan piringan hitam rekaman suara Bertie, “Rekamannya gratis…”

Bertie sudah memutuskan takkan lagi berobat pada Lionel, tetapi ketika di rumah ia mendengarkan rekaman piringan hitam itu, ia dan Elizabeth terkejut, karena Bertie bisa membaca dengan lancar. “Gagap tidak datang tiba-tiba… pasti ada proses psikologis yang mendahuluinya,” mereka teringat analisa Lionel.

Akhirnya dengan merendahkan hati Bertie bersedia meneruskan terapi dengan Lionel. Cara yang dilakukan Lionel memang unik. Ia tidak hanya fokus pada kemampuan bicara dan membaca Bertie, tapi Bertie dibimbingnya katarsis untuk mengalirkan emosi negatifnya yang terpendam selama ini. Sebagai seorang pangeran (kemudian menjadi raja) tentu Bertie banyak bersinggungan dengan protokol dan peraturan.

Bahkan ketika kecil Bertie menunjukkan bakat kidal, ia diperintahkan untuk menggunakan tangan kanan demi kesopanan. Bertie pun terlatih untuk menjaga sikap dan image (jaim gwetooh, jiyaah keluar dodol gw), sehingga ketika sesi terapi tiba dan Bertie merasa kesal kemudian memaki, Lionel mempersilahkannya meneruskan ceracaunya itu. Bahkan 40 menit sebelum pidato tentang perang Inggris terhadap Jerman (tidak setuju atas sikap Hitler) pada September 1939, Bertie berlatih pidato 9 menit dengan Lionel, dan di sana ia memaki, sampai berdansa tanggo dan walz segala untuk mengusir ketegangan.

Ketika waktu pidato tiba, ia hanya berhadapan dengan micophone yang disiarkan ke seluruh Inggris. Dalam ruangan itu hanya ada Lionel dan Bertie, “Ayo Bertie… anggaplah kau membaca hanya untukku…” Lionel menenangkannya. Akhirnya pidato tersebut berjalan cukup lancar, walau di awal Bertie sempat gugup.

“Kau masih gugup di huruf W,” kata Lionel.

“Tidak apa… justru aku harus memasukan W itu, supaya rakyatku tahu itu aku…” candanya.

Sejak itu mereka bersahabat, bahkan ketika Bertie dan pihak istana tahu kalau Lionel tidak punya gelar dokter, tapi hanya seorang purnawirawan perang yang memiliki keahlian menerapi orang bicara, kendati marah, Berti tetap mempertahankan posisinya sebagai terapis pribadinya.

Mereka bersahabat hingga akhir hayat, dan Lionel pun diangkat menjadi a Commander of the Royal Victorian Order pada tahun 1944.

1300422947388646647

Pelajaran buat saya ialah *ambil napassss* untuk berani bersikap kepada siapa pun. Sungguh saya salut pada Lionel yang nggak memandang latar belakang orang di depannya, kalau benar ya katakan benar, salah ya salah Sementara saya orangnya nggak enakan. Wadoooh repot deh kalau nggak enakan. Yang ada bilang “ya” atau “tidak” dengan seribu pedih di hati *lebay*. Makanya dari film ini saya belajar banyak.  Sementara teman saya yang seorang coach dan therapist NLP, sangat merekomendasi untuk belajar melalui film ini tentang cara berkomunikasi antara klien dan terapis.

Film ini dibintangi oleh Colin Firth (Bertie/King George VI), Guy Pearce (David), King George V (Michael Gambon), Helena Bonham Carter (Elizabeth) dan disutradarai olehTom Hooper. Dan meraih penghargaan Academy Award sebagai Best Picture, Best Actor, Best Director, Best Original Screenplay.

Sumber gambar:

http://2.bp.blogspot.com/-aLJZVsO-WNE/TWtHMZYLJGI/AAAAAAAAAIQ/z9R1Bt7hCoQ/s1600/Film%2BThe%2BKings%2BSpeech%2B2010.jpg

http://filmonic.com/wp-content/uploads/2010/11/The-Kings-Speech-Filmonic.jpg

http://daenggassing.com/wp-content/uploads/2011/03/the-kings-speech.jpg

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

“Petualangan Anak Indonesia” …

Tjiptadinata Effend... | | 31 August 2014 | 11:15

Penghasilan Ideal Penulis Indonesia, Berapa? …

Bambang Trim | | 31 August 2014 | 12:37

Asyiknya Belajar dengan Mind Map …

Majawati Oen | | 31 August 2014 | 11:24

Senja Kala Laut Mati …

Andre Jayaprana | | 31 August 2014 | 13:15

Blog Competition Smartfren: Andromax yang …

Kompasiana | | 18 August 2014 | 20:22


TRENDING ARTICLES

Sisi Lain Kasus Florence Sihombing …

Yeano Andhika | 3 jam lalu

Jokowi Melakukan Kebodohan Politik Besar? …

Daniel Yonathan Mis... | 6 jam lalu

Jokowi Tidak Tahan Lama …

Kokoro ? | 8 jam lalu

Usulan Hebat Buat Jokowi-Prabowo Untuk …

Rahmad Agus Koto | 10 jam lalu

Oknum PNS Memiliki Rekening Gendut 1,3 T …

Hendrik Riyanto | 10 jam lalu


HIGHLIGHT

Mudahnya Membelah Cologne Dalam Hitungan …

Gaganawati | 8 jam lalu

Ahmad Hanafi Rais, Embrio Regenerasi …

Adrianus Malaloi | 9 jam lalu

Pemanasan Global dan Perubahan Keseimbangan …

Dino Fitriza | 9 jam lalu

Berjodoh, Ditangan atau Kehendak Tuhan? …

Lindung Pardede | 9 jam lalu

Hukumlah Florence di Media Sosial, Jangan …

Jonminofri Nazir | 9 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: