Back to Kompasiana
Artikel

Film

Rangga Presastyo

Bagi saya buku karangan Nurcholish Madjid adalah bacaan wajib

Sekelumit tentang Film Tanda Tanya

OPINI | 21 April 2011 | 03:01 Dibaca: 284   Komentar: 6   0

Beberapa hari ke belakang kita dihebohkan oleh sebuah film karya Hanung Bramantyo yang berjudul “?” (baca: tanda tanya). Film yang mengisahkan kehidupan beragama di sebuah kota di propinsi jawa tengah itu dinilai sebagian orang mencederai citra agama tertentu. Berbagai reaksi pun bermunculan, mulai dari kecaman hingga pujian. Semuanya mengalir begitu deras di media massa maupun jejaring sosial.

Saya baru saja berkesempatan menonton film tersebut setelah sebelumnya keinginan itu sempat tertunda beberapa kali. Semua adegan saya perhatikan dengan seksama mulai dari latar, dialog tokoh, hingga pesan yang ingin disampaikan. Banyak hal yang patut diapresiasi dari film tersebut, diantaranya adalah sikap saling menghargai antar pemeluk agama dan keberanian menyatakan sikap sesuai dengan hati nurani. Di film tersebut dijelaskan dengan begitu detail bagaimana umat beragama berinteraksi satu sama lain baik interaksi positif berupa penghargaan pada ritual ibadah masing-masing maupun interaksi negatif berupa prasangka yang berujung pada tindak kekerasan. Semua disajikan dengan begitu natural.

Ada beberapa adegan yang konon menimbulkan letupan-letupan di kalangan agamawan. Pertama adalah soal kemurtadan tokoh bernama Rika dari Islam, kedua keberanian tokoh bernama Suryo yang notabene beragama Islam untuk memerankan sosok Yesus Kristus dan Sinterklas, ketiga keikhlasan tokoh muslimah bernama Menuk untuk bekerja di restoran Cina yang menyajikan daging babi pada menu makanannya.

Khususnya masalah kemurtadan tokoh bernama Rika inilah yang paling mendapat sorotan para agamawan, bagi mereka murtad itu bukanlah hal sepele melainkan persoalan serius yang bisa menyebabkan pelakunya dihukum mati. Memang betul ada sebagian ahli fikih yang berpendapat bahwa orang murtad harus dihukum mati berdasarkan sebuah hadits Rasulullah SAW, tetapi hal tersebut perlu ditinjau kembali mengingat Al-Qur’an dalam berbagai ayatnya memberikan kebebasan penuh kepada manusia untuk masalah agama. Ayat-ayat tersebut diantaranya adalah:

“Tidak ada paksaan untuk agama sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat.” [QS. Al-Baqarah (2): 256].

Dan katakanlah: “Kebenaran itu datangnya dari Tuhanmu; maka barangsiapa yang ingin (beriman) hendaklah ia beriman, dan barangsiapa yang ingin (kafir) biarlah ia kafir.” [QS. Al-Kahfi (18): 29].

Dan jikalau Tuhanmu menghendaki, tentulah beriman semua orang yang di muka bumi seluruhnya. Maka apakah kamu (hendak) memaksa manusia supaya mereka menjadi orang-orang yang beriman semuanya? [QS. Yunus (10): 99].

Pun dengan keberanian tokoh bernama Suryo untuk memerankan sosok Yesus Kristus dan Sinterklas tak luput dari kecaman para agamawan. Mereka menilai tindakan tersebut sebagai sebentuk dukungan pada keyakinan umat Kristiani meskipun di film itu ditegaskan bahwa tindakan tersebut semata-mata dilakukan karena profesionalitas belaka tanpa meyakini apa yang diperankannya. Al-Qur’an sendiri tidak melarang umat Islam untuk berbuat baik kepada orang non-muslim sepanjang mereka tidak memusuhi dan memerangi.

Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil. [QS. Al-Mumtahanah (60): 8].

Mengapa harus meributkan tindakan yang hanya ada pada sebuah film? Bukankah di sinetron dan film lain pun sering dijumpai pemain yang beragama Kristen memerankan adegan shalat dan puasa? Bahkan jika bulan Ramadhan tiba kita sering menjumpai artis-artis non-muslim berpakaian ala muslim di setiap acara sahur. Mengapa hal tersebut tidak dikecam dan dibiarkan begitu saja, padahal jika memakai kerangka berpikir agamawan tindakan tersebut dapat dianggap melecehkan ajaran agama tertentu dan merusak keimanan seseorang.

Terakhir persoalan tokoh Menuk sebagai seorang muslimah yang bekerja di restoran yang menyajikan daging babi pun turut dipersoalkan. Sebagai muslim saya seratus persen yakin bahwa babi memang haram untuk dimakan karena jelas tertulis di dalam Al-Qur’an. Tetapi di film tersebut tidak ada satu pun adegan bahwa orang Islam makan babi, ada pun penyebab meruginya restoran di bulan Ramadhan adalah karena mayoritas penduduk disana adalah muslim sehingga praktis mereka tidak makan hingga waktu berbuka puasa tiba. Pun ditegaskan bahwa peralatan memasaknya sudah dipisahkan sedemikian rupa antara yang dipakai untuk memasak babi dengan yang bukan babi. Jadi jelas tokoh Menuk yang digambarkan sebagai seorang muslimah taat tidak perlu menanggalkan keyakinannya tentang keharaman babi.

Sebagaimana dikatakan Ibnu Khaldun bahwa wilayah yang majemuk memang rawan akan prasangka sosial. Berangkat dari sinilah sudah sewajarnya sebagai orang yang hidup di wilayah yang majemuk untuk terbuka pada setiap perbedaan pendapat, pemikiran, maupun pilihan keyakinan sepanjang tidak menodai keyakinan orang lain sehingga tercipta lah iklim dialog dan pergaulan yang sehat dan jauh dari ketegangan-ketegangan.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

[Pileg] Pertarungan antar “Kontraktor …

Syukri Muhammad Syu... | | 23 April 2014 | 22:57

Sebenarnya, Berapa Sih Jumlah Caleg Gagal di …

Politik 14 | | 23 April 2014 | 14:46

Ini yang Penting Diperjelas sebelum Menikah …

Ellen Maringka | | 23 April 2014 | 13:06

Bumiku Sayang, Bumiku Malang …

Puri Areta | | 23 April 2014 | 16:46

Kompasiana Menjadi Sorotan Pers Dunia …

Nurul | | 22 April 2014 | 19:06


TRENDING ARTICLES

Salah Kasih Uang, Teller Bank Menangis di …

Jonatan Sara | 8 jam lalu

Hotman Paris Hutapea dan Lydia Freyani …

Zal Adri | 20 jam lalu

Jokowi, Prabowo, dan Kurusetra Internet …

Yusran Darmawan | 22 jam lalu

Wuih.. Pedofilia Internasional Ternyata …

Ethan Hunt | 22 jam lalu

Bukan Hanya BCA yang Menggelapkan Pajak …

Pakde Kartono | 23 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: