Back to Kompasiana
Artikel

Film

Bung Kusan

Penyuka jalan-jalan, sejarah, dan budaya - penikmat kuliner, buku, dan transportasi umum - pemerhati tv, selengkapnya

Catatan Si Boy: Tak Ada yang Bisa Menggantikan Ongky Alexander

REP | 19 June 2011 | 23:03 Dibaca: 8048   Komentar: 6   1

Mereka yang lahir di era 80-an pasti mengenal ikon bernama si Boy. Sebelum diangkat ke layar lebar, tokoh ini memang “cuma” idola bagi para pendengar radio Prambors yang saat itu bermarkas di jalan Borobudur, Jakarta Pusat. Namun begitu diangkat ke film oleh Sutradara Nasri Cheppy, Catatan Si Boy menjadi film box office dan ikon remaja tahun 80-an.

Menurut Malik Sjafei Saleh –salah satu pendiri radio Prambors-, cikal bakal Catatan Si Boy yang akrab disingkat Cabo, berasal dari sandiwara radio. Sandiwara ini gabungan dari dua program yang sudah ada, yakni Playboy Kabel dan Diari.

Konsep Playboy Kabel adalah mempertemukan dua orang (pria dan wanita) yang tidak saling mengenal lewat telepon. Ya, semacam kontak jodoh begitulah. Sedangkan konsep Diari adalah catatan hasil kiriman pendengar radio Prambors, dimana berasal dari kisah nyata maupun imajinasi.

“Dari dua program tersebut kami terpikir untuk membuat sandiwara berbasis diari,” papar Malik yang kini menjabat sebagai CEO Masima, grup radio, dimana salah satunya radio Prambors, seperti penulis kutip dari Femina No 23/17 Juni 2011. “Dari situlah timbul ide membuat Catatan Si Boy”.

Selama 4 jam, setiap Kamis pukul 22:00-24:00 wib, Cabo mengisi program di radio Prambors. Tak perlu waktu lama, Catatan Si Boy menjadi program favorit pendengar atau waktu itu istilahnya trandsetter. Menurut Malik, salah satu daya tarik acara ini, karena isi dari dairi Si Boy adalah menceritakan kejadian-kejadian seputar Jakarta. Beberapa kejadian berasal dari kisah nyata. Misalnya, ada kompetisi basket antar-SMU, dibuatkan kisah Boy nonton kompetisi basket tersebut. Inilah yang membuat sandiwara Cabo menjadi “hidup”, benar-benar nyata.

“Konsep Catatan Si Boy memang theater of mind,” tambah Malik. Maksudnya, para pendengar seperti merasa dekat dengan Boy. Mereka membayangkan, Si Boy benar-benar ada di sekitar mereka.

Cara mendekatkan diri pada event-event yang ada ternyata sangat berpengaruh terhadap pendengar. Tak heran, setiap kali ada event yang melibatkan anak muda Jakarta, kru radio Prambors selalu diundang. Ketika kru Prambors datang, biasanya berkenalan dengan beberapa orang dan orang-orang yang diajak kenalan itu menjadi bagian cerita.

Selain konsep theater of mind tersebut, yang tak bisa dikesampingkan adalah sosok Marwan Alkatiry dan Edi Pribadi (Epri). Marwan adalah penulis skenario sandiwara Cabo ini, yang kebetulan sebelumnya ia juga pengasuh acara Playboy Kabel. Sementara Epri adalah sutradara dan pengisi suara Si Boy di radio.

13085025011996499393

Kesuksesan Cabo membuat Marwan dan teman-temannya di Prambors punya ide memfilmkan sandiwara radio ini. Mereka mengajak kerjasama Nasri Cheppy (meninggal 19 Desember 2010). Gayung bersambut. Cheppy suka dengan kisah Cabo dan menjual cerita ini ke Bola Dunia Pictures.

“Kita sempat ditolak Bola Dunia, karena mereka maunya memunculkan pemain-pemain yang sudah ngetop. Padahal, kita maunya pemain baru, karena yang sudah tenar pasti sudah punya image,” ujar Marwan seperti dikutip Warta Kota (2 Mei 2010).

Meski Produser sempat ketar-ketir memasang nama-nama baru seperti Ongky Alexander. Dede Yusuf, dan Btari Kadinda, namun akhirnya film Cabo diproduksi juga pada tahun 1987. Ketika pemutaran perdana, Marwan dan Ongky sempat nonton bareng, kebetulan nonton midnight show. “Nggak nyangka! Ngantre!” kenang mantan announcer creative Prambors ini .

Film Cabo sukses. Menurut data Perfin tahun 1987, Cabo menjadi film terlaris dengan angka 313.516 penonton. Gara-gara film ini, hampir muda kota besar mengikuti gaya si Boy, termasuk menggantungkan tasbih di kaca spion dalam mobil. Meski belum tentu sholat, saat itu tasbih di spion menjadi atribut wajib anak muda kota besar. Bagi mereka kaum the have, kendaraan si Boy bermerek BMW pun juga dibeli. Boy benar-benar menjadi brand.

Sementara itu para pemainnya: Ongky, Didi Petet, Dede Yusuf, Le Roy Osman, (alm) Ida Kusuma jadi tenar dan kebanjiran job main film. Ongky misalnya. Ia diajak main oleh Cheppy di film Namaku Joe bersama (alm) Ryan Hidayat dan Tio Pakusadewo.

Boy menjadi identitas baru yang era 80-an dianggap mengalami kriris. Banyak ikon yang dijadikan panutan kawula muda dalam pencarian identitas di masa itu. Sosok Boy memang layak dikagumi. Bagaimana tidak, Boy digambarkan sebagai sosok pria ganteng, anak orang kaya yang cerdas, dan rajin shalat pula. Pribadi yang nyaris sempurna. Coba wanita mana yang tidak jatuh hati padanya?

“Sebenarnya Cabo dibuat untuk meng-counter Leila S. Chudori, ujar Marwan. Leila yang dimaksud tak lain adalah temannya Marwan sewaktu di Prambors yang belakangan dikenal sebagai aktivis perempuan, dan feminis. “Dia (Leila-pen) bikin karakter perempuan itu kuat dan menganggap semua laki-laki itu bajingan. Nah saya bikin versi counter attack-nya, bahwa laki-laki itu baik, ya lewat karakter si Boy. Eh, lucunya Cabo malah disuka”.

Kesuksesan film itu pula yang membuat sang Produser melanjutkan ke sekuel Cabo berikutnya yang dipeoduksi pada tahun 1988, 1989, dan terakhir 1990. Pada 1988, film Cabo meraih penghargaan di Festival Film Indonesia (FFI) untuk kategori penyutradaraan terbaik (Nasri), dan Tata Musik Terbaik (Dodo Zakaria alm), serta Piala Citra 1990 di kategori Tata Sinematografi Terbaik (Harry Susanto).

Setelah sekuel Cabo yang diproduksi tahun 1990, tak ada lagi yang “berani” menggarap sekuel Cabo berikutnya. Namun menurut Malik, sebetulnya banyak yang ingin mengangkat Boy ke film lagi. “Tetapi sebagai pemilik konsep, kami menolak, karena konsep yang ditawarkan sekadar melanjutkan film yang sudah ada,” ucap Malik. “Boy sudah menjadi brand, tetapi kami tidak mau dibilang hanya mengulang-ulang kesuksesan”.

Pendapat Malik tentu tepat. Kesuksesan masa lalu belum tentu terjadi lagi di era sekarang ini, meski Si Boy sudah menjadi brand. Hal inilah yang menjadi tantangan besar bagi Produser maupun Sutradara film Catatan Harian Si Boy yang akan ditayangkan di beberapa bioskop akhir Juni 2011 ini. Namun satu hal yang pasti, Si Boy adalah Ongky Alexander. Menurut saya tak ada yang bisa menggantikan posisi ikon 80-an ini sebagai si Boy di masa sekarang. Bukan karena kemampuan aktingnya yang luar biasa, tetapi kehadirannya dianggap tepat pada masa itu.

SIAPA tak kenal dia…

Boy anak orang kaya…

punya teman segudang…

karena pergaulannya…

baik budi dan tidak sombong…

jagoan lagipula pintar…

oh Boy…cermin anak muda…

(Pencipta: Harry Sabar; Penyanyi: Ikang Fawzi)

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Istiwak, Jam Kuno di Kota Solo …

Agoeng Widodo | | 23 September 2014 | 11:20

Masril Koto Bantah Pemberitaan di …

Muhammad Ridwan | | 23 September 2014 | 20:25

Mengapa Toga Berwarna Hitam? …

Himawan Pradipta | | 23 September 2014 | 15:14

Kota Istanbul Wajib Dikunjungi setelah Tanah …

Ita Dk | | 23 September 2014 | 15:34

Ayo, Tunjukan Aksimu untuk Indonesia! …

Kompasiana | | 09 September 2014 | 16:24


TRENDING ARTICLES

Mendikbud Akhirnya Tegur Guru Matematika …

Erwin Alwazir | 9 jam lalu

Kabinet Jokowi ala Kaki Lima …

Susy Haryawan | 10 jam lalu

Ini Kata Anak Saya Soal 4 x 6 dan 6 x 4 …

Jonatan Sara | 11 jam lalu

Gagal Paham (Pejabat) Kemendikbud dalam PR …

Antowi | 12 jam lalu

PR Matematika 20? Kemendiknas Harus …

Panjaitan Johanes | 13 jam lalu


HIGHLIGHT

Ka eM Pe …

Pak De Sakimun | 7 jam lalu

Hubungan Asmaraku dengan Ibu Kost (Bagian 6) …

Ervipi | 7 jam lalu

Life Begins at Forty …

Adjat R. Sudradjat | 7 jam lalu

Sore yang Cantik di Pelabuhan Kuno Gresik …

Mawan Sidarta | 7 jam lalu

Tak Ada Tulang Rusuk yang Tertukar …

Siti Nur Rohmah | 7 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: