Back to Kompasiana
Artikel

Film

Pramudya Arif Dwijanarko

Mahasiswa Program Studi Teknik Elektro UGM Penerima program pembinaan PPSDMS Nurul Fikri Anggota Dewan Perwakilan Mahasiswa selengkapnya

Gokusen, Bagaimana Menjadi Guru yang Baik

REP | 29 June 2011 | 05:04 Dibaca: 355   Komentar: 2   0

Meringis ketika kita melihat kondisi pendidikan Indonesia akhir-akhir ini. Terakhir, adalah kisah tentang bu Siami yang kalah karena kejujurannya. Bagaimana perjuangan keras beliau yang mempunyai idelisme tinggi bahawa pendidikan itu bukan akademis saja, namun juga moral. Nah, judul di atas juga masih berhubungan dengan pendidikan.

Gokusen (ごくせん) adalah sebuah serial Dorama yang berkisah tentang seorang guru yang mengajar di sebuah SMA. Sebenarnya saya juga jarang nonton dorama. Jumalh serial dorma yang saya tonton tidak habis jika dihitung dengan jari tangan. Tapi, dorama ini termasuk yang recommended buat temen-temen semuanya.

Yamaguchi Kumiko/Yankumi (Nakama Yukie) adalah seorang guru SMA dengan spesialisasi matematika. Dari ketiga serial film ini, Yankumi selalu mengajar sekolah khusus laki-laki. Dan beruntungnya pula, dia selalu mendapat jatah kelas yang siswanya paling bandel. Bahkan menurut saya sangat bandel. Sepertinya tidak ada di Indonesia. Selain itu dia adalah ahli waris dari keluarga Oedo. Dan dipastikan dia yang akan menjadi keluarga Yakuza tersebut. Namun, dia punya pikiran lain. Dengan menjadi guru.

Banyak pesan moral dari film ini. Sebagai guru, Yankumi tidak hanya berperan di dalam kelas saja, tidak jarang, Yankumi sering berinteraksi dengan siswanya di luar kelas, atau malah lebih banyak di luar kelas. Tidak jarang pula dia menjadi mediator masalah keluarga dari siswa. Mengatur masa depan semua siswanya. Namun karena dia berasal dari keluarga Yakuza, cara penyelesaian masalahnya pun cukup unik. Dia memperbolehkan siswanya bertarung (fight) asal satu lawan satu dan tanpa senjata. Karena menurutnya orang yang memukul dengan tangan kosong, juga merasakan sedikit rasa sakit ketika memukul. Menurutnya itu fair.

Dari semua season, memiliki alur cerita yang hampir sama. Yankumi selalu mendapat jatah kelas 3D, kelas yang paling bandel dan memiliki tugas untuk membuat mereka lulus semua. Padahal, tidak sedikit orang yang meragukan kalau kelas 3D akan banyak yang Drop Out sebelum lulus. Namun, dia membuktikan kapasistasnya dengan membawa mereka lulus semua.

Sebuah idealisme dari Yankumi ketika menghadapi orang tua murid yang hendak menarik paksa anaknya. Tidak sedikit para orang tua yang merinding ketika mendengra perkataan dari Yankumi.

Bukan berarti Yankumi orang yang sempurna. Kakeknya sering memberikan motivasi ketika melihat Yankumi sedang dalam masalah berat.

Salah seorang siswa Yankumi. Dari dilihat penampilannya saja sudah terlihat tidak seperti pelajar, padahal ada yang lebih terlihat parah lagi. Namun berkat perjuangan Yankumi, para anak didiknya mula menikmati sekolah itu seperti apa. Mungkin tidak sedikit siswa di negeri ini yang penampilannya lebih rapi, namun belum bisa merasakan sekolah yang menyenangkan itu seperti apa.

Tidak sedikit orang yang meragukan idealisme yang dibawa oleh Yankumi. Namun, keinginan kuatnya membuktikan bahwa, niali yang dia bawa adalah benar.

Film ini termasuk recommended untuk ditonton. Cerita yang dibawa tidak jauh dari yang dialami oleh seorang pelajar. Tidak jarang pula saya sedikit tersentuh dalam beberapa adegan, bahkan sampai hampir nangis.T.T…

Melihat kondisi pendidikan Indonesia yang agak semrawut, sepertinya kita butuh Yankumi-Yankumi Indonesia. Karena pendidikan sekarang lebih cenderung ke arah akademis saja, tanpa memperhatikan sisi moral dari siswanya.

Tidak baik jika saya cerita panjang lebar mengenai isi film ini. Mending nonton sendiri aja. Cari aja di rental terdekat. Kalau mau “ngopy” saya juga ada. Selamat menikmati

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Paser Baroe, Malioboronya Jakarta …

Nanang Diyanto | | 24 November 2014 | 14:09

Catatan Kompasianival: Lebih dari Sekadar …

Ratih Purnamasari | | 24 November 2014 | 13:17

Saatnya Kirim Reportase Serunya Nangkring …

Kompasiana | | 12 November 2014 | 11:39

Pak Mendikbud: Guru Honorer Kerja Rodi, Guru …

Bang Nasr | | 24 November 2014 | 11:48

Olahraga-olahraga Udara yang Bikin Ketagihan …

Dhika Rizkia | | 11 November 2014 | 13:41


TRENDING ARTICLES

Tjiptadinata, Menang Karena Senang …

Felix | 4 jam lalu

Butuh Rahma Azhari untuk Bekuk Filipina? …

Arief Firhanusa | 6 jam lalu

Tanggapan Negatif Terhadap Kaesang, Putera …

Opa Jappy | 8 jam lalu

Sikap Rendah Hati Anies Baswedan dan Gerakan …

Pong Sahidy | 8 jam lalu

Putra Presiden Konsumsi Babi …

Muhammad Armand | 10 jam lalu


HIGHLIGHT

Komunikasi Orang Tua dan Remaja Macet? …

Endah Soelistyowati | 8 jam lalu

Meladeni Tantangan Thamrin Sonata di …

Tarjum | 8 jam lalu

Mari Berpartisipasi Berbagi bersama Sanggar …

Singgih Swasono | 9 jam lalu

IKMASOR DIY Desak MOU Pendidikan dan …

Arkilaus Baho | 9 jam lalu

Tipe Kepemimpinan Jokowi-JK …

Gabriella Isabelle ... | 9 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: