Back to Kompasiana
Artikel

Film

Niken Satyawati

Ibu 4 anak, tinggal di Solo. Memimpikan SEMUA anak Indonesia mendapat pendidikan layak: bisa sekolah selengkapnya

Film-Film Keren yang Menguras Airmata

REP | 23 August 2011 | 17:34 Dibaca: 6294   Komentar: 93   8

Ngomongin film yang menguras airmata,  jumlahnya banyak sekali. Mungkin memang dasarnya saya ini cengeng, mudah banget terharu. Apalagi kalau ngomongin film Barat. Di film manapun tak terkecuali yang bergenre komedi, biasanya selalu ada selipan adegan yang menyentuh sisi kemanusiaan kita. Saat itulah saya menangis.Memang agak aneh, sebab sebenarnya saya ini lebih dikenal sebagai “preman”. Jadi  ceritanya, ini preman yang penuh kelembutan.

Sebagai contoh film “Wedding Singer“. Jelas-jelas genrenya komedi-romantis-musikal (menurut IMDB). Tapi saat adegan Adam Sandler menyanyikan lagu “Grow Old with You“  untuk Drew Barrymore, saya menangis. Apalagi yang genrenya drama, bisa dipastikan akan dengan mudah memancing airmata saya untuk keluar dalam bentuk tangis.

So, saat menonton film “Braveheart, Forrest Gump, Saving Private Ryan, The Green Mile, Shawshank Redemption, English Patient” hingga sekuel superhero  “Batman dan Spiderman” , trilogi “The Godfather” , bahkan film animasi macam “The Lion King, Tarzan” dan “Finding Nemo” dan banyak lagi film drama lainnya, pasti saya menangis untuk beberapa adegan.  Namun ada film yang benar-benar menguras airmata saya, membuat saya menangis bombay alias sesenggukan tak henti-hentinya untuk banyak sekali adegan di dalamnya.

Ini dia film-film yang sukses menguras airmata saya:

1. I am Sam

1314076227823579332

courtesy of IMDB.

Film ini menceritakan kehidupan seorang ayah yang terbelakang mental. Walau umurnya sudah 30-an, namun mentalitasnya masih seperti anak 7 tahun. Sang ayah diperankan dengan baik oleh Sean Penn. Anaknya sekitar umur 6 tahun, diperankan dengan sangat emikat oleh Dakota Fanning. Pergolakan batin, tantangan yang harus dihadapi terkait peraturan hidup bernegara, tak membuat si ayah dengan mudah bisa mendapatkan hak asuh atas anaknya. Bermodal hati yang tulus, kasih sayang sejati terhadap anak kandung dan kesungguhan, lalu dibantu seorang pengacara kondang yang semla cuek namun berubah menjadi baik hati (Michelle Pfieffer), akhirnya ayah-anak ini pun bersatu.

2. The Pursuit of HappYness

13140769011158541515

courtesy of IMDB.

Film ini bersetting Amerika Serikat tahun delapanpuluhan saat presidennya masih Ronald Reagan. Saat itu, AS belum makmur banget seperti sekarang. Chris yang diperankan oleh aktor kesayangan saya: Will Smith, hidup pas-pasan sebagai penjual mesin pemindai kepadatan tulang. Sayang, dalam waktu lama dia tak berhasil menjual dagangannya. Padahal, seluruh harta sudah terkuras buat investasi bisnis mesin pemindai ini. Sementara itu, dia harus membayar pajak, tilang, sewa rumah, hingga penitipan anak. Sang isteri mulai tak sabar, cekcok dan berbuah perpisahan. Namun Chris yang pernah mengalami hidup tanpa ayah hingga dia berusia 28 tahun, tak mau anaknya mengulang nasibnya. Diapun berusaha mati-matian agar bisa terus bersama anaknya. Christopher memberikan kasih sayang dan tampil ceria di depan buah hatinya itu di tengah beban ekonomi yang terus mengimpit, yang membuatnya bangkrut dan diusir dari apartemennya. Kesempatan datang, ketika sebuah firma membuka kesempatan magang menjadi pialang saham dan mereka hanya membutuhkan satu orang untuk dijadikan pialang saham beneran. Perjuangan yang penuh rintangan dalam bertaha hidup bersama si buah hati dan sekaligus memenangkan persaingan meraih pekerjaan berlangsung begitu mengharukan. Adegan Chris yang bertahan hidup di ruang tunggu stasiun bahkan toilet membuat airmata saya keluar deras tak terbendung.

3. Life is beautiful

1314076978966872644

courtesy of filmkarma.blospot.com

Film drama berlatar belakang perang, tapatnya pembantaian terhadap Yahudi yang dilakukan oleh bangsa Jerman ini adalah salah satu film favorit saya sepanjang sejarah, selain kedua  film di atas. Film ini menceritakan seorang Guido (Roberto Benigni), seorang penjaga toko buku, yang berjuang mendapatkan cinta Dora. Singkat cerita, dia berhasil membawa kabur Dora tepat di hari pernikahan gadis itu, dan akhirnya keduanya punya anak bernama Joshua. Saat Joshua agar besar, pembantaian bangsa Yahudi oleh Jerman makin menjadi. Guido, Dora, anak dan pamannya dimasukkan dalam kamp. Guido dan istrinya dipekerjakan bak budak.  Sementara orangtua dan anak-anak dibujuk untuk andi, tapi ternyata hanya bohongan, karena sebenarnya mereka dimasukkan ke kamar penuh gas beracun. Joshua yang malas mandi tidak mau ikut mandi sehingga lolos dari jebakan. Joshua yang belum mengerti keadaan sebenarnya “dicuci otak” oleh ayahnya. Bahwa sebenarnya mereka semua sedang terlibat sebuah permainan. Siapa yang berhasil bersembunyi hingga akhir permainan akan mendapat hadiah tank. Adegan demi adegan “bersembunyi” ini membuat penonton bisa tertawa sambil menangis pilu. Guido akhirnya tewas. Joshua berhasil menjadi pemenang dalam permainan ini, dan bertemu ibunya. Dia juga mendapat hadiah tank, yaitu tank tentara sekutu yang telah menang atas Jerman dan datang  menyelamatkan para tawanan.

Itulah film-film paling menguras airmata versi saya. Bagaimana dengan Anda?

Tags: film

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Baduy, Eksotisme Peradaban Ke XV yang Masih …

Ulul Rosyad | | 20 December 2014 | 23:21

Batita Bisa Belajar Bahasa Asing, …

Giri Lumakto | | 21 December 2014 | 00:34

Penulis Kok Dekil, Sih? …

Benny Rhamdani | | 20 December 2014 | 13:51

Bikin Pasar Apung di Pesing, Kenapa Tidak? …

Rahab Ganendra 2 | | 20 December 2014 | 20:04

Real Madrid Lengkapi Koleksi Gelar 2014 …

Choirul Huda | | 21 December 2014 | 04:22


TRENDING ARTICLES

Konyol, @estiningsihdwi Bantah Sanggahannya …

Gatot Swandito | 21 jam lalu

Jangan Nodai Sukacita Natal Kami dengan …

Sahroha Lumbanraja | 23 jam lalu

Presiden Jokowi-Wapres JK Atasi Korban …

Musni Umar | 24 jam lalu

Dihina “Kampret”, Pilot Garuda …

Felix | 20 December 2014 08:49

Salahkah Menteri Rini Menjual Gedung BUMN? …

Daniel Setiawan | 20 December 2014 07:59


Subscribe and Follow Kompasiana: