Back to Kompasiana
Artikel

Film

Eddi Kurnianto

orang kecil dengan mimpi besar.

Resensi: Tendangan dari Langit

OPINI | 01 September 2011 | 12:16 Dibaca: 3020   Komentar: 2   0

1314836619730012809Saat pertama kali saya masuk ke bioskop dan membeli tiket, ekspektasi saya sebetulnya tidak terlalu tinggi. Saya pikir Tendangan Dari Langit (TDL) hanya akan menjadi film anak-anak tentang olahraga, seperti King atau Garuda di Dadaku, yang menyenangkan ditonton –tapi tak lebh dari itu. Film mengenai olahraga, apalagi sepakbola yang merupakan olahraga berkelompok, benar-benar tidak mudah. Film olahraga biasanya hanya sampai taraf menghibur, dan tidak menyisakan perenungan setelah selesai menonton.

Tapi saya setengah keliru.

Walau film ini menyenangkan untuk ditonton, ternyata TDL juga menarik untuk dicermati. Kritik-kritik social yang disampaikan secara manis, melalui celetukan-celetukan natural para tokohnya, dan alur cerita yang mengalir sangat cepat, membuat saya terpaksa serius menonton. Fenomena kegilaan sepakbola di Indonesia juga dimunculkan dengan manis dalam beberapa adegan. Misalnya dialog saat wahyu ingin menumpang mobil barang ke stadion Gajayana, Malang.

“kamu Fans Persema?” tanya orang yang ingin ditumpangi Wahyu.

“iya, mas… “ Wahyu tersenyum lebar. Ditangannya selembar poster Irfan Bachdim tergulung. Sampai di titik itu saya masih menyangka bahwa orang yang ditumpangi akan memberikan tempat bagi Wahyu karena ia juga sesame fans Persema. Ternyata ia malah berkata:

“ kalau saya fans AREMA. Musuh kita…”

Dialog itu berhasil memancing senyum saya. Percakapan maupun monolog sejenis banyak beredar di dalam film TDL, dan menambah kekuatan film ini – selain tentunya berbagai makian akrab khas Jawa Timuran yang kalau diterjemahkan ke bahasa Asing bisa membuat film ini diberi rating R alias dewasa.

Tentunya ada kekurangan dalam film ini. Adegan sepakbola dalam film ini cukup baik,realstis dan editing sekuennya rapi, tapi kurang menunjukkan bahwa Wahyu memang berbakat Istimewa. Fokus film pada Wahyu sang pemeran utama membuat seolah-olah pemeran lan tak terlupakan. Bahkan saat bermain sepakbola. Akibatnya sepakbola dalam TDL terlihat seperti permainan individu yang tergantung pada orang-orang tertentu. Padahal tak terlihat skill istimewa Wahyu, yang membuatnya jauh berbeda dari para pemain lain.

Bagi penonton film yang tergerak untuk menyaksikan Irfan Bachdim dan Kim Kurniawan beraksi, mungkin akan kecewa. Mereka tak lebih dari pemanis marketing film ini. Beruntung masih banyak pemeran lain yang kekuatan aktingnya menutupi para selebritas tersebut.

Beberapa kekurangan tak membuat TDL menjadi film kacangan. Gambar-gambar indah pegunungan Bromo benar-benar memanjakan mata. Berbagai adegan mengalir begitu saja, ada sedih, gembira, lucu dan bahkan satir. Belum lagi Plot yang mengalir cepat dan dialog-dialog cerdas dalam film ini membuat saya terpaksa duduk sampai credit title film, untuk tahu siapa gerangan sang penulis skenarionya.

Kali ini saya harus memberi pujian pada Fajar Nugros dan Hanung Bramantyo. Skenario yang apik.

Paling tidak ada dua adegan yang membuat saya menahan air mata. Saat wahyu mempersembahkan kuda yang diperolehnya dari hasil mengadu bola tarkam kepada sang ayah dan saat Wahyu yang kecewa mengurung diri di kamarnya. Kesedihan yang tidak muncul tiba-tiba tapi disusun perlahan sampai memuncak di kedua adegan tersebut.

Selamat juga buat Zaskia Adya Mecha, Pemilihan aktor dan aktris teater senior yang menemani para selebrts non aktor (seperti Bachdim, Kim Kurniawan dan pemeran utamanya sendiri) terasa menyenangkan menurut saya. Memberi keseimbangan, sehingga film TDL ini tak berubah menjadi sekedar film dengan parade selebritis.

Sujiwo Tedjo dan Agus Kuncoro bermain dengan dahsyat.

Yosie Kristanto juga cukup baik. Sebagai Wahyu pemeran utama, cukup bagus walau ekspresinya seringkali terlalu datar. Untungnya karakter muka Wahyu yang melankolis sangat menolong saat berakting dalam adegan-adegan sedih. Maudy Ayunda yang cantik juga berperan secara menyenangkan, berperan sebagai Indah kekasih Wahyu.

Tapi terus terang, para pemeran yang memberikan geliat sesungguhnya malah para figuran, Jordi Onsu
Joshua Suherman. Berkali-kali peran tambahan mereka memancing senyum saya, dan menghindarkan saya dari kebosanan. Peran dan scenario yang menarik sekali…

Secara Garis besar, film ini menyenangkan dan mampu membuat saya terhibur sekaligus berpikir saat meninggalkan bioskop. Berpikir tentang kondisi sepakbola di Indonesia, berpikir tentang kesempatan berkembang bagi anak-anak yang punya kemampuan lebih di bidang olahraga, sekaligus berpikir; sudah saatnya mengeluarkan sepatu bola saya dan kembali bermain di lapangan hijau.

Selamat buat crew Tendangan dari Langit. Ini film bagus!

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Jokowi Jadi Presiden dengan 70,99 Juta Suara …

Politik14 | | 22 July 2014 | 18:33

Prabowo Mundur dan Tolak Hasil Pilpres Tidak …

Yusril Ihza Mahendr... | | 22 July 2014 | 17:27

Mudik? Optimalkan Smartphone Anda! …

Sahroha Lumbanraja | | 23 July 2014 | 02:49

Apakah Rumah Tangga Anda dalam Ancaman? …

Agustinus Sipayung | | 23 July 2014 | 01:10

Ikuti Lomba Resensi Buku Tanoto Foundation! …

Kompasiana | | 11 July 2014 | 16:12


Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: