Back to Kompasiana
Artikel

Film

Sultan Haidar Shamlan

Mahasiswa (25) kelahiran Indonesia yang saat ini berdomisili di Jerman. Selain aktif di berbagai organisasi selengkapnya

Koran by Heart (Kontestan Cilik Penghafal Quran)

OPINI | 04 September 2011 | 13:10 Dibaca: 550   Komentar: 9   5

Al-Qur’an adalah pedoman pada setiap sisi kemanusiaan, solusi segala problematika kehidupan, anugerah Tuhan yang tidak akan lapuk dimakan zaman.

Sekalipun sederet nama-nama antagonis sekaliber pastur Terry Jones berhasrat membakar seluruh mushaf Al-Qur’an di muka bumi, Al-Qur’an tidak akan lantas lenyap dari kehidupan. Ayat-ayat Al-Qur’an masih hidup dan terpatri pada jutaan hafiz-hafiz (penghafal) Qur’an yang tersebar di seluruh dunia, yang melalui ingatannya akan merajut teks-teks Al-Qur’an yang terbakar itu, utuh. Tanpa perlu kita khawatirkan akan bagian-bagian yang terlewat, atau salah tempat.

“Koran by Heart” adalah sebuah film dokumenter terbaru (Agustus 2011) garapan Greg Barker, yang secara sentral mengisahkan perjalanan tiga kontestan penghafal muda Qur’an saat bepergian ke Mesir untuk bersaing dalam turnamen menghafal Al-Qur’an internasional. Setiap tahunnya, selama bulan Ramadhan, 100 siswa/i dari lebih dari 70 negara berduyun-duyun ke Kairo untuk mengadu daya ingatnya.

Sepanjang dokumenter, ketiga kontestan ini memang memukau. Selain masih sangat muda, mereka tidak berbicara atau mengerti „secuil pun“ bahasa Arab, bahasa di mana kitab suci ini ditulis.

Sebagian besar film ini berfokus pada hubungan para kontestan muda dengan keluarga mereka, menawarkan sekilas potret kehidupan sehari-hari dunia Muslim yang lebih luas.

Rifdha, misalnya, kontestan “jenius” dari Maladewa, merupakan salah satu dari hanya 10 gadis dalam kompetisi ini. Selain hafal Quran, Rifdha sangat berprestasi di sekolahnya. Jangan heran, di sekolahnya Rifdha selalu langganan nilai 100 untuk Matematika dan Sains. Ibunya sampai kebingungan, “anak-anak lain selalu mengeluh karena kesusahan Matematika, sementara Rifdha mengeluh karena Matematika terlalu mudah!”

Di 30 tahun awal kehidupannya, ayah Rifdha tidak mempraktekkan islam sebagaimana mestinya. Momen kematian ayahnya (kakek Rifdha) menjadi titik baliknya untuk berislam secara „kaffah“, yang dibingkai dengan visi keluarga memiliki seorang anak penghafal Quran.

Dilemanya, ayah Rifdha berkeras agar Rifdha tumbuh menjadi seorang ibu rumah tangga yang berpendidikan, sementara ibunya mendorong dia bekerja sebagai wanita karier.

Lain lagi Nabiollah, kontestan pemilik “suara emas” dari Tajikistan, menerima pengakuan luas di dalam dan di luar negeri untuk keterampilan bacaan Qur’annya, tetapi hampir buta huruf dalam bahasa asalnya.

Tepat saat perjalanannya ke Kairo, pemerintah otoriter Tajikistan menutup sekolah Qur’an Nabiollah. Memang baru-baru ini pemerintahan Tajikistan telah menyetujui undang-undang pembatasan anak-anak dari shalat dan belajar di masjid-masjid, sebagai antisipasi meminimalkan pengaruh meningkatnya Islam di negara Asia Tengah.

Djamil, dari Senegal, diminta untuk mewakili seluruh Afrika di kompetisi ini. Karena berasal dari keluarga miskin, Djamil harus melakukan perjalanan ke Mesir sendiri tanpa keluarga atau teman untuk membimbingnya. Bayangkan, betapa “groginya” kontestan 10 tahun ini, terpaksa berjuang sendirian.

Tentu kita dibuat penasaran, siapakah pemenang kontestan ini? Mampukah kontestan cilik ini bersaing melawan kontestan senior lainnya? Mampukah mereka melawan peserta yang mengerti bahasa arab?

Selain aktual, faktual (kisah nyata), film dokumenter ini sarat hikmah untuk ditonton. Di samping direkomendasikan, dokumenter ini sekaligus menjadi pembuktian yang tidak perlu diungkapkan; siapa pun (tua-muda, meskipun tidak bisa bahasa arab) bisa menghafal Al-Qur’an, selama ada kemauan!

“Dan sesungguhnya telah Kami mudahkan Al-Qur’an untuk dijadikan pelajaran, maka adakah orang yang mengambil pelajaran?” [Al-Qamar : 17]

“Dan Jikalau kami jadikan Al Quran itu suatu bacaan dalam bahasa selain Arab, tentulah mereka mengatakan: “Mengapa tidak dijelaskan ayat-ayatnya?” apakah (patut Al Quran) dalam bahasa asing sedang (rasul adalah orang) Arab?” [Al- Fushshilat : 44]

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Kisah Haji Warto tentang Lumpur Lapindo …

Windu Andhika | | 17 April 2014 | 14:58

Introspeksi Pascapemilu (Kado buat Caleg …

Nurjanah Nitura | | 17 April 2014 | 11:14

Tahan Nafas di Kereta Gantung Ngong Ping …

Eddy Roesdiono | | 17 April 2014 | 15:42

Parkir Sebabkan PAD Bocor …

Eta Rahayu | | 17 April 2014 | 14:54

Inilah Pemenang Kompasiana - ISIC 2014 Blog …

Kompasiana | | 17 April 2014 | 15:52


TRENDING ARTICLES

Meski Tak Punya Ijin, JIS Berani Menolak …

Ira Oemar | 14 jam lalu

Agar Tidak Menyusahkan di Masa Tua …

Ifani | 21 jam lalu

Menguji Nyali Jokowi; “Say No to …

Ellen Maringka | 22 jam lalu

Dinda, Are You Okay? …

Dewi Nurbaiti | 22 jam lalu

Pelajaran Mengenai Komentar Pedas Dinda …

Meyliska Padondan | 23 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: