
Mahasiswa (25) kelahiran Indonesia yang saat ini berdomisili di Jerman. Selain aktif di berbagai organisasi muslim dan kemahasiswaan di Jerman juga merupakan aktivis kemanusiaan bersama MER-C Jerman. Dunia menulis dan Jurnalistik telah menjadi bagian kehidupannya semenjak kecil. Timur tengah, politik, pendidikan, islam, kemanusiaan dan lingkungan adalah tema-tema besar yang terus menginspirasi dunia menulisnya.
Dibaca: 162
Komentar: 0
1 dari 1 Kompasianer menilai menarik
Oleh Sultan Haidar Shamlan
Infinite Justice adalah film produksi tahun 2007 garapan sutradara Inggris-Pakistan, Jamil Dehlavi. Plot-plot film ini dibangun dari kisah nyata terbunuhnya jurnalis kenamaan Wall Street Journal, Daniel Pearl, pada tahun 2002 di Karachi, Pakistan.
Sampai hari ini, teka-teki kematian Daniel Pearl masih belum terjawab, dunia masih bertanya-tanya, siapakah sebenarnya pembunuh sadis Daniel Pearl, yang sampai hati memenggal kepala seorang jurnalis ini - merekam prosesi kematiannya dalam sebuah kaset penuh kebencian kepada Amerika.
Infinite Justice
Dalam film 90 menit ini, Daniel Pearl diberi nama fiktif Arnold Silverman, yang digambarkan sebagai seorang jurnalis idealis. Adik perempuan semata wayang Silverman adalah salah satu korban runtuhnya gedung World Trade Center (11.09.2001). Kematian adiknya inilah yang menjadi motiv Silverman bercita-cita bertemu Osama bin Laden, menuntaskan pertanyaan-pertanyaannya:
Apakah benar Osama bin Laden serta sekumpulan “jihadis” dalang di balik itu? Jika iya, kenapa Osama bisa setega itu? Atau justru benar isi teori-teori konspirasi, yang menuduh pemerintah Amerika berada di balik layar? Mengapa adiknya yang tidak bersalah mesti turut menyumbang nyawa?
Sebagai kakak, berbagai cara dilakukan. Dimulai dari penjajakan 28 masjid di Amerika, mencari muslim-muslim “fundamentalis”, mencari makna jihad, menelusuri jaringan Al-Qaidah di barat, sampai jatuh keputusannya terbang ke Pakistan, tempat persembunyian pertama Osama yang sempat diduga CIA.
Lika-liku pencariannya mengantarnya ke International Jihadist Movement (IJM) di Pakistan, organisasi sempalan yang diduga kaki tangan Al-Qaidah.
Sebagai seorang jurnalis, mulanya ia disambut dengan ramah. Sampai “tidak sengaja” diketahui berwarga negara Amerika dan berlatar belakang Yahudi, Silverman justru ditawan, dijadikan bahan tebusan untuk ditukar dengan seorang pimpinan IJM yang saat itu disekap oleh Amerika di penjara Guantanamo.
Silverman begitu tahu, bahwa Amerika tidak mungkin mengabulkan prosesi tukar-menukar tawanan ini, karena harga seorang tawanan di Guantanamo jauh lebih mahal dari harga dirinya. Ia juga begitu tahu, bahwa masa-masa kematiannya tinggal menghitung hari.
Di tempat tawanan, ia berjumpa dengan Kamal Khan, salah satu “jihadis” campuran Inggris-Pakistan. Kamal Khan adalah salah satu tangan kanan Osama bin Laden dan merupakan seorang jenius matematika yang dibesarkan di Inggris. Ia melepaskan bangku studinya di universitas kenamaan Inggris, setelah memutuskan menjadi seorang “muslim fundamentalis” yang anti-barat, dan bersama Osama bin Laden berencana membuat struktur sistem keuangan yang non-kapitalis.
Tidak dikira, persahabatan justru terjalin antara Silverman (tawanan) dengan Kamal Khan (penawan) di basecamp IJM. Dalam diskusi dan perdebatan, keduanya begitu sama cerdas, namun berbeda persepsi kehidupan. Tidak pernah ditemukan titik temu.
Persahabatan mereka dicium oleh salah satu pimpinan IJM, Sheikh Ibrahim. Sampai waktu eksekusi Silverman pun dipercepat.
Sebelum mati, Silverman berkali-kali diminta di depan kamera mengakui kebiadaban dan kemunafikan Amerika. Namun berkali-kali ia menolak. Tidak tega, Kamal Khan pun berusaha menolong sahabat barunya, sampai baku hantam terjadi.
Dan siapa sangka, adegan baku hantam ini berakhir, ketika agen CIA dengan sadisnya mendobrak basecamp IJM, bukan untuk menyelamatkan Silverman, tapi justru membunuh habis seluruh “jihadis” (termasuk Kamal Khan), tanpa terkecuali Silverman.
Supaya dunia tahu betapa kejam-nya organisasi “jihadis islam” ini, di hadapan kamera yang dimanipulasi, leher mayat Silverman dipenggal tanpa pri kemanusiaan. Rekaman kamera ini dikirim per pos kepada media-media massa mainstream. Disiarkan berkali-kali - berusaha menciptakan kebencian dunia yang tidak pernah henti.
Silverman adalah korban idealisme. Kamal Khan adalah korban idealisme. Korban idealisme yang tidak salah. Idealisme mereka justru dimanfaatkan oleh superfisial CIA.
Sangat layak untuk ditonton! []
Infinite Justice juga merupakan nama operasi militer yang digunakan oleh Bush untuk berperang melawan terorisme, tepat sehari setelah 11/9.
sumber gambar: