Back to Kompasiana
Artikel

Film

Hannah Neng

ibu biasa saja namun punya mimpi luar biasa

Kehormatan di Balik Kerudung

REP | 28 October 2011 | 13:54 Dibaca: 1385   Komentar: 8   0

Kemarin badan saya  meriang. Agak demam, bersin-bersin dan sedikit batuk. Mungkin karena seminggu ini  kurang istirahat. Selain juga kemarin sorenya  berenang sampai magrib tiba. Sampai di rumah saya kehujanan, ahirnya kamis pagi praktis tempat tidur jadi pilihan.

Sebenarnya gak parah sih, saya hanya sengaja mengistirahatkan badan agar hari jum’at ini bisa lebih fresh untuk kembali beraktifitas. Ditengah istirahat, saya merengek pada suami agar menemani  nonton sebuah filem produksi Mizan yang berjudul “Semesta Mendukung”. Rayuan saya ampuh…meski dia tau saya tidak fit, tetap saja mau mengantar ke bioskop dekat rumah. Saya sebenarnya ingin menghabiskan waktu berdua dengannya dan mumpung kamis siang ini dia punya waktu luang.

Ternyata filem yang dimaksud sudah tidak di putar, saya agak bete sebenarnya. Biar tidak kecewa ahirnya filem “Kehormatan dibalik Kerudung” produksi Starvision jadi pilihan. Ternyata filem yang saya maksud baru akan diputar setengah jam kedepan. Ahirnya untuk mengisi waktu kami mengunjungi toko buku Tisera. Saat kami berdua membaca, tiba-tiba di rak buku best seller dia menemukan sebuah buku karangan Kristin Hannah. Suami saya menutupi nama Kristinnya dengan jarinya, dia bilang “coba baca”. Saya menjawab ” itu namaku”. “Iya tahun depan, kalau yang saya tutupi ini dibuka maka akan terbaca NENG bukan Kristin, karena bukumu tahun depan akan ada disini” Saya tertawa mendengar guyonannya dan dalam hati mengaminkan ucapannya.

Filem Kehormatan dibalik Kerudung diangkat dari novel Ma’mun Affani. Filem ini mengangkat tema cinta seperti biasa dimana karena cinta setiap pecinta bisa melakukan hal yang tidak mungkin dilakukan. Seperti kisah Laila Majnun yang sama merindunya seperti itulah kisah tokoh utama di filem ini yaitu Syahdu yang diperankan oleh Donita dan Ifand yang diperankan oleh Andhika Pratama. Keduanya bertemu di statsiun saat Syahdu hendak mengunjungi kakeknya di Pekalongan. Pertemuan keduanya sangat singkat, namun sudah membekas begitu dalam. Bukan sekedar fisik saja yang membuat keduanya saling tertarik, namun ternyata jiwa mereka saling mengisi meski hanya dengan pertemuan singkat.

Perjalanan Syahdu ke rumah kakeknya merupakan sebuah upaya untuk menenangkan diri dari segala permasalahan hidup terutama yang berkaitan dengan mantan pacarnya. Di kampung kakeknya yang sangat religius ini Syahdu ternyata bertemu kembali dengan Ifand. Takdir mempertemukan mereka kembali dan disinilah benih cinta tumbuh subur. Ifand ternyata merupakan pemuda yang disegani di kampung halamannya. Ia merupakan pemuda sholeh yang menjadi dambaan setiap gadis, termasuk seorang gadis sholehah yang menjadi kembang desa yaitu Shofia yang diperankan oleh Ussy Sulistyowati.

Syahdu yang terbiasa bergaul terbuka dengan lawan jenis menjadikannya selalu intens mengunjungi Ifand. Interaksi keduanya menjadi gunjingan masyarakat kampung dan membuat gerah kakek neneknya. Kakeknya ahirnya memberikan ultimatum agar Syahdu meninggalkan rumahnya. Syahdu meninggalkan kampung halaman kakeknya, namun cintanya pada Ifand sudah begitu kuat terhunjam demikian pula dengan Ifand.

Saat kembali dari rumah kakeknya, ternyata ibu Syahdu sedang sakit dan membutuhkan biaya yang tidak sedikit untuk pengobatan. Syahdu yang sudah tidak memiliki ayah ini, ahirnya dengan terpaksa menerima lamaran mantan pacarnya dengan mahar biaya untuk pengobatan ibunya. Mendengar kabar Syahdu sudah menikah, Ifand merasakan pukulan  yang teramat hebat. Ia menjadi sosok yang pemurung.

Ternyata pernikahan Syahdu dengan suaminya tidak berjalan dengan baik. Rasa cintanya pada Ifand sudah membuat amarah suaminya dan memancingnya untuk melakukan tindakan kekerasan. Ahirnya pernikahan mereka berantakan dan Syahdu bercerai. Setelah bercerai ternyata Syahdu mendengar kabar bahwa Ifand menikah dengan Sofia. Kabar ini laksana halilintar yang menyambar Syahdu dan menjadikan hidupnya laksana daun kering yang tak berarti. Badan Syahdu semakin kurus dan tak memiliki semangat untuk hidup lagi.

Ratih adik Syahdu merasa sedih dengan kondisi ini, ahirnya ia memutuskan untuk menyurati Ifand. Ifand meminta izin kepada istrinya Sofia untuk mengunjungi Syahdu. Sofia dengan kebesaran hatinya mengizinkan Ifand menengok Syahdu. Saat Ifand mengujungi Syahdu, Sofia membaca surat yang ditulis Ratih untuk Ifand. Sofia merasa sangat prihatin dengan kondisi Syahdu dan mengizinkan keinginan Syahdu untuk tinggal bersama mereka bila itu menjadi sesuatu yang menyembuhkan Syahdu.

Tinggalnya Syahdu dengan Ifand dan Sofia telah memancing masyarakat untuk membicarakannya sebagai sesuatu yang tidak pantas. Untuk meredam masyarakat, ahirnya Sofia meminta Ifand untuk menikahi Syahdu. Menikahnya Ifand dan Syahdu yang disaksikan oleh Sofia ternyata tidak membuat masalah selesai. Justru setelah pernikahan ini Syahdu dilanda cemburu yang sangat hebat terhadap Sofia. Saking cemburunya, Syahdu bertengkar dengan Ifand dan ahirnya ia nekat pulang ke rumah orang tuanya.

Kereta yang ditumpangi Syahdu mengalami kecelakaan. Nama Syahdu tertulis sebagai korban meninggal akibat kecelakaan itu. Setahun setelah kecelakaan, Sofia bermimpi terus tentang Syahdu. Ia ahirnya meminta izin kepada Ifand untuk mengunjungi rumah Syahdu. Ternyata Syahdu masih hidup dan memiliki anak dari Ifand dan dinamai sama dengan nama ayahnya. Syahdu saat ditengok oleh Sofia dan Ifand sedang dalam kondisi kritis akbat kanker rahim setelah melahirkan anaknya. Sesaat setelah kedatangan mereka berdua Syahdu menghembuskan nafas terahirnya.

Pengambilan gambar filem ini sangat bagus. Pemandangan yang disuguhkan dalam setiap adegan begitu indah. Alam perkampungan pekalongan yang asri. Rumah syahdu yang berada di puncak gunung begitu eksotis. Berbanding terbalik dengan cerita yang di suguhkan begitu klise dan tak memiliki konflik yang berarti. Alur cerita yang monoton ini membuat saya kurang menikmatinya. Apa pesan dari filem ini? Bagian mana yang menjawab kehormatan di balik kerudung? Apakah pada sosok seorang Sofia? Ah…terlalu naif sepertinya kalau semua perempuan berkerudung bermental seperti itu. Sosok Syahdu? Perempuan yang mengutamakan cinta pada seorang manusia yang bernama Ifand sampai dia melupakan segala-galanya?.

Terus terang saya belum bisa mengerti kalau seorang manusia bisa menomor satukan manusia yang lain karena mencintainya. Bagaimana dengan Tuhannya? Bukankah perintahnya untuk menafikan ‘yang lain’ selain Dirinya. Kerudung adalah lambang perempuan muslimah yang baik. Kenapa ditampilkan dengan dua perempuan yang mencintai laki-laki yang sama yang notabene hanya manusia. Sehingga untuk laki-laki yang dicintainyalah mereka memiliki alasan untuk hidup bahkan siap menderita. Absurd saya pikir. Saya tidak mau menderita hanya kerena manusia. Itu sebuah tirani. Relasi istri dengan suami bukan relasi pengabdian. Pengabdian hanya pada Tuhan. Keduanya mengabdi pada sang pencipta. Bukan pada pasangan masing-masing.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Indahnya Rumah Tradisional Bali: Harmoni …

Hendra Wardhana | | 26 October 2014 | 06:48

Perjuangan “Malaikat Tak …

Agung Soni | | 26 October 2014 | 09:17

Ayo, Tunjukkan Aksimu untuk Indonesia! …

Kompasiana | | 09 September 2014 | 16:24

Fakta & Rahasia Saya Tentang Buku …

Indria Salim | | 26 October 2014 | 01:02

Bagi Cerita dan Foto Perjalanan Indahnya …

Kompasiana | | 22 October 2014 | 17:59



HIGHLIGHT

Satu Malam di Tanjung Bira …

Abdul Rahim | 7 jam lalu

Unjuk Rasa Tuntut Upah Layak di DIY …

Musfingatun Sakinat... | 7 jam lalu

Cody Simpson - Java Sounds Fair 2014 …

Tari Nadya | 7 jam lalu

Unek-unek untuk Presiden Baru …

Folly Akbar | 8 jam lalu

Risalah 365 Doa & Zikir Sehari-Hari …

Nur Hadi | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: