Back to Kompasiana
Artikel

Film

Abdi Husairi Nasution

Sisiku yang lain bisa diobok-obok di www.yandakasyfi.blogspot.com dan http://yandanesia.blogspot.com/

“Immortals” (Ternyata) Dewa Juga Manusia

OPINI | 13 November 2011 | 08:38 Dibaca: 3923   Komentar: 2   1

13211244821052297286

1321124570153527367Ada yang istimewa di tanggal 11.11.11 kemarin, terutama bagi para maniak film. Di tanggal istimewa tersebut, film “Immortals” dirilis secara serempak di seluruh dunia, mulai Amerika Serikat dan beberapa negara lainnya hingga Indonesia. Di Indonesia, film kolosal tersebut hanya diputar di jaringan bioskop Blitz Megaplex dan tak beredar di jaringan Cinema 21. Sayang memang, film yang banyak ditunggu penonton itu tak diputar di semua bioskop.  Hanya kota-kota tertentu saja yang bisa menikmati film fantasi tersebut. Jaringan Blitz Megaplex baru ada di Jakarta, Bekasi, dan Bandung. Jadi, para penonton di luar kota-kota tersebut siap-siaplah gigit jari, tak bisa menikmati film karya Tarsem Singh itu, yang kekolosalannya tak kalah dengan film “300″.

Film fantasi ‘Immortals’ menjadi film pembuka di ajang Indonesia International Fantastic Film Festival (INAFFF) yang digelar mulai hari Jumat kemarin (11/11/2011). Ajang festival film horor, thriller, sci-fi dan fantasi terbesar di Indonesia itu sudah kali kelima diselenggarakan dan akan berakhir pada tanggal 20 November. Namun, bagi mereka yang tak sempat menyaksikan INAFFF 2011 di Jakarta, festival tersebut akan dilanjutkan di Blitz Megaplex Bandung, mulai tanggal 25 hinga 27 November.

“Immortals” yang dibintangi oleh Mickey Rourke, Henry Cavill, John Hurt, dan Freida Pinto ini berkisah tentang perang epik antara kejahatan dan kebaikan dalam mitologi Yunani. Kalau sudah menyangkut mitologi Yunani tentu tak akan jauh-jauh dari hubungan antara manusia, dewa, kebaikan dan kejahatan. Rentang masa yang diangkat dalam cerita film “Immortals” tersebut adalah tahun 1228 Sebelum Masehi.

13211246472122074512

Pada masa itu dikisahkan, Raja Hyperion (diperankan Mickey Rourke) mendeklarasikan diri untuk berperang melawan kemanusiaan. Sang raja yang lalim, kejam, dan sadis itu menundukkan semua wilayah kekuasaan di semua belahan Yunani demi mendapatkan busur sakti Epirus buatan Dewa Perang Ares (Daniel Sharman). Satu-satunya orang yang mengetahui di mana letak busur tersebut adalah Phaedra (diperankan Freida Pinto), seorang peramal perawan yang bisa menerawang masa depan.

Dalam tahta suci, Phaedra dianggap memiliki kekuatan Dewa dan harus dilindungi dalam sebuah kuil suci. Dari situlah Raja Hyperion mencari peramal cantik yang masih perawan itu untuk mencari busur dewa tersebut. Menurut sang raja, busur Epirus mempunyai kesaktian dan dipercaya dapat memberi kekuatan luar biasa bagi Hyperion untuk mengalahkan musuh-musuhnya dan membantunya dalam menaklukkan Yunani.

Hyperion juga tak percaya pada dewa, malah menantang para dewa yang dia anggap tak mampu menyelamatkan anak dan istrinya dari suatu penyakit. Ketakpercayaan Hyperion pada kekuatan para dewa tersebut membuatnya lupa daratan. Dia merasa kuat dan tak tertandingi. Raja Hyperion memiliki ribuan tentara yang beringas, tak mengenal ampun, dan haus darah.

1321126124637367397Kelaliman Hyperion tentu ada balasnya. Kejahatan tak pernah hidup abadi, dia akan dilawan oleh kekuatan dari kebaikan. Kekuatan kebaikan itu direpresentasikan dalam sosok Theseus (diperankan Henry Cavill). Theseus lahir dari seorang ibu miskin. Masyarakat sekelilingnya menuding Ibu Theseus sebagai seorang pelacur. Semua itu gara-gara Ibu Theseus pernah diperkosa oleh beberapa orang laki-laki di kampungnya hingga melahirkan Theseus.

Sejak kecil Theseus hidup menderita dan miskin. Dalam strata sosial masa itu, Theseus dan ibunya berada dalam kelas sosial paling rendah, dan mendapat prioritas terakhir untuk diselamatkan dari kekejaman Raja Hyperion. Theseus tak kenal rasa takut. Satu-satunya ketakutan yang ada dalam diri Theseus adalah ketakutan tak bisa melindungi dan menyelamatkan ibu yang dicintainya. Dia selalu membela ibunya dari cemoohan orang-orang.  Ketakutan Theseus itu pun menjadi nyata, saat Raja Hyperion menyerang kampungnya, Ibu Theseus dibunuh secara brutal di depan mata Theseus.

Sejak kematian ibunya, Theseus pun bertekad menghabisi Hyperion. Kekuatan dan keahlian bertarung diperoleh Theseus dari Dewa Zeus (diperankan Luke Evans) yang menjelma menjadi seorang tua yang disebut sebagai Oldman (diperankan John Hurt). Dewa Zeus sudah melatih Theseus sejak kecil. Theseus diajari cara berkelahi, membela diri, bertempur, hingga menggunakan berbagai alat dan senjata. Tak heran kalau Theseus menjadi tangguh dan mempunyai kekuatan setara dewa.

13211251181133315026

Saat berlangsung pertempuran antara Pasukan Theseus dan Raja Hyperion, para dewa yang dipimpin oleh Zeus dilarang membantu manusia. Kata Zeus, manusia harus menyelesaikan masalahnya sendiri tanpa harus campur tangan dewa. Andai terdapat dewa yang ketahuan membantu manusia maka hukumannya adalah mati. Namun beberapa dewa seperti Aries, Athena, dan Poseidon diam-diam membantu Theseus. Puncaknya ketika terjadi perebutan busur Epirus yang memaksa ketiga dewa tersebut membantu Theseus mengalahkan pasukan Hyperion. Bantuan itu datang saat Theseus berada di ujung tanduk karena nyaris terbunuh.

Akibatnya, Zeus mengetahui hal tersebut dan memberi sanksi pada para dewa, salah satu dewa dibunuh Zeus. Zeus pun kembali menegaskan bahwa mereka tak akan membantu manusia lagi. Konflik manusia harus diselesaikan oleh manusia sendiri.

Tapi sayang, bantuan para dewa sia-sia, busur Epirus berhasil direbut Raja Hyperion. Lewat busur tersebut, Hyperion membebaskan serdadu immortal yang dikenal sebagai Titans. Para Titans ini telah dipenjara selama ribuan tahun di dalam dinding Gunung Tartaros. Kekuatan para Titans ini sungguh luar biasa. Mereka bisa diibaratkan sebagai pasukan siluman yang tak terkalahkan. Tak ada satu manusia pun yang bisa mengalahkan para Titans tersebut. Dari situ, akhirnya Dewa Zeus membantu para manusia, karena pertempuran antara Titans dengan manusia tak seimbang, hanya dewa yang bisa mengalahkan para Titans tersebut.

13211255531937746934

Zeus dan dewa-dewa lainnya pun bertempur melawan Titans. Para Titans memang kuat luar biasa. Kecepatan mereka tak tertandingi manusia. Para dewa pun kewalahan menghadapi serangan Titans. Setelah sekian lama bertempur, para dewa pun tersudutkan. Athena, Aries, dan Poseidon berhasil dilumpuhkan oleh para Titans. Tubuh-tubuh mereka berlumuran darah seperti layaknya manusia. Senjata-senjata tajam para Titans berhasil mencabik-cabik tubuh para dewa hingga kewalahan. Mereka pun tewas seperti layaknya manusia. Yang tersisa Tinggal Zeus. Sebelum Zeus terbang ke langit, dia meruntuhkan patung rakasasa yang menjaga kerangkeng para Titans agar menimpa para Titans yang berada di bawahnya. Misi Zeus berhasil, dia pun terbang ke langit dengan membawa tubuh para dewa lainnya, termasuk tubuh Theseus yang berhasil menaklukkan Raja Hyperion.

Dalam film ini, sosok dewa memang punya kekuatan yang luar biasa, namun tubuh-tubuh mereka rapuh seperti manusia. Para dewa memang digambarkan sangat manusiawi, punya darah, punya perasaan, bisa terluka, dan tak immortal. Dalam benak saya, para dewa masih memiliki atasan lagi kalau faktanya digambarkan demikian.

13211252011254768482

Secara keseluruhan, visual yang ditampilkan dalam film “Immortals” memang sungguh menakjubkan. Adegan-adegan dalam film tersebut mengingatkan saya pada film “300″. Kesamaan itu memang sah-sah saja karena “Immortals” diproduseri oleh orang yang sama. Pertempuran divisualisasikan secara nyata. Aksi tebas-tebasan parang membuat bulu kuduk berdiri. Sadis dan brutal merupakan dua kata yang pas untuk menggambarkan adegan pertempuran dan perkelahian dalam film “Immortals”. Darah berhamburan kemana-mana. Adegan penggorokan leher Ibu Theseus pun diperlihatkan secara eksplisit. Jadi, bagi Anda yang ingin membawa anak-anaknya untuk nonton bareng film ini sebaiknya diurungkan. Masih ada film “Tin Tin” kok buat alternatif tontonan keluarga.

Beberapa hal istimewa lainnya dari “Immortals” antara lain art direction film “Immortals” sungguh luar biasa, indah, dan mengagumkan. Bangunan-bangunan yang ditampilkan di dinding gunung batu seperti nyata. Busana-busana yang dipakai para pemain pun seperti keadaan zaman Yunani kuno dulu. Hanya saja kostum para dewanya terkesan norak, seperti kostum para penari latar. Kalau Anda penggemar komik, kesan komikal dalam film “Immortals” disajikan secara baik dan menarik. Demikian pula dengan adegan pertempuran dan pertarungan, kesan tampilan video games-nya begitu terasa.

Pemilihan para pemain pun saya anggap tepat, Henry Cavill berhasil memerankan sosok Theseus yang gagah berani, sederhana, dan tangguh. Freida Pinto juga cocok memerankan seorang peramal yang berwajah teduh dan sendu. Kalau Anda pernah menonton film “Slummdog Millionaire” pasti ingat dengan Freida Pinto ini. Sosok raja yang bengis, jahat, sadis, dan kejam juga berhasil diperankan oleh Mickey Rourke.

Film “Immortals” berusaha menunjukkan bahwa kebaikan itu adalah abadi, sedang kejahatan akan mati dan lenyap. Kebaikan akan diturunkan dari satu generasi ke generasi lainnya, sedang kejahatan akan selalu hilang dan mati di setiap generasinya.

Sumber gambar: www.immortalsmovie.com

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Gedung New Media Tower Kampus UMN, Juara …

Gapey Sandy | | 31 October 2014 | 19:12

Cerita di Balik Panggung …

Nanang Diyanto | | 31 October 2014 | 18:18

Giliran Kota Palu Melaksanakan Gelaran …

Agung Ramadhan | | 31 October 2014 | 11:32

DPR Akhirnya Benar-benar Terbelah, Bagaimana …

Sang Pujangga | | 31 October 2014 | 13:27

Ikuti Blog Competition dan Nangkring di IIBF …

Kompasiana | | 12 October 2014 | 18:25



HIGHLIGHT

Bank Papua, Sponsor Tunggal ISL Musim Depan …

Djarwopapua | 9 jam lalu

Seminggu di Makassar yang Tak Terlupakan …

Annisa Nurul Koesma... | 9 jam lalu

Robohkah Surau Kami Karena Harga BBM Naik? …

Axtea 99 | 9 jam lalu

Sahabat Hati …

Siti Nur Hasanah | 10 jam lalu

Susi Mania! …

Indria Salim | 10 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: