Back to Kompasiana
Artikel

Film

Rahmat Rusdianto

I love technology, follow my blog http://review-newgadget.blogspot.com/

Hidup Sedih atau Mati Demi Cinta

REP | 17 February 2012 | 15:23 Dibaca: 1574   Komentar: 2   2

Setiap manusia berhak menjalani kehidupannya masing-masing. Kita memiliki banyak pilihan yang dapat kita pilih untuk menjalani hidup. Tidak ada jaminan akan hidup kita. Apakah kita akan hidup bahagia atau sedih? Kehidupan berputar dan kebaikan hidup akan berpihak dan datang pada jiwa yang baik. Oleh karena itu, kita diajarkan untuk saling membantu.
Mungkin dalam kehidupan kita banyak perjuangan yang mesti kita tempuh. Semuanya kita lakukan dengan saling tolong menolong sesama manusia, karena pada hakekatnya, manusia itu adalah mahluk sosial. Tujuan akhir dari kehidupan kita adalah agar kita dapat berguna bagi semua mahluk Tuhan, yang akan dihisab setelah kita meninggalkan dunia ini.
Seperti itulah makna yang terkandung dalam film terbaru buatan Indonesia ini. film ini berjudul Malaikat Tanpa Sayap. Film ini menceritakan perjalanan cinta dua remaja, Vino dan Mura yang kisah cintanya diancam oleh sesuatu hal yang pasti akan dialami oleh setiap manusia, yaitu kematian.

Kisah ini bermula dari seorang pria bernama Vino. Vino yang berasal dari keluarga kaya raya mendadak jatuh miskin. Semenjak itu hidupnya menjadi gelisah dan dirinya mulai mempertanyakan apa arti hidupnya di dunia. Vino tidak terlalu dekat dengan keluarganya, apalagi setelah papanya, bangkrut akibat ditipu rekan bisnisnya hingga mereka pindah dari perumahan elite ke rumah kontrakan di gang. Mamanya justru kabur dari rumah, bahkan tega meninggalkan putrinya yang berusia 5 tahun bernama Wina.
Keadaan tambah parah, saat Vino nunggak SPP hingga tiga bulan. Ia tidak terima saat pihak sekolah memberinya surat peringatan. Karena selama ini, Amir cukup rajin memberi sumbangan buat yayasan. Ia malah melabrak Kepala Sekolah, bahkan mengambil keputusan drastis, yaitu keluar dari sekolah.
Suatu ketika Wina terjatuh di kamar mandi dan dari hasil rontgen Wina diharuskan menjalani operasi, kalau tidak kakinya infeksi dan harus diamputasi. Wina membutuhkan transfusi darah karena pendarahan. Keadaan menjadi parah karena golongan darahnya wina termasuk golongan langka yaitu golongan darah A rhesus negatif. Untungnya Vino golongan darahnya sama dan akhirnya vino mengajukan diri sebagai pendonor darahnya.
Di lain tempat, ada seorang broker yang bernama Calo sedang mencari pendonor jantung. Suatu ketika takdir mempertemukan mereka, Calo dengan Vino. Calo yang sedang mencari pendonor jantung mendengar hal itu menawari Vino untuk menjadi pendonor jantung karena ada resipien (calon penerima jantung) yang golongan darahnya sama dengan Vino.
Calo mendekati Vino, ia menawari Vino untuk menjadi pendonor jantung! Vino amat terkejut. Calo itu beralasan, ada resipien (calon penerima jantung) yang golongan darahnya sama dengan Vino. Maka Vino adalah pilihan yang tepat. Vino amat marah dengan Calo. Ia tidak akan menjual jantungnya pada Calo! Tapi Calo dengan santai, berkata di Jakarta apa yang tidak bisa dibeli?
Lalu dirumah sakit yang sama, tempat adiknya Vino menginap. Vino bertemu dengan Mura, gadis cantik yang sedang duduk di ruang tunggu. Mereka bicara sangat singkat. Bahkan mereka tidak sempat berkenalan, karena tiba-tiba ada yang memanggil gadis  cantik itu, yaitu ayahnya Mura, Levrand. Mereka tampak dekat satu  sama lain. Sangat berbeda dengan Vino yang hubungannya tidak harmonis dengan kedua orangtuanya.
Amir dan Vino dengan caranya masing-masing berusaha untuk mendapatkan uang untuk operasi Wina. Tapi keduanya gagal. Vino yang mengalami jalan buntu mengambil keputusan menerima tawaran Calo untuk menjadi pendonor.
Calo memberinya uang muka cukup besar. Hingga Vino bisa membiayai operasi Wina. Amir amat terkejut, ia bertanya pada Vino darimana ia mendapatkan uang. Tapi Vino tidak mau memberitahu. Yang jelas, ia tidak mencuri…
Vino bertemu lagi dengan Mura di rumah sakit yang sama. Tidak terduga Vino tahu nama Mura, karena ia sempat mendengar Levrand memanggilnya. Mura tertegun. Vino dengan santai berkata, otak punya kemampuan menyaring mana yang pantas diingat, mana yang tidak. Seperti sebuah nama. Namanya. Mura…
Mura ingin menjenguk Wina. Saat menjenguk, Mura berjanji akan memberi Wina boneka. Karena ia punya boneka banyak. Vino  mengaku kalau ia sudah tidak sekolah karena ia tidak punya biaya. Mura bilang kalau ia homeschooling. Vino meledek, pantes Mura punya banyak boneka. Karena ia tidak punya teman.
Mura merengut, baginya hal itu tidak berpengaruh buatnya. Ia bisa punya banyak teman lewat jejaring sosial. Mura menilai Vino cynical. Vino malah mengajak Mura jalan, untuk membuktikan kalau ia tidak sesinis perkiraan Mura. Esoknya, Vino mengajak Mura untuk merasakan interaksi di dunia nyata…Mereka yang masih usia SMU malah mendatangi kampus dan berlagak mahasiswa di situ…
Sementara itu, diam-diam Amir menjadi supir taksi. Saat ini, hanya itulah yang bisa ia lakukan. Dengan uang dari Calo, Vino bahkan bisa mendapatkan rumahnya kembali yang disita Bank. Semua masalah menjadi beres. Dan Vino merasa mendadak hidupnya berwarna, karena mengenal Mura.
Vino yang awalnya sempat putus asa hingga bertransaksi dengan Calo, mulai goyah. Ia tidak mau mendonorkan jantungnya. Kepindahannya dari rumah kontrakan ke rumah lamanya, ia pikir bisa menghilangkan jejaknya dari Calo. Tapi ternyata, Calo dapat menemuinya.
Mengetahui bahwa Vino enggan untuk mendonorkan jantungnya, Calo marah dan mereka berdua bertikai. Padahal ini merupakan keputusan Vino. Siapa calon penerima jantung Vino itu? Apakah ia sangat berarti bagi Calo?
Vino beralasan, kalau ia tidak jadi mendonorkan jantung. Ia akan mengembalikan uangnya pada Calo. Calo memakinya, uang darimana? Calo minta Vino jangan macam-macam atau Mura akan celaka! Vino kaget karena Calo tahu soal Mura. Ia tidak terima Calo macam-macam pada Mura! Calo membentaknya, kalau resipien itu adalah Mura! Vino tertegun, ia tidak percaya C alo meyakinkan, kalau Mura memang resipien. Tapi Mura dan Levrand tidak tahu kalau Vino lah calon pendonor…
Vino berada di persimpangan. Ia merasa hidupnya berwarna setelah bertemu Mura, bahkan ia berniat membatalkan transaksi dengan Calo. Karena dengan Mura, ia melihat masa depan. Tapi di pihak lain, kalau ia membatalkan transaksi itu, hidup Mura tidak akan bertahan lama…Vino dihadapkan pada pilihan, ia yang mati atau Mura…
Ada beberapa kalimat yang menurut saya baik untuk dijadikan pedoman kehidupan kita. Yaitu
“Kita punya pilihan buat jalanin hidup. Tapi kita nggak punya pilihan, buat mati…”

“Dalam hidup ga ada jaminan untuk terus bahagia … ga ada kepastian buat apapun … setiap orang akan bisa terlempar setiap saat dari kotak kenyamanan”

Semoga dari film Malaikat Tanpa Sayap ini ada pelajaran hidup yang dapat kita ambil hikmahnya sebagai bekal kita dalam menjalani kehidupan.

BLOG : http://review-newgadget.blogspot.com/2012/02/belajar-hidup-dari-film-malaikat-tanpa.html

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

[Wisata Purbalingga] Sepotong Kisah Lingga …

Kandar Tjakrawerdaj... | | 22 December 2014 | 16:24

Percuma Merayakan Hari Ibu! …

Wahyu Triasmara | | 22 December 2014 | 11:58

Tumbangnya Pohon Beringin Tanda Bencana …

Cariefs Womba | | 22 December 2014 | 20:33

Berani Duduk di Bangku Paling Depan—Cupu …

Frida Kurniawati | | 22 December 2014 | 18:22

Melatih Anak Jadi Kompasianer …

Muslihudin El Hasan... | | 22 December 2014 | 23:47


TRENDING ARTICLES

Penyelidikan Korupsi RSUD Kota Salatiga …

Bambang Setyawan | 3 jam lalu

Akankah Nama Mereka Pudar?? …

Nanda Pratama | 4 jam lalu

Kasih Ibu dalam Lensa …

Harja Saputra | 6 jam lalu

Hebatnya Ibu Jadul Saya …

Usi Saba Kota | 7 jam lalu

Gabung Kompasiana, Setahun Tulis 8 Buku …

Gaganawati | 7 jam lalu


Subscribe and Follow Kompasiana: