Back to Kompasiana
Artikel

Film

Odagoma Rsjr

Mahasiswa Sastra Indonesia FIB UI

Into The Wild: Penuh Makna

OPINI | 06 March 2012 | 16:36 Dibaca: 1345   Komentar: 0   1

Kata bebas seringkali kita maknai dengan kebebasan itu sendiri. Bebas adalah  bebas melakukan apa pun tanpa ada sesuatu yang membatasi. Bebas adalah kepuasan ketika menerjang garis-garis batas yang telah ditetapkan. Bebas adalah kita dan dunia kita sendiri, tanpa ada siapa apa yang mempunyai hak dalam dunia itu. Into The Wild, mencoba memberikan pemaknaan akan kata bebas itu sendiri.

IntoThe Wild adalah sebuah film garapan sutradara sekaligus aktor kelahiran Santa Monica, California, Amerika Serikat, 17 Agustus 1960 bernama Sean Penn. Sean pernah meraih penghargaan sebagai aktor terbaik Oscar pada tahun 2003 untuk film Mystic River daan tahun 2008 untuk film Milk. Film yang dirilis pada tanggal 21 September 2007 ini berhasil meraih 7 nominasi dalam Critics Choice Award tahun 2008.

Bercerita tentang kisah nyata petualangan Christopher Johnson McCandless yang hidup di Alaska selama dua tahun, Sean dengan sangat baik menceritakan kisah perjalanan tersebut dalam film Into The Wild. Ide ceritanya diangkat berdasarkan novel best seller dengan judul sama yang ditulis oleh Jon Krakauer. Setelah lulus dari Universitas Emory pada tahun 1990, pemuda berusia 22 tahun itu memutuskan untuk pergi dari kehidupan yang selama ini ia anggap sebagai kepalsuan.

Ayah Chris adalah seorang ilmuwan jenius yang direkrut oleh NASA untuk menangani desain sistem radar satelit Amerika sebagai solusi untuk menyaingi satelit Sputnik buatan Rusia. Kemudian ayah dan ibu Chris mendirikan sebuah lembaga konsultasi yang akhirnya menuai sukses. Namun, kesuksesan ternyata justru membuat orangtua Chris ‘buta’ dan menuai perpecahan keluarga dan hidup dengan penuh kepalsuan yang membuat Chris muak dan memutuskan untuk pergi. Pergi untuk hidup di alam liar tanpa uang, alat komunikasi, dan segala kemewahan lain.

Chris kemudian melakukan perjalanan dari Atlanta ke Dakota Selatan, bekerja sebagai penggiling gandum, mengarungi sungai Colorado sampai Grand Canyon dengan perahu dayung illegal, pegi ke Meksiko, Golfo, ditangkap karena menjadi penumpang ilegal di kereta api, lalu ke Salvation Mountain, The Slabs, kemudian ke Alaska. Dalam perjalanannya Chris berjumpa dengan banyak orang dan mengalami banyak pengalaman yang sangat mengesankan. Ini adalah cerita tentang keluarga, cinta, kedewasaan.

Membuat film dari sebuah kisah nyata tidaklah mudah. Harus ada penyajian dan komposisi yang pas dalam meramu penggalan-penggalan cerita yang ada sehingga tidak menjadi sebuah cerita tidak membingungkan. Sean dengan sangat cerdas menyatukan itu semua. Seperti secangkir kopi susu hangat yang kita nikmati saat hujan rintik-rintik, paduan yang membangun Into the Wild terasa tepat dan pas. Alur yang disajikan secara tidak linear, tetapi menggunakan alur campuran mengajak kita untuk menelisik dan memahami sebab dan akibat dan simbol dari pesan-pesan yang ingin disampaikan. Cerita  yang dibagi menjadi tiga babak juga membuat penonton lebih tertarik dan mudah untuk memahami jalan cerita. Dengan konsep ini, dijamin tidak akan ada kebosanan di awal, tengah, maupun akhir film.

Emile Hirsch dengan sangat sukses memainkan karakter Chris. Ia dengan sangat dalam masuk menyelami pribadi Chris dan memunculkannya menjadi Chris yang sebenarnya, seorang muda yang masuk ke alam liar. Sepanjang cerita kita akan turut merasa bahagia melihat petualangan seru Chris menjalani kehidupannya di berbagai tempat. Tidak berlebihan dan tidak kurang sedikit pun. Semuanya terasa alami. Seperti pemandangan alam yang juga dapat kita nikmati sepanjang film. Sungguh indah. Sungguh alami.

Into the Wild adalah film yang akan membawa kita pada sebuah perjalanan menuju kedewasaan. Banyak sekali quote yang ‘berkata-kata’ dengan indah dan penuh makna. Bukan menggurui, tapi mengajak langsung untuk sama-sama belajar dari petualangan Chris yang penuh warna. Film ini, bahkan sampai endingnya ditutup oleh sebuah kalimat dari catatan Chris yang sangat menggugah: “HAPPINESS ONLY REAL WHEN SHARED ”

9 dari 10 bintang dari saya.

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Laporan dari Kupang, Sambutan Sederhana …

Opa Jappy | | 20 December 2014 | 16:29

Pendekar Tongkat Emas, Karya Anak Bangsa …

Murda Sulistya | | 20 December 2014 | 15:53

5 Alasan Berhenti Menggunakan Styrofoam, …

Gede Surya Marteda | | 20 December 2014 | 12:17

Be a Role Model : Do it Now and Start From …

Fifin Nurdiyana | | 20 December 2014 | 14:14

Blog Competition Coca-Cola Sampai Akhir …

Kompasiana | | 24 November 2014 | 20:22


TRENDING ARTICLES

Konyol, @estiningsihdwi Bantah Sanggahannya …

Gatot Swandito | 8 jam lalu

Jangan Nodai Sukacita Natal Kami dengan …

Sahroha Lumbanraja | 10 jam lalu

Presiden Jokowi-Wapres JK Atasi Korban …

Musni Umar | 11 jam lalu

Dihina “Kampret”, Pilot Garuda …

Felix | 11 jam lalu

Salahkah Menteri Rini Menjual Gedung BUMN? …

Daniel Setiawan | 12 jam lalu


Subscribe and Follow Kompasiana: