Back to Kompasiana
Artikel

Film

Marlistya Citraningrum

penulis amatir. currently serving as monev officer at Indonesia Mengajar.

Titanic: Lima Belas Tahun Kemudian

REP | 05 April 2012 | 05:38 Dibaca: 1719   Komentar: 33   4

13335603721646098353

Reader's Digest, National Geographic, dan 2 tiket Titanic 3D

April tahun ini memang bulannya Titanic. Dua majalah internasional yang sering saya baca, National Geographic dan Reader’s Digest, dua-duanya menyertakan artikel tentang Titanic. James Cameron menulis satu catatan singkat di National Geographic. Tentu saja judul tulisan ini bisa saja Titanic: Seratus Tahun Kemudian, sesuai sejarahnya. Hampir seratus tahun lalu, tepatnya tanggal 15 April 1912, RMS Titanic tenggelam bersama sekitar 1.500 lebih penumpangnya yang tidak terselamatkan. Tapi kemarin, 4 April 2012, adalah pemutaran perdana film Titanic karya James Cameron yang di-remake dalam format 3D.

Sejarah perfilman mencatat bahwa Titanic (1997) waktu itu adalah film termahal yang pernah dibuat, menghabiskan biaya hingga USD 200 juta, film pertama yang mencatat penjualan lebih dari USD 1 miliar, dan memenangkan 11 Academy Awards dari 14 nominasi, termasuk Best Picture dan Best Director. Meski durasinya lebih dari 3 jam (dengan sendirinya mengurangi frekuensi pemutaran), film ini mampu mencatatkan diri sebagai film dengan angka penjualan tertinggi selama 12 tahun sampai akhirnya Avatar (yang juga karya James Cameron) dirilis tahun 2009.

Lima belas tahun kemudian, kemarin tepatnya, Titanic dalam format 3D dirilis. Sejak awal saya memang ingin menonton film ini, tapi bukan kemarin. Tanpa rencana, dan jujur tanpa ekspektasi tinggi, karena meski teknologi memungkinkan, film yang direkam lima belas tahun lalu dan kemudian diolah untuk memberikan efek 3D tentunya berbeda dengan film yang direkam dengan teknologi sekarang. Kabarnya James Cameron menghabiskan waktu 60 minggu dan USD 18 juta untuk me-remake film ini ke dalam format 3D.

Hasilnya?

Cerita dan alurnya sama persis, tapi dalam 20 menit pertama, saat Brock Lovett dan krunya menjelajah reruntuhan Titanic, efek 3D-nya benar-benar membuat penonton seakan menjadi Snoop Dog dan Duncan, dua ROV (remotely operated vehicle) yang digunakan Lovett untuk merekam sisa-sisa kemegahan Titanic. Pinggiran dek kapal yang berkarat (disebut dengan rusticle), lorong yang gelap, pintu yang menghalangi, bahkan kepingan puing-puing yang mengambang dimana-mana; terlihat dengan jelas. James Cameron sendiri adalah underwater explorer, yang menjadikan prolog cerita di kedalaman laut Atlantik ini begitu intens, dan sendirinya semakin intens saat direka ulang dengan format 3D.

Cerita berjalan, dan seperti ‘kecurigaan’ saya sebelumnya, banyak scene yang memang tidak terasa efek 3D-nya. Adegan klasik di anjungan kapal (“the flying scene”) pun terasa biasa. Beberapa kali saya melepas kacamata 3D yang saya gunakan dan saturasi gambar asli terlihat lebih tinggi dibanding dengan menggunakan kacamata. Berbeda jauh dengan Avatar memang. Efek 3D-nya mulai terasa kembali saat Titanic berada di momen kritisnya. Bagaimana orang-orang bergelantungan di dinding kapal dan berjatuhan ke laut Atlantik yang membekukan, bagaimana sebuah balok terlihat menghalangi sekoci yang akan diturunkan, hingga saat Titanic sudah tenggelam dan para penumpang terlihat mengambang di laut. Breathtaking, dalam konteks menyedihkan, saya tidak sanggup membayangkan apa yang mereka rasakan. Dinginnya air yang menusuk dan tidak adanya harapan hidup. Air di rambut yang akhirnya menjadi butiran es. Membuat penonton bertanya-tanya, apa yang terjadi dengan mereka yang masih terjebak di dalam dan dengan sendirinya meluncur jatuh ke dasar lautan Atlantik?

Ada satu bagian yang sedikit menggelitik saya, langit berbintang yang entah kenapa terlihat sangat cemerlang dan berbeda di film 3D ini dibanding film sebelumnya. Ternyata memang James Cameron memperbaiki akurasi bintang-bintang tersebut, karena seorang ahli astronomi mempertanyakan akurasinya. Lalu James Cameron meminta ahli astronomi tersebut memberikan posisi bintang-bintang di langit secara eksak saat Titanic tenggelam seratus tahun lalu.

Di 30 menit terakhir film berdurasi 3 jam 14 menit ini, saya samar-samar mendengar beberapa orang terisak. Lima belas tahun lalu, Titanic menjadi film box office dengan cerita cintanya yang sederhana sekaligus menyedihkan di sebuah kapal yang digelari “unsinkable”. Lima belas tahun kemudian, Titanic dihidupkan kembali di layar lebar, dengan reruntuhan yang sejangkauan mata dan bayangan kematian di dinginnya samudera, yang sesaknya begitu terasa.

-Citra

P.S. Foto koleksi pribadi.
 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Lewis Hamilton Akhirnya Juara Dunia GP …

Hery | | 24 November 2014 | 21:17

Parade Foto Kompasianival Berbicara …

Pebriano Bagindo | | 24 November 2014 | 18:37

Tulis Aspirasi dan Inspirasi Aktif Bergerak …

Kompasiana | | 24 November 2014 | 20:22

Berbisnis Buku Digital: Keuntungan dan …

Suka Ngeblog | | 24 November 2014 | 18:21

Olahraga-olahraga Udara yang Bikin Ketagihan …

Dhika Rizkia | | 11 November 2014 | 13:41


TRENDING ARTICLES

Lisa Rudiani, Cantik, Penipu dan Pencuri …

Djarwopapua | 10 jam lalu

Merayu Bu Susi …

Jonatan Sara | 11 jam lalu

Bila Jokowi Disandera SP dan JK …

Adjat R. Sudradjat | 11 jam lalu

Jokowi Menjawab Interpelasi DPR Lewat …

Sang Pujangga | 12 jam lalu

Tipe Kepemimpinan Jokowi-JK …

Gabriella Isabelle ... | 15 jam lalu


HIGHLIGHT

Kenapa Kompasiana Meninggalkan JK? …

Jimmy Haryanto | 8 jam lalu

Musni Umar: Yakin Indonesia Maju Dipimpin …

Musni Umar | 8 jam lalu

Dirgahayu Guruku …

Susy Haryawan | 8 jam lalu

Indonesia Bukanlah “Sejengkal …

Ajinatha | 8 jam lalu

Pengalaman saat Terkena Syaraf Kejepit …

Enny Soepardjono | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: