Back to Kompasiana
Artikel

Film

Cinta Ramadhani

hidup ini akan lebih indah bila kita tersenyum..keep smile:)

Belajar Keikhlasan Dari Seorang “Delisa”

OPINI | 08 April 2012 | 18:22 Dibaca: 442   Komentar: 3   0

Dari beberapa minggu yang lalu seorang teman dari FLP Hongkong sudah mewanti-wantiku untuk ikut menonton film ini yang di putar tepat hari ini, 8 April 2012,” Jangan lupa ya Cinta, libur harus datang loh” itu pesan dari Esakura cinta, si gadis ceria yang selalu membuatku tersenyumkagum  kalau mendengar segala celotehnya yang sepertinya tidak pernah habis. Aku sebenarnya sudah pernah membaca novel “Hafalan Sholat Delisa” karya Tere Liye ini, dan memang isinya bikin kita menangis mengharu biru, tapi penasaran juga sih, seperti apa filmnya? selama ini cari di YouTube cuma nemu trilernya saja, apalagi di iming-imingi foto bareng si pemeran utama Reza Rahardian, Tere Liye sang penulis dan hadir pula sutradaranya, wah jadi semangat nih..

Aku datang telat , karena sebelumnya harus menjemput orang di airport, tapi untunglah filmnya belum di putar lama, baru sedikit bagian-bagian awal yang terlewatkan. Ternyata meski sudah baca bukunya tetap saja tidak bisa menahan airmata haru melihat adegan bencana tsunami aceh , teringat bagaimana dulu bencana itu benar-benar menelan korban yang begitu banyak, kampung rata dengan tanah.

Delisa, gadis kecil yangmenjadi tokoh utama dalam film itu bener-bener mengajak kita belajar bagaimana untuk menjadi ikhlas. Anak kecil itu menjalani semua peristiwa pahit dan manis dalam hidupnya dengan riang dan polos. Delisa hasil didikan seorang ummi yang sholihah dan lembut sekaligus tegas dan abi yang sholih dan bertanggungjawab.

Delisa sebelum tsunami aceh adalah anak yang lucu, menggemaskan, dan cerdas. Ia berusaha mengambil kesimpulan dengan logika yang tidak seperti anak kecil lainnya. Ia penuh ingin tahu dan senang bertanya dan itu membentuk pola logika yang unik dalam diri delisa kecil. Dan layaknya anak-anak Delisa sangat menyukai hadiah dan makanan enak.

Namun bencana yang merenggut nyawa orang-orang yang di cintainya membuatnya tumbuh kuat dan tegar. Dia bahkan harus kehilangan salah satu kakinya, tapi dia masih bisa tertawa lepas, dengan cerianya bermain bola, seakan beban itu tak pernah ada, dia tidak pernah mengeluh dengan keadaan yang ada, hanya saja terkadang dia sangat merindukan kehadiran Uminya.

Delisa diberikan Allah ilmu ikhlas karena hafalan sholatnya, saat tsunami itu terjadi bacaan sholatnya belum sempurna. Berkali-kali delisa mimpi bertemu ummi, kakak-kakak, dan teman-temannya di gerbang taman surga. Berkali-kali ia minta pada ummi untuk tetap tinggal di sana, namun ummi berkata : delisa harus menyelasaikan hafalan bacaan shalat dulu.

Oleh karena itu, delisa berusaha keras menghafalkan bacaan shalat, tapi begitu sulit untuknya menghapal.

Berbulan-bulan ia mencari jawaban kenapa ia begitu sulit menghafal? Padahal ia sebelumnya telah pernah menghafalkannya, seharusnya itu lebih muda kata abi,

Dalam perjalanan selanjutnya, akhirnya delisa menemukan jawabannya, ia belummerubah niatnya. Awalnya, sebelum peristiwa itu terjadi, delisa menghafal bacaan shalat karena ingin mendapat kalung hadiah keberhasilannya menghafalkan bacaan itu, hadiah kalung yang cantik dengan gantungan huruf D untuk delisa akan diberikan ummi setelah delisa mendapat piagam kelulusan dari bu guru nur.

Niat awal yang salah itu yang mengganjalnya selama ini.

Melalui semua kejadian, mimpi, dan nasihat dari orang-orang dewasa di sekitarnya, ia meraih kesadaran (baca : hidayah) bahwa ia harus memperbaharui niatnya menghafal

Maka, setelah ia melakukannya bacaan shalat itu seolah-olah bisara padanya, dan dalam waktu satu minggu ia berhasil menghafalkannya dengan baik.

Delisa sangat amat gembira. Selama ini, sejak peristiwa tsunami itu, ia belum pernah shalat dengan sempurna, karena ia hanya melakukan gerakan tanpa tahu apa yang harus dibaca. Meskipun begitu ia tetap shalat lima waktu. Subhanallah, bahkan shalat shubuhnya selalu tepat waktu dan berjama’ah.

Akhirnya ia mendapat kesempatan untuk shalat dengan sempurna, saat TPAnya belajar di salah satu bukit di Lhok Nga, mereka shalat ashar di alam bersama, dan itulah shalat sempurna delisa yang pertama dan terakhir. Sebab setelah itu ia menemukan hadiah kalung yang sedianya akan diterimanya dari ibunya. Kalung itu tergenggam di tangan sesosok tubuh manusia yang telah utuh menjadi kerangka. Itulah umminya yang belum juga ditemukan.  film itu, membuatku bercermin, betapa ketika aku merasa kesulitahn belajar dan menghafal Al Qur’an ataupun pelajaran sebenarnya merupakan tanda dari Allah bahwa hatiku belum bersih, niatku belum suci.

Dan dari cerita ini pula, aku mengambil ibroh bahwa dalam melakukan ibadah apapun bentuknya jangan menunggu hati bersih dan niat suci dulu, sebaba menyadari kesalahan kemudian memperbaiki niat dan akhirnya melaksanakan ibadah dengan niat yang tulus,suci, dan murni LILLAHI TA’ALA adalah sebuah proses yang tidak akan pernah berhenti hingga ajal menjemput kita. Astaghfirullah ya Allah…ampuni hamba yang selalu menunda-nunda waktu.

Delisa yang lumpuh dan belum hafal bacaan shalat mengajarkan kita arti sebuah ibadah, ia konsisten melaksanakan shalat lima waktu di saat sebagian umat islam yang lain, yang jauh lebih beruntung, yang punya badan sehat, kuat, dan tegap, punya harta melimpah, punya waktu dan kesempatan yang lapang mengulur-ngulur pelaksanaan shalat dengan berjuta alasan, dan yang lebih mengenaskan sebagian orang tersebut akhirnya meninggalkan kewajiban shalat dengan ringan dan tanpa rasa bersalah dengan berjuta alasan lainnya.

Delisa mendengarkan perintah Allah melalui umminya yang sholihah,dan ia berusaha mena’atinya sesuai kemampuan otak seorang anak yang masih berumur 6 tahun. kemudian atas Kebesaran dan Keagungan Allahlah pengertian yang dimiliki delisa berkembang dan menguat, dewasa dalam keikhlasan yang sebenarnya.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Kompetisi Tiga Ruang di Pantai-Pantai Bantul …

Ratih Purnamasari | | 18 September 2014 | 13:25

Angkot Plat Kuning dan Plat Hitam Mobil …

Akbarmuhibar | | 18 September 2014 | 19:26

Koperasi Modal PNPM Bangkrut, Salah Siapa? …

Muhammad | | 18 September 2014 | 16:09

Tips Hemat Cermat selama Tinggal di Makkah …

Sayeed Kalba Kaif | | 18 September 2014 | 16:10

Nangkring dan Test Ride Bareng Yamaha R25, …

Kompasiana | | 09 September 2014 | 06:48


TRENDING ARTICLES

Jokowi Seorang “Koki” Handal …

Sjahrir Hannanu | 15 jam lalu

Indra Sjafri Masih Main-main dengan …

Mafruhin | 16 jam lalu

TKI “Pejantan” itu Jadi Korban Nafsu …

Adjat R. Sudradjat | 19 jam lalu

Penumpang Mengusir Petinggi PPP Dari Pesawat …

Jonatan Sara | 20 jam lalu

Modus Baru Curanmor. Waspadalah! …

Andi Firmansyah | 21 jam lalu


HIGHLIGHT

Ditemukan: Pusat Tidur Dalam …

Andreas Prasadja | 15 jam lalu

Museum Louvre untuk First-Timers …

Putri Ariza | 15 jam lalu

Cinta dalam Botol …

Gunawan Wibisono | 15 jam lalu

Wisata Bahari dengan Hotel Terapung …

Akhmad Sujadi | 15 jam lalu

Jurus Jitu Agar Tidak Terjadi Migrasi dari …

Thamrin Dahlan | 15 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: