Back to Kompasiana
Artikel

Film

Rawinah

A reader, a traveler, a partime writer. Twitter: @NinaRawinah Blog: www.rawinah-ranarty.com

The Hunger Games

OPINI | 11 April 2012 | 17:48 Dibaca: 313   Komentar: 0   0

Nonton The Hunger Games pada hari pertama tayang karena penasaran. Thanks to twitter karena memberi info tentang novel trilogi The Hunger Games yang laku keras. Saya sudah nonton film The Hunger Games pertama. Berhubung belum tau bahwa ini film keren, nontonnya sambil lalu saja di tv. Nonton The Hunger Games yang ke dua ini beda, karena penasaran ingin tahu seperti apa si film The Hunger Games yang menjadi pembicaraan di sosial media.

Ternyata filmnya sadis, jadi ngeri. Sambil menahan kantuk saya berpikir mengapa novel trilogi The Hunger Games laku, filmnya booming. Padahal ceritanya fantasi campur sadis, dimana para peserta The Hunger Games saling membunuh, dan peristiwa saling bunuh ini ditayangkan live ke semua penduduk. Mungkinkah film The Hunger Games laris karena jujur menggambarkan kehidupan manusia? Bukankah dalam kehidupan nyata manusia juga saling membunuh walau terkadang secara halus? Misalkan Perusahaan Tambang banyak yang “membunuh” masyarakat setempat dengan mengotori sungai, menghancurkan hutan sumber daya makanan, air minum dan obat-obatan alami penduduk lokal.

Bukankah dengan membeli buah, sayur, bawang impor sama dengan “membunuh petani-petani lokal? Banyak produk impor yang mematikan usaha dalam negeri kita, mengakibatkan banyak pengangguran sehingga banyak yang menjadi kriminal demi sesuap nasi atau untuk biaya pengobatan keluarga yang sakit.

The Hunger Games disukai mungkin karena menggambarkan diri manusia seadanya. Bahwa dalam kesadisan ada harapan, ada kasih-sayang yang muncul, kasih yang akan menyelamatkan peradaban manusia.

Sebagaimana dalam buku The Footprints of God karya Greg Iles:

“Seseorang dapat menjadi makhluk paling berbahaya jika dimasukkan ke dalam Trinity (program komputer yg mempunyai intelejensia sendiri. Silakan baca bukunya untuk penjelasan lebih lanjut). Naluri binatang diwariskan secara genetis. Istilah lembaran yang masih kosong sangat menyesatkan. Seorang anak berusia dua tahun adalah seorang diktator tanpa tentara.”

Seperti dalam buku Greg Iles The Footprints of God, The Hunger Games menggambarkan bahwa walaupun pada dasarnya manusia punya naluri kehewanan alias sadis, namun cinta yang tumbuh dalam diri manusia dapat menjadi harapan untuk menyelamatkan kehidupan di bumi. Demikian pula pesan dalam film The Hunger Games yang saya tangkap.

Namaste Beloved Friend _/l_

Tulisan ini dimuat juga pada blog saya www.rawinah-ranarty.com

Tags: film life cinta

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Gubernur Jateng Tolak Kartu Flazz Kriko …

Syukri Muhammad Syu... | | 22 November 2014 | 23:39

OS Tizen, Anak Kandung Samsung yang Kian …

Giri Lumakto | | 21 November 2014 | 23:54

Inilah Para Peraih Kompasiana Awards 2014! …

Kompasiana | | 22 November 2014 | 21:30

Obama Juara 3 Dunia Berkicau di Jaring …

Abanggeutanyo | | 22 November 2014 | 02:59

Inilah Pemenang Lomba Aksi bareng Lazismu! …

Kompasiana | | 22 November 2014 | 19:09


TRENDING ARTICLES

Duuuuuh, Jawaban Menteri ini… …

Azis Nizar | 21 November 2014 22:51

Zulkifli Syukur, Siapanya Riedl? …

Fajar Nuryanto | 21 November 2014 22:00

Memotret Wajah Jakarta dengan Lensa Bening …

Tjiptadinata Effend... | 21 November 2014 21:46

Ckck.. Angel Lelga Jadi Wasekjen PPP …

Muslihudin El Hasan... | 21 November 2014 18:13

Tak Berduit, Pemain Bola Indonesia Didepak …

Arief Firhanusa | 21 November 2014 13:06


HIGHLIGHT

Mafia Migas Perlu Terapkan Strategi Baru …

Eddy Mesakh | 16 jam lalu

Refleksi Kenaikan Harga BBM: Menderita …

Kortal Nadeak | 16 jam lalu

Kesan-kesan Saya Ikuti Kompasianival 2014, …

Djarwopapua | 16 jam lalu

Gubernur Jateng Tolak Kartu Flazz Kriko …

Syukri Muhammad Syu... | 16 jam lalu

Sedikit Oleh-oleh dari Kompasianival 2014 …

Opa Jappy | 16 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: