Back to Kompasiana
Artikel

Film

Rawinah

A reader, a traveler, a partime writer. Twitter: @NinaRawinah Blog: www.rawinah-ranarty.com

The Hunger Games

OPINI | 11 April 2012 | 17:48 Dibaca: 312   Komentar: 0   0

Nonton The Hunger Games pada hari pertama tayang karena penasaran. Thanks to twitter karena memberi info tentang novel trilogi The Hunger Games yang laku keras. Saya sudah nonton film The Hunger Games pertama. Berhubung belum tau bahwa ini film keren, nontonnya sambil lalu saja di tv. Nonton The Hunger Games yang ke dua ini beda, karena penasaran ingin tahu seperti apa si film The Hunger Games yang menjadi pembicaraan di sosial media.

Ternyata filmnya sadis, jadi ngeri. Sambil menahan kantuk saya berpikir mengapa novel trilogi The Hunger Games laku, filmnya booming. Padahal ceritanya fantasi campur sadis, dimana para peserta The Hunger Games saling membunuh, dan peristiwa saling bunuh ini ditayangkan live ke semua penduduk. Mungkinkah film The Hunger Games laris karena jujur menggambarkan kehidupan manusia? Bukankah dalam kehidupan nyata manusia juga saling membunuh walau terkadang secara halus? Misalkan Perusahaan Tambang banyak yang “membunuh” masyarakat setempat dengan mengotori sungai, menghancurkan hutan sumber daya makanan, air minum dan obat-obatan alami penduduk lokal.

Bukankah dengan membeli buah, sayur, bawang impor sama dengan “membunuh petani-petani lokal? Banyak produk impor yang mematikan usaha dalam negeri kita, mengakibatkan banyak pengangguran sehingga banyak yang menjadi kriminal demi sesuap nasi atau untuk biaya pengobatan keluarga yang sakit.

The Hunger Games disukai mungkin karena menggambarkan diri manusia seadanya. Bahwa dalam kesadisan ada harapan, ada kasih-sayang yang muncul, kasih yang akan menyelamatkan peradaban manusia.

Sebagaimana dalam buku The Footprints of God karya Greg Iles:

“Seseorang dapat menjadi makhluk paling berbahaya jika dimasukkan ke dalam Trinity (program komputer yg mempunyai intelejensia sendiri. Silakan baca bukunya untuk penjelasan lebih lanjut). Naluri binatang diwariskan secara genetis. Istilah lembaran yang masih kosong sangat menyesatkan. Seorang anak berusia dua tahun adalah seorang diktator tanpa tentara.”

Seperti dalam buku Greg Iles The Footprints of God, The Hunger Games menggambarkan bahwa walaupun pada dasarnya manusia punya naluri kehewanan alias sadis, namun cinta yang tumbuh dalam diri manusia dapat menjadi harapan untuk menyelamatkan kehidupan di bumi. Demikian pula pesan dalam film The Hunger Games yang saya tangkap.

Namaste Beloved Friend _/l_

Tulisan ini dimuat juga pada blog saya www.rawinah-ranarty.com

Tags: film life cinta

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Pemangsa Anak-anak Sasar Sekolah-sekolah …

Jonas Suroso | | 24 April 2014 | 01:14

“Blocking Time” dalam Kampanye …

Ombrill | | 24 April 2014 | 07:48

Kota: Kelola Gedung Parkir atau Hunian …

Ratih Purnamasari | | 24 April 2014 | 13:59

Mengenal Infrastruktur PU Lewat Perpustakaan …

Kompasiana | | 21 April 2014 | 15:12

Mengenal Infrastruktur PU Lewat Perpustakaan …

Kompasiana | | 21 April 2014 | 15:12


TRENDING ARTICLES

Demam Masha and Bear, Lagi-lagi Film Animasi …

Heru Andika | 8 jam lalu

Senayan, Panggung Baru Para Artis… …

Iswanto Junior | 9 jam lalu

Nasib Capres ARB (Ical Bakrie) dan Prabowo …

Mania Telo | 10 jam lalu

Provokasi Murahan Negara Tetangga …

Tirta Ramanda | 11 jam lalu

Aceng Fikri Anggota DPD 2014 - 2019 Utusan …

Hendi Setiawan | 12 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: