Back to Kompasiana
Artikel

Film

Ferri Ahrial

Sastra Inggris Universitas Pasundan Bandung. Menulis di indonesiakreatif.net ferriahrial@hotmail.com Follow me on Twitter; @FerriAhrial selengkapnya

Perjuangan Mendapatkan Film Dokumenter “Contractpensions-Djangan Loepah!”

HL | 19 April 2012 | 19:52 Dibaca: 509   Komentar: 17   2

1334887987893127404

Sampul film

Beberapa hari yang lalu, saya mendengarkan salah satu stasiun radio luar negeri lewat Tablet Phone. Mendengarkan stasiun-stasiun radio luar negeri memang sudah menjadi rutinitas saya di setiap pagi. Selain mendengarkan berita ter-update seputar dunia, saya juga bisa belajar mendengarkan bahasa Inggris dari penutur aslinya. Tak biasanya,di pagi itu saya mendengarkan sesuatu yang ganjil ketika seorang penyiar radio tersebut menyembutkan sebuah kalimat singkat dalam bahasa Indonesia, “Jangan Lupa”. Kejadian tersebut membuat saya penasaran. Penyiar itu mengulangi kalimat “Jangan Lupa” dalam beberapa kali. Setelah saya dengarkan dengan serius pembicaraannya, ternyata penyiar sedang menginformasi sekilas tentang film dokumenter sejarah Indonesia-Belanda.

Tak ingin lengah, saya pun membuka laptop lalu mem-browsing film dokumenter yang dimaksud. Pencarian ini terbilang cukup memakan waktu yang lama. Saya mencoba-coba sembari menerka-nerka pencarian itu dengan berbagai keywords. Keberuntungan yang saya harapkan akhirnya datang. Sebuah judul film dokumenter kemudian hadir di mata. Contractpensions-Djangan Loepah!, ini lah judul film dokumenter yang disebut-sebut di stasiun radio pagi itu.

1334887939743069185

Sampul film

Akan tetapi, pencarian belum selesai sampai disitu. Saya ‘malah’ kebingungan dengan beberapa website yang muncul di layar laptop. Sebabnya, tak ada satu pun website dalam bahasa Indonesia yang membahas tentang itu. Hanya beberapa website dalam bahasa Belanda yang saya temukan. Satu demi satu saya mencoba membukanya. Alhasil, www.cinemadelicatessen.nl membuat saya semakin mengerti maksud dari perbincangan di radio pagi itu.

Kini saya mendapat informasi baru setelah membaca situs www.cinemadelicatessen.nl. Yang pertama, film dokumenter yang berjudul Contractpensions-Djangan Loepah! ialah sebuah film yang dibuat oleh Cinema Delicatessen (asal Belanda) di tahun 2009. Yang kedua, film itu menceritakan seputar sejarah Indonesia pada zaman kolonial Belanda. Yang ketiga, banyak narasumber yang mengisi dalam film itu ialah orang asli Belanda yang menjadi saksi sejarah Indonesia. Terakhir, film itu sempat diputar di beberapa bioskop di Belanda.

Keempat informasi tersebut membuat saya semakin penasaran dari sebelumnya. Saya mencoba mengirim e-mail yang tertuju kepada kontak-info Cinema Delicatessen. Yang isinya;

Dear Cinema Delicatessen,

As I saw on your website, you have created a film Contractpensions - Djangan Loepah!. I need some information: how could I get that film.
I am interesting in a cover of that documentary film. I hope you would give me the shortcut way for getting that film. Thank you.

Greeting from Bandung, Indonesia.

Perjuangan mencari informasi demi bisa menonton film dokumenter sempat terhenti dalam beberapa hari. Saya masih menunggu e-mail balasan dari Cinema Delicatessen. Beberapa hari kemudian, mereka membalas e-mail saya. Dan memberikan saya sebuah alamat e-mail salah seorang distributor film documenter di Belanda. Saya pun langsung mengirim e-mail kepada distributor itu dengan perihal yang sama; bagaimana caranya saya bisa mendapatkan film Contractpensions-Djangan Loepah!. Namun, sampai pada saat ini, belum ada balasan terkait yang saya maksud. Saya tak akan berhenti berjuang demi mendapatkan film dokumenter itu.

Pencarian dan penjelajahan ini sengaja saya lakukan dengan sungguh serius. Disamping mencari informasi dan pengetahuan yang banyak, saya berharap film dokumenter itu mampu memberikan penjelasan yang lebih akan sejarah Indonesia pada zaman kolonial Belanda. Bagi saya, pentingnya menonton film itu adalah melihat versi sejarah yang dibuat antara Indonesia dengan Belanda. Siapa tahu, versi sejarah Indonesia yang dibuat oleh Belanda berbeda dengan apa yang kita ketahui sebelumnya. Apalagi, bukti autentik dari kamera di dalam film itu tak akan mampu berbohong. Dan rakyat Indonesia harus tahu film dokumenter yang satu ini agar bisa banyak mengetahui sejarah dan bisa mengambil pelajaran berharga dari sejarah itu. (ferri)

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Jejak Indonesia di Israel …

Andre Jayaprana | | 03 September 2014 | 00:57

Ironi Hukuman Ratu Atut dan Hukuman Mati …

Muhammad | | 03 September 2014 | 05:28

Persiapan Menuju Wukuf Arafah …

Dr.ari F Syam | | 03 September 2014 | 06:31

Kasus Florence Sihombing Mengingatkanku akan …

Bos Ringo | | 03 September 2014 | 06:01

Tiga Resensi Terbaik Buku Tanoto Foundation …

Kompasiana | | 03 September 2014 | 08:38


TRENDING ARTICLES

Ini Nilai Ujian Kuliah Politik Pertanian …

Felix | 3 jam lalu

Florence Sihombing Disorot Dunia …

Iswanto Junior | 4 jam lalu

Manuver Hatta Rajasa dan Soliditas Koalisi …

Jusman Dalle | 5 jam lalu

Awasi Jokowi, Kita Bukan Kerbau Dungu …

Mas Wahyu | 6 jam lalu

Kekuatan Jokowi di Balik Manuver SBY di …

Ninoy N Karundeng | 12 jam lalu


HIGHLIGHT

Tur Eropa dan Blunder Lanjutan Timnas U-19 …

Mafruhin | 7 jam lalu

Catatan Perjalanan: +Nya Stasiun Kereta Api …

Idris Harta | 8 jam lalu

Oposisi Recehan …

Yasril Faqot | 8 jam lalu

Orangtua yang Terobsesi Anaknya Menjadi …

Sam Edy | 8 jam lalu

Indo TrEC 2014 : Mengurai Kekusutan Lalu …

Wahyuni Susilowati | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: