Back to Kompasiana
Artikel

Film

Rudini Sirat

Saya seorang mahasiswa yang menyukai kajian ekonomi sosialis. Anda jangan berpikir bahwa sosialis itu miskin, selengkapnya

Jika Kisah Gangster Indonesia Difilmkan

OPINI | 24 May 2012 | 11:35 Dibaca: 4162   Komentar: 0   0

Pembaca pasti tak asing lagi dengan nama Hercules, John Kei dan Basri Sangaji. Tiga pemimpin gangster terbesar di Indonesia yang tak pernah takut mati. Satu lagi gangster hebat sebelum tiga orang ini berkuasa, yakni Johny Sembiring. Negeri ini banyak sekali menyimpan cerita gangster, sebuah kehidupan nyata. Dunia gangster bukan fiksi belaka, kehidupan yang mempertaruhkan nyawa karena penuh dengan kekerasan. Banyak cerita pembunuhan dan perang menggunakan senjata tajam dalam kehidupan gangster. Bagi masyarakat yang tak melihat langsung kehidupan gangster hanya mengetahuinya dalam berita yang diekspos televisi, koran dan majalah saja. Itupun saat terjadi bentrok saja.

Kehidupan gangster hampir semuanya sama, penuh dengan kekerasan dalam menjalankan bisnisnya. Bedanya, jika gangster Amerika berdarah Italia bergerak dalam perdangagan barang dan jasa, gangster Indonesia sebagian besar sebagai Debt Collector. Untuk Hercules, John Kei dan kelompok Sangaji hanya menerima order tagihan yang nilainya di atas Rp 500 juta. Di bawah itu, mereka serahkan ke debt collector kecil.

Cerita mafia Italia yang berbisnis di Amerika atau di negerinya sendiri sudah banyak difilmkan. Kita pun dapat mengetahui kehidupan dunia gangster dan mafia lewat film. Atau gangster China dan Jepang dikenal oleh masyarakat juga lewat film-film. Seandainya kehidupan cerita gangster Indonesia difilmkan, masyarakat akan lebih mengenal dari dekat dunia semacam itu. Sayangnya sampai saat ini belum ada film yang mengisahkan kehidupan dan cerita gangster Indonesia.

Melihat Amerika Serikat, Italia, Jepang dan China justru kisah kehidupan gangster dan mafia sudah banyak difilmkan. Film Shinjuku Incident misalnya mengisahkan kisah para imigran China di kota Shinjuku Jepang yang harus berhadapan dengan Yakuza, kelompok kriminal Jepang yang terus melegenda hingga hari ini. Film ini diperankan oleh aktor kawakan Jacky Chan sebagai salah seorang imigran China memerankan Steelhead yang mencari kekasihnya di Jepang, hingga dia memperoleh posisi di kota Shinjuku. Tetapi dia tewas saat insiden berdarah antara geng China dengan Yakuza. Ini bukan fiksi, tapi film yang diangkat berdasarkan kisah nyata (by on real story).

Goodfellas, sebuah film yang diangkat berdasarkan kisah nyata di kota Brooklyn Amerika Serikat tahun 60-an. Film yang dirilis 19 September 1990 ini menceritakan seorang anggota gangster bernama Henry Hill yang sedari kecil menjadi seorang gangster. Mottonya adalah “Lebih baik menjadi seorang gangster dari pada Presiden Amerika Serikat”. Saat kecil Henry disukai oleh ketua gangster sekaligus pemilik kedai Pizza di kota tersebut. Henry berteman dengan Tomy Devito yang agak psikopat.

Kehidupan keras dan gaya preman merupakan profesinya. Dari mulai penjual narkoba, merampok hingga pembunuhan serta perusakan. Nasib memutuskan dirinya untuk berhenti menjadi gangster karena tertangkap FBI. Henry pun menjalani Witness Protection Program dan diminta membantu FBI membongkar gangster, hingga teman-temannya banyak yang masuk penjara.

Masih ingat dengan nama Al Capone? Pria berdarah Italia ini bernama lengkap Alphonso Gabriel Capone, seorang pemimpin mafioso legendaris tahun 1920-an yang menguasai kota Chicago melalui organisasinya bernama Chicago Outfit. Dia dijuluki Scarface karena memiliki luka di wajahnya sebagai ciri khas. Kerajaan bisnis digenggamnya melalui dunia kriminal. Bisnisnya bermacam-macam dari bisnis legal hingga illegal. Kisah Al Capone banyak difilmkan, diantaranya film berjudul Capone, The Untouchables, The Lost Capone dan masih banyak lagi. Belum lagi film-film gangster di Amerika banyak menyebut nama Al Capone. Bahkan judul The Untouchables digunakan beberapa kali dalam mengisahkan dunia kriminal Al Capone.

Nama-nama mafioso dan kehidupan gangster lain juga banyak difilmkan, misalnya film Gotti yang mengisahkan mafioso bernama John Gotti, film Boss of Bosses, American Gangster, Bonanno A Godfather’s Story, Donnie Brasco, Mobster, Murder.inc, Wiseguy, City of God, Il Capo Dei Capi yakni film mafia Italia yang berlatar kehidupan mafia di negeri Italia, dan masih banyak lagi segudang film yang mengangkat kisah gangster by on real story. Kisah gangster China yang bernama Triad dan gangster Jepang bernama Yakuza juga banyak menghiasi dunia perfilman. Namun film gangster Indonesia yang diangkat berdasarkan kisah nyata sepengetahuan saya belum pernah muncul.

Memang banyak film-film Indonesia bertema gangter, tapi semuanya fiksi. Bahkan gaya gangsternya banyak mengadopsi dari luar. Film Serigala Terakhir misalnya adopsi dari gangster China dan Italia. Ada juga film gangster fiksi, tapi bersifat komedi. Bahkan kalau mau dibilang komedi bagi saya tak ada lucunya sama sekali. Dalam dunia kriminal serta hukum di Indonesia banyak sekali yang dapat menjadi bahan cerita membuat film. Bahkan kisah para koruptor yang sudah terpidana dapat pula difilmkan.

Cerita gangster kelompok Hercules sangat menarik jika difilmkan, hingga Hercules menjadi seorang berjiwa sosial. Dia berharap anaknya tak mengikuti jejak sang ayah. Makanya Hercules menyekolahkan anaknya dengan serius. Kisah gangster yang ramai saat ini adalah kisah kelompok John Kei dan kelompok Basri Sangaji. Semua media mengisahkan kelompok ini setelah peristiwa penangkapan John Kei. Media massa banyak menceritakan kisahnya, dari mulai latar belakang, kehidupan kriminal hingga peperangan antara kelompok Kei dan Sangaji. Jika ada film bertema gangster Indonesia berdasarkan kisah nyata, tentu sangat menarik untuk ditonton.

sumber: http://rudinisirat.blogspot.com/2012/05/jika-kisah-gangster-indonesia-difilmkan.html

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Berburu Gaharu di Hutan Perbatasan …

Dodi Mawardi | | 29 November 2014 | 11:18

Jokowi Tegas Soal Ilegal Fishing, …

Sahroha Lumbanraja | | 29 November 2014 | 12:10

Menjadikan Produk Litbang Tuan Rumah di …

Ben Baharuddin Nur | | 29 November 2014 | 13:02

Kartu Kredit: Perlu atau Tidak? …

Wahyu Indra Sukma | | 29 November 2014 | 05:44

Ikuti Blog Competition ”Warna Warni Indah …

Kompasiana | | 24 November 2014 | 10:50


TRENDING ARTICLES

Jangan Tekan Ahok Lagi …

Mike Reyssent | 6 jam lalu

Ibu Vicky Prasetyo Ancam Telanjang di …

Arief Firhanusa | 6 jam lalu

Pak Jokowi, Dimanakah Kini “Politik …

Rahmad Agus Koto | 7 jam lalu

Ketika Jonru Murka #KJM …

Alan Budiman | 10 jam lalu

Anak Madrasah Juara 1 Olimpiade Indonesia …

Ahmad Imam Satriya | 10 jam lalu


HIGHLIGHT

Pulau Penyengat, Pulaunya Masjid Raya Sultan …

Akhmad Sujadi | 8 jam lalu

Gerdema: Saatnya Desa Mandiri, Saatnya Desa …

Amelya I. Fatma R. | 8 jam lalu

Selingkuh …

Mamang Haerudin | 8 jam lalu

Miskonsepsi: Fasilitator Pendidikan vs Orang …

Zuhda Mila Fitriana | 8 jam lalu

Analisis Dua Cerita Ulang Imajinatif: Asal …

Astari Kelana Hanin... | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: