Back to Kompasiana
Artikel

Film

Fajar Billy Sandi

I'm a hidden king of rock and roll

#26 A Week at the Movies: Deja Vu “The Amazing Spider-Man” Sebagai Kekecewaan Terbesar Tahun Ini

HL | 04 July 2012 | 07:08 Dibaca: 2197   Komentar: 37   2

The Amazing Spider-Man (2012) C+

13413413011718235263

Still of Emma Stone and Andrew Garfield in The Amazing Spider-Man (© 2012 - Columbia Pictures Industries, Inc. All Rights Reserved. **ALL IMAGES ARE PROPERTY OF SONY PICTURES ENTERTAINMENT INC)

Directed by Marc Webb
Starring: Andrew Garfield, Emma Stone, Rhys Ifans, Denis Leary, Martin Sheen, Sally Field

Jangan pernah punya ekspektasi setinggi langit terhadap suatu hal. Sebab, bila ekspektasi itu tidak terbayar, bisa sangat kecewa akibatnya. Hal ini terjadi dalam The Amazing Spider-Man. Bukan prequel dan juga bukan sequel, melainkan sebuah reboot (perihal reboot Spider-Man pernah saya jelaskan di sini) dari trilogi Spider-Man yang sukses dibesut oleh Sam Raimi dan menasbihkan Tobey Maguire sebagai sang manusia laba-laba. Di atas kertas film ini sangat menjanjikan, namun hasilnya jauh dari harapan.

Tanpa saya jabarkan sinopsis yang baru, penonton pun sudah familiar dengan kisah Spider-Man versi tahun 2002.

Peter Parker (Andrew Garfield) sedang dalam krisis identitas. Tinggal bersama Paman Ben (Martin Sheen) dan Bibi May (Sally Field) sejak kecil membuat Peter sebagai sosok yang nerd dan outcast. Peter sulit untuk menyesuaikan diri terhadap kehidupan sosialnya di sekolah, termasuk saat berinteraksi dengan Gwen Stacy (Emma Stone) yang merupakan pacar pertama Peter sebelum bertemu MJ. Di saat yang bersamaan, keingintahuan Peter perihal kedua orang tua yang meninggalkannya, membawanya kepada perusahaan Orscop yang memiliki semua jawaban tersebut. Orscop tengah melakukan riset terhadap mutasi hewan yang dipimpin oleh Dr. Curt Connors (Rhys Ifans). Tanpa sengaja, Peter masuk ke dalam ruangan laba-laba mutasi dan salah satu laba-laba tersebut menggigit Peter. Inilah awal yang mengubah sosok lemah Peter Parker, menjadi pahlawan super Spider-Man.

Berharap akan ada hal baru, yang terjadi justru sebaliknya. Deja vu terhadap apa yang sudah Sam Raimi lakukan sepuluh tahun lalu. Sony dan Marvel menjual film ini sebagai reboot, namun hasilnya nihil. Cerita asal mula lahirnya Spider-Man dikisahkan dengan cara yang sama, lewat alur yang mirip, penempatan tokoh yang mirip, dan ironisnya, rangkaian adegan yang mirip. Oke, ada beberapa tokoh yang berbeda yang lebih mendekati ke cerita awal di komik, tapi hal ini yang membuat cerita asal mula Spider-Man sendiri kebingungan. Ditambah dengan alur menggantung yang seakan-akan sudah diset oleh Sony dan Marvel sebagai franchise baru Spider-Man. Lalu, ingin dibawa kemana sebenarnya alur cerita Spider-Man? Jawabannya ada pada industri dan kapitalisme Amerika.

Perlu dicatat, bagi sebuah film adaptasi, tidak perlu dilakukan penceritaan dengan sudut pandang yang sama seratus persen dengan aslinya. Komik dan film adalah dua media yang berbeda. Bila dipaksakan mirip, point yang ingin disampaikan tidak tersalurkan dengan baik. Adaptasi yang banyak melanggar cerita aslinya justru lebih berhasil seperti Harry Potter and the Prisoner of Azkaban atau Snow White and the Huntsman. Mengapa tiga film Spider-Man terdahulu bisa sukses? Sebab para penulis maupun sutradaranya berhasil meramu kreativitas puluahn komik Spider-Man ke dalam medium film berdurasi dua jam. Sedangkan The Amazing Spider-Man hanya mengulang cerita lama dengan pola waktu yang sama.

Apalgi The Amazing Spider-Man diberikan label reboot, penceritaan ulang dari nol. Batman dengan Batman Begins dan The Dark Knight bisa sukses karena Christopher Nolan berhasil meramu Batman ciptaan Bob Kane dengan Batman yang ada dipikirannya. Atau ketika James Bond harus tampil secara kasar dalam Casino Royale. Sedangkan Spider-Man di sini tidak berubah sama sekali. Mungkin karena penulis naskah The Amazing Spider-Man adalah James Vanderbilt dan Alvin Sargent, dua orang dibalik Spider-Man 2 dan Spider-Man 3, sehingga cerita lama masih tidak bisa dipisahkan.

Reboot ini sangat menyia-nyiakan bakat yang ada di dalamnya. Marc Webb, yang dengan gemilang menyutradarai komedi romantis (500) Days of Summer justru terperosok dalam kebingungan Spider-Man. Tidak salah bila sutradara film romcom harus mengepalai film aksi pahlawan super, karena toh fokus The Amazing Spider-Man juga lebih pada percintaan Peter dan Gwen. Emma Stone juga membiarkan karakter Gwen Stacy hilang. Emma Stone berperan sebagai Gwen Stacy tanpa menjadi Gwen Stacy, justru menjadi dirinya sendiri. Padahal Emma Stone bukan akrtis yang jelek.

Yang patut disorot adalah sosok Andrew Garfield. Aktor muda brilian yang bersinar dalam The Social Network tidak bisa menyamai karisma Tobey Maguire. Peter Parker di sini lebih pada nerd dan outcast jaman sekarang, yang sadar teknologi dan tidak terlalu terbuang, sangat berbeda dengan penggambaran asli Peter Parker. Peter ala Garfiled kurang menggigit dan bukan Peter Parker. Spider-Man sudah menjadi sosok ikonik milik Tobey Maguire, persis seperti sosok Superman yang sudah tidak tergantikan lewat Christopher Reeve.

Reboot The Amazing Spider-Man ini juga kosong akan makna. Bila dulu makna yang disampaikan cukup dalam, mengenai tanggung jawab yang besar, seperti apa yang diucapkan Paman Ben, “with great power, comes great responsibility.” Maka dalam film ini makna tanggung jawab masih ada, yang baru mungkin perihal janji dan pencarian jati diri.

Untuk urusan spesial efek dan CGI tidak usah ditanya, 3D-nya cukup memuaskan meskipun durasi 136 terasa lama sehingga saya mengecek jam hingga tiga kali.

Hanya satu hal yang saya suka dari reboot ini, penggunaan lagu Til Kingdom Come milik Coldplay. Penggunaan lagu tersebut sangat tidak disangka dan memberikan kedalaman karakter Peter Parker, baik terhadap sosok Peter sendiri, maupun sosok Spider-Man. Pada lirik ini:

The wheels just keep on turning,
The drummer begins to drum,
I don’t know which way I’m going,
I don’t know which way I’ve come.

yang secara tersirat menggambarkan ketakutan Peter, ketakutan akan dunia baru yang sedang dia hadapi, yaitu menjadi sosok Spider-Man, dan ketakutan akan masa lalunya, pencarian kedua orang tuanya. Bila hal ini bisa digali lebih dalam, The Amazing Spider-Man akan jauh lebih baik dari ini. Tidak terjebak dalam stereotip cerita asal mula pahlawan super. Salah satu kekecawaan terbesar di tahun 2012. (FBS)

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

[PENTING] Panduan ke Kompasianival 2014, …

Kompasiana | | 18 November 2014 | 15:19

Sensasi Menyelam di Tulamben, Bali …

Lisdiana Sari | | 21 November 2014 | 18:00

Inilah Daftar Narasumber yang Siap Beraksi …

Kompasiana | | 20 October 2014 | 15:40

Jadi Perempuan (Tak Boleh) Rapuh! …

Gaganawati | | 21 November 2014 | 15:41

Kompasiana Akan Luncurkan “Kompasiana …

Kompasiana | | 20 November 2014 | 16:21


TRENDING ARTICLES

Tak Berduit, Pemain Bola Indonesia Didepak …

Arief Firhanusa | 13 jam lalu

Rakyat Berkelahi, Presiden Keluar Negeri …

Rizal Amri | 16 jam lalu

Menteri Hati-hati Kalau Bicara …

Ifani | 16 jam lalu

Pernyataan Ibas Menolong Jokowi dari Kecaman …

Daniel Setiawan | 17 jam lalu

Semoga Ini Tidak Pernah Terjadi di …

Jimmy Haryanto | 18 jam lalu


HIGHLIGHT

Malaysia Juga Naikan Harga BBM …

Sowi Muhammad | 8 jam lalu

Salam Kompasianival Saudara …

Rahab Ganendra | 9 jam lalu

Menulis bagi Guru, Itu Keniscayaan …

Indria Salim | 9 jam lalu

Gerdema, Mentari Indonesia Dari Ufuk Desa …

Emanuel Dapa Loka | 9 jam lalu

Menjaga Stabilitas Sistem Keuangan …

Herman Wahyudhi | 9 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: