Back to Kompasiana
Artikel

Film

Fajar Billy Sandi

I'm a hidden king of rock and roll

Politik dalam Film: Kompleksitas Dunia Kotor dalam Ranah Hiburan

OPINI | 11 July 2012 | 15:00 Dibaca: 230   Komentar: 0   0

1341943374931689165

The Ides of March (Sony), Election (Paramount), Milk (Universal)

Saya sangat benci dengan politik. Bagi saya politik hanyalah sebuah pepesan kosong, tanpa makna dan penuh penipuan. Politik pun bisa dijadikan sebagai alat persembunyian bagi sebagian pengecut yang memperalat rakyat demi tujuan memuaskan diri sendiri. Politik pada dasarnya terjadi hampir di semua sisi kehidupan manusia, bukan hanya di parlemen. Mungkin politik di parlemen adalah politik resmi, yang diakui keberadaannya oleh negara. Sedangkan dalam kehidupan bermasyarakat, banyak praktek politik informal yang tanpa sadar kita jalani setiap hari.

Menarik ketika sebuah film membicarakan politik. Film yang notabene adalah bentuk hiburan harus membicarakan sebuah politik. Tanpa disadari pula, politik juga merupakan sebuah hiburan. Drama satir tentang segelintir orang yang berhasil mempermainkan orang lain. Saya pun yang benci politik ternyata bisa menikmati film tentang politik.

Sekilas yang saya lihat dari sebuah politik adalah tiga hal, yaitu pencitraan, ambisi, dan perubahan. Pencitraan pada saat seseorang dunia politik harus membangun image dirinya sebaik mungkin, bahkan bisa menyamakan seorang dewa, dan orang tersebut memiliki ambisi yang besar untuk menang serta berusaha melakukan perubahan-perubahan demi sesuatu yang lebih baik. Sekilas tiga hal tersebut terlihat positif, namun bisa menjadi momok ketika salah memainkannya. Sebab, masing-masing hal tersebut tidak bisa didapat secara gratis. Uang memang berbicara segalanya. Tapi, selain uang, ada harga lain yang harus dibayar, yaitu sebuah kekecewaan.

13419429941243621822

Still of Ryan Gosling in The Ides of March (Photo by Saeed Adyani - © 2011 IDES FILM HOLDINGS, LLC. ALL RIGHTS RESERVED. **ALL IMAGES ARE PROPERTY OF SONY PICTURES ENTERTAINMENT INC. FOR PROMOTIONAL)

Yang harus dibangun dari seorang yang ingin berkecimpung ke dunia politik adalah sebuah pencitraan. Pencitraan dilakukan secara “jual diri.” Seorang politikus menjual dirinya ke publik, dengan segala hal-hal positif, entah itu dirinya pintar, memiliki latar belakang keluarga yang baik, memiliki karier yang gemilang, dan lain sebagainya. Hal inilah yang dilakukan oleh Mike Morris (George Clooney), seorang calon presiden dari partai demokrat dalam film The Ides of March (2011). Dibentuklah tim kampanye yang andal, demi membangun citra kehidupan profesional maupun kehidupan pribadi Morris agar mampu mendulang banyak suara. Tanpa disadari, seorang juru kampanye junior Morris, Stephen Meyers (Ryan Gosling), tengah berada di dalam sebuah panggung jebakan yang isinya seputar kebohongan, penipuan, dan persaingan. Banyak pihak yang ikut campur demi menjatuhkan Morris, termasuk dari sang kompetitor Ted Pullman (Micahel Mantell). Yang publik lihat dari luar adalah hal-hal baik dari semua pihak, padahal dibalik itu semua ada berbagai macam kebusukan yang dilakukan Morris, tim kampanyenya sendiri, maupun sang kompetitor. Politik tidak jauh dari sebuah wajah bertopeng. Dibalik kilau gemilang topeng, memungkinkan tersimpan sebuah rahasia gelap. Terbukti bahwa politik adalah permainan yang kotor walaupun dibangun dengan semangat yang positif. (trailer di sini)

1341943140219947257

Still of Matthew Broderick and Reese Witherspoon in Election (© Copyright 1999 - Paramount Pictures - All rights reserved.)

Kemudian, seorang yang berkecimpung di dunia politik pasti mempunyai ambisi yang besar. Dari ambisi yang besar itu, baik dari orang yang mencalonkan diri maupun tidak, seseorang bisa menghalalkan segala cara demi ambisinya tercapai. Apalagi kalau bukan demi menang dalam pemilihan atau melihat lawannya kalah. Ternyata hal ini pun bisa terjadi di lingkungan sekitar, ditambah mengejutkannya dengan melibatkan beberapa anak muda. Inilah yang terjadi pada diri siswi SMA yang pintar bernama Tracy Flicks (Reese Witherspoon) dalam film Election (1999). Tracy yang sangat terobsesi untuk menjadi seorang ketua (yang mungkin setingkat dengan) OSIS di SMA-nya. Demi capaian sebagai ketua OSIS ini, Tracy rela melakukan hal apa pun, termasuk tidur dengan sang guru. Hal ini menjadi bumerang bagi Tracy hingga akhirnya dia melakukan berbagai macam sabotase. Walaupun akhirnya tetap menang dan memiliki karier politik yang cemerlang, banyak “tangan kotor” yang mencampuri urusan Tracy. Dan yang mengejutkan, hal tersebut justru dilakukan oleh Mr. McAlister(Matthew Broderick), guru Tracy sendiri, dengan memprovokasi siswa-siwi lain agar mencalonkan diri menjadi ketua OSIS. Sebuah potret satir tentang makna pemilihan ketua dari hal yang paling kecil, yaitu yang sering kita lakukan sehari-hari. (trailer di sini)

13419432461826527891

Still of Emile Hirsch in Milk (© 2008 - Universal Studios)

Dan yang terakhir adalah sebuah perubahan. Seseorang yang berkecimpung dalam politik pasti ingin mengubah sesuatu menjadi lebih baik. Hal inilah yang dilakukan oleh Harvey Milk (Sean Penn) dalam film biografi berjudul Milk (2008). Harvey Milk adalah seorang aktivis kaum homoseksual di dekade 70-an yang ingin memperjuangkan hak-hak kaumnya agar sederajat dengan yang lain. Bahwa manusia diciptakan sama oleh Tuhan tanpa adanya perbedaan. Dengan dasar inilah, Harvey Milk berani mencalonkan diri ke dalam parlemen dan menjadi politikus gay pertama di Amerika yang terpilih dalam kongres. Walaupun memiliki maksud dan tujuan yang baik, usaha Milk tidak berjalan dengan mulus. Muncul seseorang yang sangat bertolak belakang dengan Harvey Milk, yaitu Dan White (Josh Brolin) yang kelak membunuh Harvey Milk di saat Milk tengah merayakan kemenangan atas hal yang selama ini telah ia perjuangkan. Ada harga yang harus dibayar mahal, yaitu dengan nyawa. Dalam politik, tidak ada kata benar atau salah, namun yang terpenting ketika apa yang kita mau harus tercapai. Susah untuk menjelaskan sosok Milk, seorang malaikat yang sekaligus seorang kotor yang bekecimpung di politik. Walaupun Milk mungkin harus “kalah,” namun apa yang ia lakukan membawa perubahan yang signifikan hingga hari ini. Salah satu contoh perubahan dalam politik yang membawa nafas segar bagi kesetaraan. (trailer di sini)

Politik, sebuah kata yang memiliki banyak makna, yang bisa mengubah segala sesuatu atau bahkan menghancurkannya. Politik bukan hal yang mudah untuk dimengerti. Bahkan terlalu kompleks. Mungkin ini yang membuat saya tidak mengerti dengan alur politik di negeri ini. Politik mungkin ibarat sebuah hidangan cantik. Semuanya sama-sama menampilkan yang terbaik di atas meja, namun ada maksud terselubung yang menharuskan kita untuk hati-hati dalam menikmatinya. Atau jangan-jangan kita sudah terlena dengan hidangan politik tersebut. Ah, untungnya masih ada politik dalam film. Jadi saya masih bisa terhibur. Selamat memilih! (FBS)

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Membayar Zakat Fitrah di Masjid Turki, …

Gaganawati | | 27 July 2014 | 22:27

Kiat Menikmati Wisata dengan Kapal Sehari …

Tjiptadinata Effend... | | 27 July 2014 | 19:02

Indahnya Perbedaan :Keluarga Saya yang Dapat …

Thomson Cyrus | | 27 July 2014 | 19:45

Ini Rasanya Lima Jam di Bromo …

Tri Lokon | | 27 July 2014 | 21:50

Punya Gaya “Make Up” Menarik? …

Kompasiana | | 09 July 2014 | 00:21


TRENDING ARTICLES

Temuan KPK: Pemerasaan Pada TKI Capai Rp 325 …

Febrialdi | 26 July 2014 22:14

KPK Lebih Dibutuhkan TKI Ketimbang TNI, …

Fera Nuraini | 26 July 2014 19:21

Taruhan Kali Ini Untuk Jokowi dan Demokrasi …

Hosea Aryo Bimo Wid... | 26 July 2014 19:19

Surat Lebaran untuk Emak …

Akhmad Mukhlis | 26 July 2014 14:40

Daftar Kompasioner yang Berkualitas …

Hendrik Riyanto | 26 July 2014 13:29

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: