Back to Kompasiana
Artikel

Film

Puri Areta

Seven Deadly Sins: Wealth without work-Pleasure without conscience-Science without humanity-Knowledge without character-Politics without principle-Commerce without selengkapnya

Film Kartun “Si Unyil” Versus “Upin dan Ipin”

OPINI | 12 November 2012 | 17:18 Dibaca: 3892   Komentar: 2   0

1352714433916605301

Drs Suyadi atau Pak Raden bersama Boneka Si Unyil karyanya. (foto: pelitanews.com)

Para orang tua harus jeli dalam memilih tayangan film animasi bagi anak-anaknya. Tak semua film animasi atau film kartun anak-anak baik ditonton oleh anak-anak. Ada sejumlah film kartun anak-anak yang justru menyodorkan kekerasan.

Adegan kekerasan ini tidak pantas ditonton anak-anak. Oleh sebab itu orang tua harus lebih hati-hati dan selektif. Ada baiknya para orang tua menonton terlebih dahulu film kartun tersebut. Kalau cerita kartun tersebut terkandung nilai-nilai luhur, barulah anak-anak boleh menyaksikannya.

Sudah sejak lama film kartun (luar negeri) yang beredar saat ini banyak yang menyuguhkan adegan perkelahian dengan menggunakan benda-benda tajam seperti pedang atau pisau. Atau kalau tidak menggunakan benda tajam, tokoh dalam film kartun kadang juga berduel adu otot dengan tangan kosong.

Walaupun tidak menggunakan benda tajam, tetap saja adegan duel atau perkelahian ini tak patut dilihat anak-anak. Sebab terkadang dalam perkelahian tersebut si lawan yang tadi diajak berkelahi tersebut bercucuran darah hingga tewas.

Selain adu fisik yang disuguhkan film-film animasi tersebut, yang tidak kalah seramnya adalah sering kali terdengar umpatan atau teriakan kasar yang mengancam akan membunuh lawannya.

Semua tayangan kekerasan tersebut dikhawatirkan akan diserap bulat-bulat oleh anak-anak. Jangan sampai pada akhirnya anak-anak mengira apa yang dilakukan para tokoh film kartun yang ditontonnya tersebut adalah hal yang wajar. Hingga tanpa sadar mereka meniru adegan kekerasan tersebut.

Yang memperihatinkan, ada sebuah tayangan film kartun binatang; sebenarnya tokohnya lucu dan menggemaskan, tetapi sayang sering memukuli lawannya. Sepintas adegan tersebut lucu karena dilakukan binatang lucu, tetapi hati-hati…anak-anak akan salah menafsirkannya.

Entah apa yang terpikirkan pada beberapa pembuat film kartun anak-anak ini. Ada baiknya sebelum memproduksi sebuah film kartun anak-anak para pembuat film kartun ini mempertimbangan pula segi psikologis untuk anak. Jadi bukan melulu keuntungan yang berlipat ganda tetapi merusak jiwa anak-anak, calon generasi muda penerus bangsa.

Namun syukurlah, diantara tayangan film kartun yang berbau kekerasan tersebut, masih ada tayangan film yang mendidik, misalnya Dora si petualang, Franklin si kura-kura, dan terakhir yang sekarang ini sedang digemari anak-anak adalah seri animasi Upin dan Ipin.

Upin dan Ipin adalah film seri animasi anak-anak berdurasi sekitar lima sampai tujuh menit. Upin dan Ipin merupakan dua orang anak kembar berusia lima tahun.

Cerita yang diangkat sebenarnya sangat sederhana dan ringan karena menyangkut kehidupan sehari-hari. Namun dari kesederhanaan cerita inilah sarat akan nasehat dan budi pekerti yang baik. Dalam tayangan ini tak pernah dijumpai adegan kekerasan. Para tokohnya selalu berbicara santun.

Semuanya diceritakan dari sudut pandang anak-anak yang berusia lima tahun dengan cara yang sederhana, lucu dan menggelikan. Nenek mereka, Opah dan Kakak Ros, akan memberi mereka nasihat dan bimbingan.

Upin dan Ipin merupakan film kartun buatan Malaysia yang diproduksi oleh Les’ Copaque sejak tanggal 14 September 2007. Di Malaysia film kartun yang menggemaskan ini dapat dilihat setiap sore hari di TV9. Sedangkan di Indonesia ditayangkan pagi hari di MNCTV. Film animasi Upin dan Ipin ini ternyata kini juga digemari oleh anak-anak di negara Turki melalui Hilal TV.

Kisah-kisahnya yang sederhana tetapi bersahaja mengingatkan saya pada serial boneka si Unyil yang pernah tayang di televisi milik pemerintah Indonesia, TVRI pada tahun 1981 sampai 1993.

Tontonan yang seperti inilah yang sebenarnya dibutuhkan anak-anak, bukan kekerasan.

Selain kental dengan nuansa budaya Melayu, film kartun Upin dan Ipin menyiratkan nilai persahabatan tanpa membeda-bedakan teman. Tengok saja tokoh-tokoh teman Upin dan Ipin yang mempunyai latar belakang budaya yang beragam. Dikisahkan, bahwa Ipin Upin adalah anak Melayu asli yang tinggal di sebuah desa yang tentram dan indah.

Kedua anak kembar ini mempunyai teman bernama Rajoo. Rajoo merupakan keturunan India. Ia lebih tua lima tahun dibandingkan Upin dan Ipin. Itulah sebabnya Rajoo saying kepada mereka. Ketiganya selalu bermain bersama.

Selain itu ada lagi seorang teman bernama Mei Mei yang keturunan Cina. Mei Mei ini teman sekelas Upin dan Ipin. Selain cantik, Mei-Mei adalah anak terpintar di kelasnya.

Upin dan Ipin juga punya teman sekelas keturunan Sikh Benggali yang bernama Jarjit. Dia pandai berpantun dan hobi membuat teka-teki.

13527151552070342865

Upin dan Ipin juga kedatangan teman baru dari Indonesia bernama Susanti. Susanti baru pindah dari Indonesia ke Malaysia. Tokoh Susanti pertama kali muncul pada episode “Berpuasa Bersama Kawan Baru.”

Walaupun tokoh Upin dan Ipin adalah tokoh anak-anak, ternyata penggemarnya bukan cuma anak-anak kecil. Upin dan Ipin digandrungi pula oleh para remaja dan para orang tua.

Banyak orang tua yang selalu meluangkan waktunya untuk menyaksikan tayangan Upin dan Ipin di televisi. Ini masuk akal sebab dalam film ini ada sejumlah tokoh orang dewasa yang dekat dengan si kembar. Antara lain Kak Ros yang merupakan kakak Upin dan Ipin. Mak Uda atau Nenek Uda yang mengetahui banyak hal duniawi dan keagamaan. Ia lebih sering dipanggil Opah.

Kemudian ada Cikgu Jasmin atau Bu Guru Jasmin. Ada Dato Tuan Dalang Rangikek yang merupakan orang kaya, tetangga Upin dan Ipin. Badrol si cucu Dato Tuan Dalang Rangi yang sangat menyukai Kak Ros.

Nah, serial Si Unyil bukan merupakan film kartun, tetapi merupakan film tokoh boneka di TVRI yang pernah ditayangkan setiap hari Minggu siang sejak tahun 1981 sampai 1993.

Film seri boneka ini mempunyai tokoh utama seorang anak bernama di Unyil. Film ini juga sarat dengan pesan moral yang baik.

Si Unyil selalu tampil memakai sarung dan peci hitam. Dia juga tinggal di desa yang damai dan tentram bersama teman-temannya yang berasal dari dari suku bangsa yang beragam, Ucrit, Usrok, Cuplis serta Melany. Ada juga tokoh dewasanya antara lain yaitu ayah, ibu, Pak Raden, Pak Ogah, dan Ableh. Saat ini boneka-boneka si Unyil telah menjadi koleksi Museum Wayang di Jakarta.

Sebenarnya Indonesia punya tokoh cerita anak yang kekuatan kisahnya tak kalah bagus dengan Upin dan Ipin. Siapa lagi kalau bukan  tokoh Si Unyil. Tokoh Si Unyil jika dibuat dalam format kartun  pasti bagus sekali. Siap-siap deh serial kartun Upin dan Ipin dapat pesaing baru jika serial kartun Si Unyil dari Indonesia benar-benar akan dibuat! Saya rasa lebih baik seperti itu daripada tokoh si Unyil dan teman-temannya cuma jadi penghuni bisu di Museum Wayang. Sayangnya masalah sengketa hak cipta Si Unyil sampai detik ini belum beres.

Ayolah Perum Produksi Film Negara (PPFN), berikan kembali hak cipta si Unyil pada penciptanya yang asli yaitu Pak Raden alias Drs Suyadi. Di tangan Drs Suyadi inilah maka si Unyil akan menghaluskan budi pekerti anak Indonesia karena kisahnya yang tak kalah bagus dengan Upin dan Ipin. Dimana hati nuranimu PPFN!  Percuma saja PPFN ngotot mempertahankan Si Unyil dalam genggaman tangannya.  Bukankah selama berada di tangan PPFN Si Unyil mati suri. Si Unyil akan bisa berjaya seperti dulu bila ditangani oleh penciptanya yang asli Drs Suyadi.

Sebagai informasi, sampai saat ini Pak Raden masih memperjuangan hak cipta Si Unyil ke Direktorat Hak Kekayaan Intelektual, Kementerian Hukum dan HAM. Hak cipta Si Unyil dimiliki Perum Produksi Film Negara (PPFN). Dahulu Pak Raden tak terlalu memperdulikan tentang hak cipta ini. Namun kini Pak Raden sungguh menyesalinya. (Puri Areta)

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Bila Gagal Lulus UN …

Sayidah Rohmah | | 16 April 2014 | 10:34

Nujuman Jusuf Kalla di Arena Pilpres …

Yusran Darmawan | | 16 April 2014 | 10:32

Mengapa Pembunuhan Kennedy Tak Pernah …

Mas Isharyanto | | 16 April 2014 | 06:25

Menilik Macan Putih, Pahlawan Superhero …

Rokhmah Nurhayati S... | | 15 April 2014 | 21:51

Yuk, Ikuti Kompasiana Nangkring bareng …

Kompasiana | | 15 April 2014 | 20:47


TRENDING ARTICLES

Memalukan! Kapten Persebaya dan Pelatih …

Ethan Hunt | 3 jam lalu

Benarkah ‘Bertemu Dubes AS, Jokowi …

Kosmas Lawa Bagho | 4 jam lalu

Belum Semua Kartu Jokowi Terbuka …

Hanny Setiawan | 12 jam lalu

Yess, Jokowi Berani Menantang 10 Partai …

Galaxi2014 | 13 jam lalu

Inikah Pemimpin yang Kalian Inginkan? …

Mike Reyssent | 13 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: