Back to Kompasiana
Artikel

Film

Elvi Bandanaku

simple, single and happy, chubby, lite traveller, heritage lover, cycling foldingbike bandanaku.wordpress.com

Mahameru Ternoda 5 cm

REP | 18 December 2012 | 17:22 Dibaca: 32016   Komentar: 25   1

Mahameru atau yang lebih dikenal dengan Puncak  Gunung Semeru, gunung tertinggi di Jawa. Belakangan sedang ramai diperbincangkan. Biasaya Mahameru hanya ramai jadi topik pembicaraan sekelompok penggiat kegiatan alam, atau menyebut dirinya ‘Pencinta Alam’, tapi kali ini perbincangan telah melenceng memasuki ranah yang berbeda, yaitu sekelompok awam, yang selama ini tak terpikirkan menjejakkan kakinya di gunung, apalagi gunung tertinggi di Jawa, berkat sebuah buku yang difilmkan berjudul 5 cm.

Semeru adalah rumah dewa, tanah tertinggi di tanah jawa, Mahameru adalah tempat yang suci. Sedemikian Agungnya Mahameru, sehingga menjadikan salah satu impian pendakian bagi para pencinta alam, menjadi tempat ritual yang disucikan, bahkan ada salah satu sahabat yang melamar pasangannya di Ranukumbolo, dan sempat juga melihat cuplikan photo-photo pasangan yang menikah di puncak Mahameru.

Gunung Semeru dengan puncak Mahameru, saya pernahmenggapainya lebih dari 10 tahun lalu, kala itu saya memberanikan diri untuk ikut dalam pendakian yang diadakan oleh abang2ku di salahsatu kelompok pencinta alam - fyi saya tak pernah menjadi member salah satu kelompok penggiat pencinta alam - , salah satu alasan terbesarku untuk ikut pendakian ke Semeru adalah ‘membayarkan hutang janji’ pada sahabatku Alm. Hafidhin Royan yang meninggal pada peristiwa 12 Mei’98, saat itu kami dan beberapa sahabat di kampus berencana untuk mendaki Semeru di liburan semester.

Pendakian ke Semeru tidak bisa di anggap remeh, apalagi untuk saya yang jarang-jarang mendaki gunung. Sebenarnya tidak cukup PD untuk mengikuti pendakian, sehingga untuk membantu meningkatkan kekuatan fisik, saya di latih oleh abang-abangku untuk maraton, dan olah raga berat lainnya, rutin selama satu bulan menjelang keberangkatan menuju gunung Semeru.

Saya sebenarnya bukan pendaki gunung, saya hanya penikmati jalan-jalan, sehingga kemanapun hayuk. Pengalaman mendaki Semeru dengan pemandangannya yang spektakuler merupakan salah satu pengalaman yang luarbiasa yang pernah saya lakukan, kenangannya terus melekat, walau sudah bertahun-tahun lalu, hingga euforia film 5 cm menyentil kami. Kenangan indah dan cerita-cerita selama pendakian Semeru kembali terbuka, seperti membuka photo lama yang penuh cerita.

Sebelum menonton film 5 cm saya sudah membaca bukunya, terlalu drama buat saya, sehingga saya skip beberapa bab di awal demi langsung membaca cerita perjalanan di Semeru. Di buku tertulis secara detail lanscape ranu pane, perjalanan menuju ranu kumbolo melintasi jalur sempit (jalurnya masih sempit dan bersisian dengan jurang) dan pesona sunrise di Ranu Kumbolo. Derita mendaki dari kali mati hingga puncak dan melewati arcopodo dan cemoro tunggal (beneran satu-satunya pohon cemara di tengah hamparan pasir). Semua tulisan pada buku 5 cm bagi saya seperti membaca pengalaman pribadi yang pernah saya alami saat mendaki Mahameru.

Lalu filmnya tayang, seminggu ini begitu menggelegar, di beberapa studio bahkan di tayangkan pada 2 cinema. Abang-abangku seperjalanan ke Semeru tiba-tiba menyolek ngajak nonton bareng, demi memuaskan kerinduan kami pada Semeru.

Tapi….ternyata kami menonton sinetron berlatar kecantikan Semeru. View Semeru cukup membayar kerinduan kami akan Ranu Kumbolo, Tanjakan Cinta, Kalimati dan Mahameru, tapi jalan cerita….zzzz….pas

Entahlah, saya bukan penganalisa film, sekali lagi saya Cuma penikmat saja. Dari keseluruhan film, bagian yang kami tunggu-tunggu hanya saat-saat di Semeru, pemandangan keindahan alamnya, selebihnya biasa saja. Bagi kami film ini adalah sangat sinetron sekali, seperti tokoh perempuan naik gunung dengan make up dan asesoris (boro2 make up, pake sunblock aja dah syukur banget saat pendakian), baju yang bagi saya, tidak nyaman untuk pendakian (celana jeans ketat….haallloooooww…ini gunung neng bukan mol) serta tas asesories yang terlihat ringan dan kosong menjadi pemanis punggung…alih2 nonton, kami malah jadi ngobrol bisik2 dan cekikian sama tetangga melihat penampilan yang sangat sinetron tersebut, heehheheee

Konon, menurut info di balik layar, selama pembuatan film 5 cm, kawasan TN Semeru menjadi tercemar, rusak dan bersampah berat. Entah apa yang mereka (pemain, crew dan pendukung film 5 cm) lakukan pada tempat yang begitu indah dan damai, rusak oleh suatu komersialitas dan kapitalitas dengan menjadikannya tempat sampah raksasa. Entah kenapa sepertinya menyampah adalah sesuatu yang ‘Indonesia Banget’…malu jadinya. Tidak seharusnya sampah mengotori Taman Nasional Semeru, sekiranya saja mereka (pemain, crew dan pendukung film 5 cm) peduli dan mau mengenal apa itu Taman Nasional Semeru, seharusya bukan sampah yang mereka berikan, tapi ternyata mereka tak perduli.

Jangan sampai seusai menonton 5cm, berbondong-bondonglah orang-orang tua, muda, miskin, kaya tanpa pengawasan dan pengalaman mendaki Semeru, seakan mendaki Semeru begitu mudahnya seperti yang perpapar di film 5 cm dan bertindak semena-mena terhadap tanah cantik itu. Sekedar untuk diketahui bahwa setiap tahun selalu ada korban dalam pendakian Gunung yang ceroboh dan tak menghargai alam, dimanapun itu.

Tapi…bagaimanapun, saya salut untuk seluruh pemain dan crew film 5 cm berhasil menggapai puncak Mahameru, dengan apapun daya usahanya, karena Mahameru bukan sembarang tempat yang mudah digapai….

Ada sebuah lagu yang menjadi lagu wajid kami untuk mengenang kecantikan Semeru, berikut petikan baitnya :

Di jenjang Desember kudatang padamu

Kubimbing kau ke lereng Semeru

Kubelai rambut nan indah, kau tertunduk malu

Oh indahnya Mahameru

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Agnezmo Masuk Final Nominasi MTV EMA 2014, …

Sahroha Lumbanraja | | 16 September 2014 | 19:37

60 Penyelam Ikut Menanam Terumbu Karang di …

Kompas Video | | 16 September 2014 | 19:56

“Penjual” Perdamaian Aceh …

Ruslan Jusuf | | 16 September 2014 | 17:33

Musim Semi di Australia Ular Berkeliaran …

Tjiptadinata Effend... | | 16 September 2014 | 15:54

Ibu Rumah Tangga, Profesi atau Bukan? …

Mauliah Mulkin | | 16 September 2014 | 13:13


TRENDING ARTICLES

Ahokrasi, Tepat dan Harus untuk Jakarta …

Felix | 12 jam lalu

Norman K Jualan Bubur, Tampangnya Lebih Hepi …

Ilyani Sudardjat | 12 jam lalu

Suparto, Penjahit Langganan Jokowi …

Niken Satyawati | 15 jam lalu

Ganggu Ahok = Ganggu Nachrowi …

Pakfigo Saja | 16 jam lalu

Kabinet Jokowi-JK Terdiri 34 Kementerian dan …

Edi Abdullah | 18 jam lalu


HIGHLIGHT

Kalah 4-2, Persipura Masih Bisa Balas di …

Djarwopapua | 8 jam lalu

Bahasa Menunjukkan Bangsa …

Alfarizi | 8 jam lalu

Hysteria …

Moch. Mishbachuddin | 8 jam lalu

Harga LPG 12Kg (NonSubsidi) Mencapai Harga …

Yulian Amalia | 8 jam lalu

Cesky Krumlov, Kota Cantik di Republik Ceko …

Mentari_elart | 9 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: