Back to Kompasiana
Artikel

Film

Vlad Alvaz

Jika kita yakin semua pasti tejadi

Pemeran Utama

OPINI | 20 December 2012 | 20:54 Dibaca: 181   Komentar: 0   0

Sekilas menonton film di sebuah televisi swasta yang bertitle (kalau tidak keliru) the seekers: the dark rising dimana dikisahkan pertarungan klasik melawan kegelapan. Kemenangan hanya bisa diraih jika terkumpul kekuatan dari 6 symbol yang secara teori  merupakan jalan menaklukan kekuatan mengerikan dari penguasa kegelapan. 5 symbol telah terkumpul, pencarian symbol ke 6 tidak juga menunjukkan keberhasilan sampai tahap keputusasaan datang dan nyaris mempetieskan semangat pencarian hingga akhirnya penguasa kegelapan datang dan mengancurkan segalanya. Sampai titik kritis dimana kegelapan hampir menuai kemenangan mutlak, saat pertempuran hampir mencapai titik tertingginya dengan kemenangan kegelapan pemeran utama yang mewakili sosok pahlawan timbul kesadaran, menyadari bahwa symbol ke 6 adalah dirinya sendiri. Hasil akhirnya bisa ditebak, dengan kesadaran akan kekuatan yang timbul pada dirinya sendiri mengorganisir ke 5 symbol yang ada disempurnakan dengan symbol ke 6 melahirkan kekuatan dahsyat yang akhirnya mampu mengalahkan musuh terkuatnya.

Hanya sekedar film dengan title BO (Bimbingan Orang tua) yang berarti anak kecil boleh menonton dengan pengarahan orang tuanya. Ada yang patut dicermati dari film tersebut selain action dan setting yang menarik serta alur yang ditata apik, nampaknya si pembuat cerita berusaha menyadarkan kepada penonton beberapa hal yang mungkin sudah mulai terlupakan. Pemeran utama dari pihak kebaikan disimbolkan dengan anak kecil berusia sekitar 14 tahun tetapi mampu menjadi tumpuan kelompok yang notabene berusia dewasa. Menyadarkan kita bahwa usia tidak menjadi jaminan akan sebuah kebenaran, bahwa kebenaran bisa datang dari siapa saja dan kita yang lebih dewasa atau lebih tua tidak boleh memandang sebelah mata kepada orang yang usianya di bawah kita. Kritik yang cerdas berusaha dipaparkan kepada kita yang menganggap orang yang lebih tua harus dijadikan panutan atau contoh dari yang lebih muda. Keengganan kita yang lebih didasarkan ego terkadang sangat rentan ketika berhadapan dengan kematangan berpikir orang lain, apalagi yang jauh lebih belia dan kita sematkan istilah ‘masih bau kencur’.

Ada sisi cerita yang menggambarkan pemeran utama tertipu karena musuh menyamarkan suaranya menjadi sangat mirip dengan ibunya, sehingga sang lakon tertipu dan hampir berakibat fatal. Menjadi bahan pertimbangan kita ketika menghadapi suatu persoalah, apa yang kita dengar, kita lihat dan segala pertimbangan pribadi kita terkadang hanya sebatas setting indera yang sangat subyektif. Cara kita memandang harus mengalami evolusi sehingga harus bisa melihat dengan segala kompleksitasnya, 3 dimensi sehingga memastikan kita bisa melihat dari segala sudut untuk menampilkan konklusi yang seobyektif mungkin demi kelanjutan derap langkah yang lebih perform dan dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya. Lebih bijak untuk melupakan dulu segi emosional yang bisa menutupi sebagian pandangan kita akan kebenaran yang utuh dan berpengaruh negatif terhadap cara pandang kita.

Puncaknya adalah ketika timbul kesadaran bahwa symbol penentu kemenangan yang dicari adalah dirinya sendiri, sebagai pelengkap sekaligus unsur inti dari kekuatan yang terpendam. Di masa ini ketergantungan kita terhadap teknologi semakin signifikan, tubuh kita sangat dimanjakan dengan berbagai kemudahan yang mengakibatkan lahirnya kemalasan dan bergesernya pola pikir mengenai pengertian teknologi, alat dan berbagai peralatan pendukung kehidupan ini. Peran teknologi sebagai pembantu manusia sedikit demi sedikit beringsut ke atas dan menjelma menjadi peran vital, lebih penting dari keberadaan manusia itu sendiri. Manusia bukanlah tuan tetapi menjadi budak teknologi dan pada akhirnya mengikis kepercayaan diri kita sebagai makhluk penguasa menjadi sekedar pengguna dan pelaksana. Ketergantungan inil sampai titik tertentu menganggap teknologi, perlengkapan dan segala bentuk media yang kita gunakan jauh lebih penting dari keberadaan manusia, mengakibatkan sisi humanisme semakin tergerus karena kita terjebak dalam sisi gelap peradaban yang semakin canggih. Tahap penilaian terhadap manusia yang semakin rendah berefek menutup jalan sempit kemanusiaan, semakin jauhnya hubungan antar sesama manusia karena kita lebih membutuhkan teknologi daripada sekedar berkomunikasi dengan sesama manusia. Film ini mencoba mengembalikan fakta bahwa pusat segala kekuatan bukanlah benda, tetapi kesadaran dan kedirian kita sebagai pemersatu dan inkubator dari berbagai elemen sekunder untuk mennghancurkan masa-masa kegelapan.

Tafsir sederhana dari film tersebut adalah adanya upaya representasi ulang sebuah kesadaran, reposisioning manusia sebagai subyek vital, decision maker, respon kita terhadap manusia lain dan kembalinya status kita sebagai makhluk sosial yang membutuhkan sesamanya demi kemajuan bersama. Manusialah yang menentukan sesuatu berfungsi atau tidak, kecerdasan manusialah yang menciptakan segala kemajuan dan teknologi, dan kitalah representasi aktif dari segala kemajuan dan peradaban zaman. Sebuah pertimbangan ulang bahwa semua visi, misi kita berawal dari manusia, ketika kita berada di posisi vital dalam sebuah kesatuan, unit kerja, ataupun organ vital dari sebuah kluster pendidikan, aspek manusialah yang harus pertama kali dibangun dan dikembangkan, menempatkan derajat SDM kita untuk bisa menjadi unit kreatif yang siap berkolaburasi dengan unit pendukung lain, menjadi pemeran utama dalam sebuah kesatuan aspek demi kelanjutan integral untuk sebuah kemajuan ….human the first.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Satpol PP DKI Menggusur Lapak PKL Saat …

Maria Margaretha | | 31 July 2014 | 17:04

Menghakimi Media …

Fandi Sido | | 31 July 2014 | 11:41

Ke Candi; Ngapain Aja? …

Ikrom Zain | | 31 July 2014 | 16:00

Punya Pengalaman Kredit Mobil? Bagikan di …

Kompasiana | | 12 June 2014 | 14:56

Teman Saya Pernah Dideportasi di Bandara …

Enny Soepardjono | | 31 July 2014 | 09:25


TRENDING ARTICLES

Jangan Tulis Dulu Soal Wikileaks dan …

Bang Pilot | 9 jam lalu

Tipe Karyawan yang Perlu Diwaspadai di …

Henri Gontar | 13 jam lalu

Evaluasi LP Nusa Kambangan dan …

Sutomo Paguci | 14 jam lalu

Revolusi Mental Pegawai Sipil Pemerintah …

Herry B Sancoko | 17 jam lalu

Misteri Matinya Ketua DPRD Karawang …

Heddy Yusuf | 18 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: