Back to Kompasiana
Artikel

Film

Hery Supriyanto

Dalam sunyi dan keheningan untuk mendengar suara senyap. Dalam kegaduhan untuk memilah suara merdu atau selengkapnya

Habibie & Ainun: Bersama Menggapai Tiga Cinta

OPINI | 30 December 2012 | 14:36 Dibaca: 7589   Komentar: 0   0

Film Habibie & Ainun memang mempunyai cerita yang menarik. Tidak saja bercerita tentang kisah cinta dua sejoli tetapi juga berkisah tentang nasionalisme dan patriotisme. Suatu kisah yang dilakoni dengan apik antara dua insan yang dikenal dengan kecerdasan di atas rata-rata. Sosok Habibie tidak diragukan lagi akan kecerdasan dan kejeniusannya. Seabrek gelar di bidang teknik disandangnya melalui perjuangan yang keras dan berliku yang didapatkan dari sebuah negara yang menjunjung tinggi ilmu pengetahuan, uber alles, Jerman. Sedangkan Ainun adalah seorang dokter.

Sumber:http://media.viva.co.id/thumbs2/2012/12/17/184369_sby-tonton-premiere-film-habibie---ainun_663_382.jpg

Sumber:http://media.viva.co.id/thumbs2/2012/12/17/184369_sby-tonton-premiere-film-habibie—ainun_663_382.jpg

Walaupun sama cerdas, kisah cinta mereka tidaklah dilakoni secara rumit bahkan sangat sederhana. Ini bisa dilihat bagaimana ketika Habibie muda berkunjung ke rumah Ainun dengan naik becak, sedangkan para “rival” Habiibie naik mobil. Rupanya cinta mempersatukan mereka. Kata-kata yang dikatakan Habibie ketika meminta Ainun menjadi istrinya cukup realistis dan mengena: “Aku tidak bisa memberikan apa-apa kepadamu tetapi aku berjanji akan menjadi suami yang baik”. Dan jawaban Ainun tidak kalah mengenanya: “Mungkin aku tidak bisa menjadi istri yang baik tetapi aku berjanji akan selalu mendampingimu”. Suatu kata-kata yang menyentuh dan dalam memang.

Setelah menikah diboyongnya Ainun ke Jerman untuk sekolah dan berkarier. Awal-awal pernikahan itu memang dilalui cukup berat. Karena belum cukup mapan maka mereka berdua tinggal di flat kecil, sedangkan untuk mengirit pengeluaran Habibie rela jalan kaki pulang ke tempat tinggalnya. Sempat pula Ainun “putus asa“ menjalani kehidupan seperti itu dan ingin kembali ke Indonesia. Dan habibie menghiburnya bahwa kehidupan ini seperti melewati terowongan gelap yang tidak tahu di mana arahnya, tetapi di ujung sana pasti asa seberkas cahaya. Dan Habibe berjanji membawa Ainun menuju cahaya itu, Ainun pun merasa tenang.

Dasar memang manusia cerdas, pada akhirnya Habibie meniti karier yang cemerlang di Jerman. Dan rupanya di Indonesia pada waktu itu era awal orde baru sedang giat-giatnya membangun, dan Habibie di minta pulang untuk berperan serta. Di akhir tujuh puluhan Habibie pulang ke Indonesia dan diberi jabatan menteri dan posisi strategis lainnya oleh mantan presiden Suharto. Kepulangan ke tanah air inilah yang sebenarnya dikehendaki Habibie. Untuk memenuhi sumpahnya sewaktu studi di Jerman Habibie tergolek sakit dengan menulis sebuah puisi yang berisi akan mengabdikan ilmunya untuk ibu pertiwi. Tugasnya adalah melaksanakan misi besar membuat pesawat terbang buatan bangsa sendiri.

Proyek membuat pesawat adalah suatu langkah terobosan melangkah jauh ke depan. Ini adalah sebuah perwujudan teknologi tinggi, langsung pembuatan pesawat tidak melalui teknologi fase dibawahnya seperti membuat mobil atau sepeda motor terlebih dahulu. Karena ini proyek besar maka banyak pihak yang ingin mengambil untung dari situ. Habibie berhasil mempertahankan integritasnya untuk tidak mengikuti cara jalan pintas yang dianggap tidak prosedur dan merugikan negara. Kuatnya Habibie menjaga integritas itu tidak terlepas juga dengan keteguhan Ainun untuk menjaga Habibie sehingga tidak terjerumus dalam godaan kekayaan dan kekuasaan.

Dan akhirnya usaha keras Habibie beserta tim membuahkan hasil. Pesawat terbang buatan anak bangsa seri N 250 yang diberi nama Gatotkaca siap diterbangkan perdana. Banyak keraguan pada peluncuran itu, termasuk mantan presiden Suharto yang dikhabarkan tidak akan hadir. Inilah pertaruhan besar Habibi atas karyanya, yang dinyatakan sebagai tindakan abnormal. 10 Agustus 1995 adalah tonggak bersejarah bangsa Indonesia atas karya bangsa sendiri. Mantan presiden Suharto akhirnya datang dan menyempatkan masuk pesawat sebelum terbang. Dengan siaran langsung TVRI akhirnya pesawat itu sukses terbang, rakyat pun turut bergembira karena sebagai bangsa yang tidak diremehkan lagi.

Habibie pun terjun ke dunia politik dengan diminta mantan presiden Suharto menjadi wakilnya tahun 1998. Tahun 1998 adalah tahun tidak mengenakkan bagi bagsa Indonesia, perekonomian merosot akibat krisis multi dimensi. Rakyat tidak menghendaki Suharto berkuasa lagi, dan pada akhirnya Suharto menyatakan berhenti dan secara otomatis Habibie sebagai wakil Presiden diangkat menjadi Presiden. Habibie adalah tipe pekerja keras bagaimana memikirkan bangsa ini keluar dari krisis. Kesibukan di sana-sini sehingga uruasan keluarga banyak terabaikan, bahkan dalam sehari cuma tidur satu jam saja.

Aktifitas sebagai presiden yang menguras tenaga dan pikiran, sering dikhawatirkan Ainun, padahal Ainun sendiri juga menderita sakit. Namun Ainun pandai menyembunyikan penyakitnya agar terlihat sehat selalu, hal ini dilakukan agar Habibie tenang dan tidak merasa khawatir. Pernah suatu ketika ibu negara ini menghadiri sebuah aktifitas bank mata, dan menghentikan sambutannya karena tidak kuat lagi menahan sakit. Sempat ditolong ajudannya, dan berpesan agar keadaan ini tidak disampaikan ke Habibie.

Tahun 2000 Habibie tidak mencalonkan diri sebagai presiden karena pertanggungjawabannya ditolak. Dan akhirnya Habibie dapat kembali bersua dengan keluarga. Akibat kondisi negara dalam menata kembali perekonomian, proyek pengembangan pesawat terpaksa dihentikan, sayang memang. Suatu ketika Habibie dan Ainun berkunjung ke hanggar tempat hasil karyanya itu. Pesawat tampak berdebu, Ainun menghibur kekasihnya itu dengan membersihkan tangan Habibie yang berdebu setelah mengusap pesawatnya. Habibie berkata bahwa pesawat ini hasil dari kerja keras yang harus dibayar mahal dengan mengorbankan perhatiannya terhadap istri dan anak-anaknya. Dan Ainun merasa tidak dikorbankan karena ini merupakan konsekwensi dari kecintaan kepada bangsa dan negara.

Pengorbanan Ainun memang cukup besar. Tanpa terasa penyakit yang dideritanya sudah cukup parah. Segala upaya telah dilakukan, termasuk membawanya ke Jerman dengan perawatan terbaik. Habibie sendiri yang menjaga Ainun. Pada suatu ketika Habibie melihat Ainun sedih. Ketika ditanya Habibie apakah Ainun merasa sakit, ternyata tidak, jawabannya adalah Ainun merasa khawatir terhadap Habibie yang begitu letih dan tidak ada yang menjaganya. Di saat-saat itulah film ini terasa mengharukan, dan tidak heran pula bila SBY meneteskan air mata saat nonton bareng pemutaran perdana film ini.

Tuhan punya rencana-Nya sendiri, Ainun harus kembali kepangkuan-Nya pada 22 Mei 2010. Habibie cukup tegar menghadapi cobaan ini, dan orang banyak kagum atas kisah kedua sejoli ini. Habibie menyikapinya dengan sikap rendah hati seperti dalam penggalan puisi yang dibuatnya…

Mereka mengira aku lah kekasih yang baik bagimu sayang …
tanpa mereka sadari, bahwa kaulah yang menjadikan aku kekasih yang baik …

Mana mungkin aku setia padahal memang kecenderunganku adalah mendua, tapi kau ajarkan aku kesetiaan, sehingga aku setia, kau ajarkan aku arti cinta, sehingga aku mampu mencintaimu seperti ini …
Selamat jalan …
Kau dari-Nya, dan kembali pada-Nya …

Film ini tampak semakin apik dengan alunan lagu OST Cinta Sejati yang dinyanyikan dan pemeran Ainun, Bunga Citra Lestari. Kita yang mendengarkan lagunya akan sepakat dengan penggalan liriknya:

Cinta kita melukiskan sejarah
Menggelarkan cerita penuh suka cita
Sehingga siapa pun insan Tuhan
Pasti tahu cinta kita sejati

Tiga cinta Versi Habibie

Untuk masalah akting, patut diancungi jempol buat Reza Rahardian yang begitu menjiwai sosok Habibie. Saya sendiri sebelumnya menyangsikannya, ternyata dugaan itu salah, Reza memang pantas untuk itu. Flim ini memang tidak dapat menggambarkan secara utuh kisah dua sejoli ini. Dengan durasi sekitar dua jam paling tidak mampu menggambarkan bagaimana baiknya mengelola cinta itu. Hal ini ditegaskan Habibie setelah nonton bareng pemutaran film tentang kisahnya ini (17/12). Menurutnya ada tiga cerminan cinta. Pertama, cinta kepada sesama manusia mulai pada orang tuanya, istrinya, anaknya, kawannya, cucunya semua lingkungannya. Kedua, adalah cinta kepada karya-karya yang positif dari umat manusia yang dicintai, itu kita harus junjung tinggi, termasuk juga budaya, demokrasi, kebebasan yang bertanggung jawab. Ketiga, adalah sebuah kecintaan untuk melakukan pekerjaan dengan sebaik-baiknya. Cinta pada pelaksanaan pekerjaannya sesempurna mungkin dengan pengorbanan serendah mungkin, dengan kualitas yang tinggi. Sumber.

Cinta, pengorbanan, dan kesetiaan adalah kata kerja yang dilalui untuk membuktikan secara total seseorang untuk menjalani kehidupan yang penuh rintangan. Ainun dan Habibie mampu menjalani semua itu secara bersama dan tidak ada yang dapat memisahkannya, kecuali maut menjemputnya. Takdir menggariskan Ainun meninggalkan Habibie terlebih dahulu. Cukup pantas bila Habiibie dipandang sebagai lelaki yang tidak hanya dikenal sebagai seorang yang genius,demokrat atau negarawan tetapi juga sebagai seorang yang setia dan romantis. Tidak saja pada kekasih tercintanya –Ainun-, melainkan kepada agama, bangsa, dan negara. Maka adalah suatu tuduhan yang sangat keji jika ada yang menyatakan Habibie seorang penghianat.


 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Lewis Hamilton Akhirnya Juara Dunia GP …

Hery | | 24 November 2014 | 21:17

Parade Foto Kompasianival Berbicara …

Pebriano Bagindo | | 24 November 2014 | 18:37

Tulis Aspirasi dan Inspirasi Aktif Bergerak …

Kompasiana | | 24 November 2014 | 20:22

Berbisnis Buku Digital: Keuntungan dan …

Suka Ngeblog | | 24 November 2014 | 18:21

Olahraga-olahraga Udara yang Bikin Ketagihan …

Dhika Rizkia | | 11 November 2014 | 13:41


TRENDING ARTICLES

Lisa Rudiani, Cantik, Penipu dan Pencuri …

Djarwopapua | 10 jam lalu

Merayu Bu Susi …

Jonatan Sara | 11 jam lalu

Bila Jokowi Disandera SP dan JK …

Adjat R. Sudradjat | 11 jam lalu

Jokowi Menjawab Interpelasi DPR Lewat …

Sang Pujangga | 12 jam lalu

Tipe Kepemimpinan Jokowi-JK …

Gabriella Isabelle ... | 15 jam lalu


HIGHLIGHT

Kenapa Kompasiana Meninggalkan JK? …

Jimmy Haryanto | 8 jam lalu

Musni Umar: Yakin Indonesia Maju Dipimpin …

Musni Umar | 8 jam lalu

Dirgahayu Guruku …

Susy Haryawan | 8 jam lalu

Indonesia Bukanlah “Sejengkal …

Ajinatha | 8 jam lalu

Pengalaman saat Terkena Syaraf Kejepit …

Enny Soepardjono | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: