Back to Kompasiana
Artikel

Film

Aulia Gurdi

spread wisdom through writing...

Kicauan Tweet Hanung Menjawab Kontroversi Film “Cinta tapi Beda”

REP | 08 January 2013 | 08:35 Dibaca: 6507   Komentar: 122   22

13576064131635737936

http://ozhu73.blogspot.com/

Besutan film karya Hanung yang diangkat dari cerpen kompasianer Dwitasari seperti yang saya tulis di sini, berujung kontroversi. Sejak awal sesungguhnya hal ini telah diprediksi Hanung akan terjadi. Dari judulnya saja sebenarnya sudah sangat bisa ditebak kalau film ini akan menimbulkan pro dan kontra. Ada nuansa agama yang sangat sensitif  untuk diangkat dalam sebuah tema film. Meski pesan moral film ini lebih kepada bagaimana manusia menghadapi perbedaan-perbedaan dalam kehidupan, utamanya kepada sesama pemeluk agama.

Gelombang protes tak hanya mempersoalkan mengenai keberbedaan saja, namun juga muncul dari gugatan masyarakat Minangkabau yang menganggap film itu mengandung unsur SARA dan telah menistakan kebudayaan Minangkabau yang kental dengan ajaran agama Islam.

Alur cerita film ini oleh sebagian suku Minang Kabau dianggap menyimpang dari falsafah adat yang terkenal dengan “Adat Basandi Sarak, Sarak Basandi Kitabullah”. Atau dengan kata lain, Adat bersandar (bertopang) pada syariat dan syariat bersandar pada Kitabullah, yang kurang lebihnya bermakna orang minang menjunjung tinggi ajaran syariat Islam.

Seperti dilansir disini, buntut dari protes ini, Hanung dan semua yang bertanggung jawab akan beredarnya film ini dilaporkan ke polisi oleh beberapa aliansi masyarakat Minangkabau. Mereka akan menjerat Hanung dkk dengan  pasal 156 KUHP Jo Pasal 4 dan16 UU.No./2008 tentang Penghapusan Diskriminasi Ras dan Etnis.

Hanungpun menarik film yang beredar sejak 27 Desember 2012 itu dari peredaran. Suami dari Zaskia A Mecca ini lebih memilih menghindari polemik yang berkelanjutan. Walau antusias dan animo masyarakat sangat besar untuk menyaksikannya. Karena dari pengamatannya saat akan ditarik, film ini sudah berhasil menyedot 120 ribu penonton.

Hanungpun menjelaskan dan membuat kronologi dari kontroversi film ini melalui timeline akun tweetnya semalam.

Berikut penjelasan dan klarifikasi Hanung  mengenai film cinta tapi beda tersebut,

  • Selaku filmaker pantang untuk membela filmnya ketika dikritik #CTB
  • filmaker jg pantang menjelaskan secara verbal ke penonton saat film yg udah release. Hak penonton menafsir #CTB
  • Tp yg terjadi, byk penonton mengecam film tanpa menonton. Hanya membaca sinopsis #CTB
  • Karena itu sy terpaksa MENELAN sikap sy sendiri dan menjelaskan seperti apa film #CTB
  • Film #CTB bukan film ttg NIKAH beda Agama. Tapi tentang cinta beda Agama
  • Silakan CEK apakah sy menampilkan adegan pernikahan beda Agama? #CTB
  • jadi kalo ada yg menulis review bahwa film #CTB adalah kampanye nikah beda agama, itu Fitnah
  • Bahkan habib Salim Assegaf (FPI) menyatakan film #CTB tdk ada masalah dg syariat
  • Kisah film #CTB adlh kisah cinta antara lelaki asal jogja muslim bernama Cahyo dengan perempuan dari Padang bernama Diana
  • Kenapa Padang? Krn kami ingin memotret masy minoritas non muslim . Tujuannya: ada kebhinekaan disana #CTB
  • adalah idealisme kami selalu menampilkan kebhinekaan dlm tiap2 film @dapurfilm #CTB
  • Bahkan di film Perahu kertas kami menyisipkan kebhinekaan melalui tokoh Eko yg etnis Arab #CTB
  • Rupanya pilihan Kota Padang katolik ini yg mjd persoalan masy Minang. Mari kita urai … #CTB
  • Apakah di Film #CTB menyebutkan Diana bersuku Minang? Silakan dibuktikan dengan menonton.
  • Di film digambarkan Ibu Diana tinggal di padang. Di Jakarta Diana numpang tinggal di tempat omnya yg Menado #CTB
  • Jadi bisa diasumsikan, keluarga Diana bukan asli Padang. Tapi pendatang #CTB
  • Di rumah Ibu Diana pun juga tidak ada atribut yg menggambarkan suku minang apapun #CTBMemang ada lokasi Diana bersama Oka berjalan di perkampungan Minang. Tp apakah lantas dg begitu mereka bersuku Minang? #CTB
  • Setelah sy konfirmasi ke pihak XXI, di Padang tdk ada bioskop jaringan 21. Jd film #CTB dipastikan tidak tayang disana
  • Jadi darimana masy Minang, bahkan yg ada di Mesir bisa tahu kisah Film #CTB. Pasti dari review
  • Sangat disayangkan, orang bisa menilai, kritik bahkan menghakimi karya tanpa menontonnya #CTB
  • Sy sadar film #CTB yg sejujurnya disutradarai @hesstu bukanlah karya sempurna
  • Film adlah karya budaya, jadi mari kita sikapi dengan berbudaya #CTB
  • Sy sadar film #CTB yg sejujurnya disutradarai @hesstu bukanlah karya sempurna
.
Begitulah penjelasan panjang lebar Hanung. Seperti apa akhir kontroversi ini, nampaknya masih perlu menunggu kabar selanjutnya. Yang pasti terlepas dari pro kontra, semoga semua pihak bisa mengambil hikmah dalam membuat karya kreatif di negara yang plural dengan beragam etnis ini. Dan kita sebagai penonton bisa lebih cerdas melihat esensi pesan tersirat sebuah tontonan.

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Mengubah Hujan Batu Menjadi Emas di Negeri …

Sekar Sari Indah Ca... | | 19 December 2014 | 17:02

Haruskah Jokowi Blusukan ke Daerah Konflik …

Evha Uaga | | 19 December 2014 | 12:18

Artis, Bulu yang ‘Terpandang’ di …

Sahroha Lumbanraja | | 19 December 2014 | 16:57

Jalanan Rusak Kabupaten Bogor Bikin …

Opi Novianto | | 19 December 2014 | 14:49

Blog Competition Coca-Cola Sampai Akhir …

Kompasiana | | 24 November 2014 | 20:22


TRENDING ARTICLES

RUU MD3 & Surat Hamdan Zoelfa …

Cindelaras 29 | 5 jam lalu

Potong Generasi ala Timnas Vietnam Usai …

Achmad Suwefi | 9 jam lalu

Penyebutan “Video Amatir” Adalah …

Arief Firhanusa | 10 jam lalu

Menteri Rini “Sasaran Tembak” …

Gunawan | 12 jam lalu

Inilah Drone Pesawat Nirawak yang Bikin …

Tjiptadinata Effend... | 13 jam lalu


Subscribe and Follow Kompasiana: