Back to Kompasiana
Artikel

Film

Bagus Anak Wage

saya bagus anak wage

Nurnaningsih dan Erotisme dalam Film

OPINI | 09 January 2013 | 07:04 Dibaca: 2427   Komentar: 0   2

Nurnaningsih dan Erotisme dalam Film

Nurnaningsih (5 December 1925 – 21 March 2004), perempuan yang disebut-sebut dan tercatat menjadi aktris yang sedia berbugil di depan kamera pertama kali di Indonesia. Perempuan asal Wonokromo, Surabaya, ini menjadi pelopor bom sex indonesia setelah telanjang dada di film Harimau Tjampa (1954).

Dalam sinopsisnya, film garapan D Djajakusuma ini, menceritakan tetang seseorang yang berambisi untuk membalaskan dendam atas kematian ayahnya. Tokoh utama, Lukman, yang diperankan oleh Bambang Hermanto, akhirnya bisa membalaskan dendamnya ini. Namun ditengah cerita, lukman harus mendapatkan fitnah sebagai seorang pembunuh. Dia pun akhirnya ditangkap dan ditahan. Dalam masa penahanan ini, dia akhirnya tahu siapa yang menjadi otak pembunuhan selama ini. Dia pun memutuskan kabur dari penjara dan membawa sang otak pembunuhan untuk ikut ditahan.

Nur panggilan Nurnaningsih, dalam film Harimau Tjampa berperan sebagai gadis yang menjalin cinta dengan Lukman. Hanya beberapa detik nur bertelanjang dada. Namun, ditengah situasi dan iklim masyarakat saat itu, Nur mendapatkan penolakan yang tinggi. Nur dianggap sebagai perusak moral bangsa yang saat itu belum lama merasakan kemerdekaan.

Meski kritikan dan cap perusak moral bangsa ditujukan kepada Nur, Nur selalu berkilah apa yang dilakukannya berdasarkan alasan seni. “Saya tidak akan memerosotkan kesenian, melainkan hendak melenyapkan pandangan-pandangan kolot yang masih terdapat dalam kesenian Indonesia.”

Lewat Nur, film bertampilan erotis mulai berjamur. Satu per satu sutradara dan rumah produksi mulai melihat gemilang rupiah yang bisa diboyong lewat film yang dibumbui adegan erotis. Nur-Nur yang lain pun hadir dengan lekuk tubuh dan nama yang berbeda.

Tahun ke tahun, film erotis makin ciamik dibungkus. Berdalih kritik sosial, alur komedi, situasi horor, film-film erotis ini pun disuguhkan kepada rakyat indonesia. Lembaga sensor memang sudah ada sejak 1916, namun bukan gunting lembaga sensor yang kudul dalam menggunting pita film yang seperti itu. namun, legilitasisasi untuk menggunting film beradegan erotis tadi yang sulit diterapkan.

Tiga puluh tahun kemudian baru ada sensor untuk setiap film yang diputar di indonesia. Istilah badan yang mengatur perfilman indonesia adalah Film Ordonnantie 1940 yang melahirkan Film Commisie (vide Staadblad No. 507), yaitu aturan yang mengharuskan semua film sebelum diputar di bioskop (untuk umum) wajib disensor terlebih dahulu. Namun aturan ini baru menyensor film antipropaganda belanda di indonesia saja.

Baru pada tanggal 5 Agustus 1964 diterbitkan Penetapan Presiden Nomor 1/1964, dan dalam Penetapan Presiden tersebut dilakukan penyensoran yang mulai ketat, antaranya ada penegasan bahwa: “Film bukanlah semata-mata barang dagangan, melainkan alat penerangan”. Film terus berkembang pesat termasuk film untuk kebutuhan pemerintah juga banyak, maka lewat Instruksi Presiden No. 012/1964, urusan film dialihkan dari Kementerian PP dan K kepada Kementerian Penerangan. Lalu pada tanggal 21 Mei 1965 ditindaklanjuti dengan Surat Keputusan Menteri Penerangan No. 46/SK/M/65 yang mengatur penyelenggaraan penyensoran film di Indonesia, dibuatlah badan yang khusus mengurusi masalah sensor film, yaitu Badan Sensor Film (BSF). Adapun fungsi dan tugas BSF tetap menitik beratkan pada upaya menghindarkan masyarakat dari pengaruh buruk film, dan memperjelas eksistensi dan fungsi film dalam turut memantapkan program nation and character building.

Selanjutnya dengan proses yang cukup panjang, pada tanggal 30 Maret 1992 ditetapkanlah Undang-Undang No. 8 Tahun 1992 tentang Perfilman. Sekali lagi, aturan ini masih belum ada aturan baku untuk definisi erotis yang tidak boleh ditampilkan dalam film yang layak tayang. UU ini hanya menjabarkan definisi film dan sejenisnya saja.

Berdasarkan penelusuran penulis yang sangat terbatas, kata erotis mulai digalakkan oleh badan sensor (kini Lembaga Sensor Indonesia atau LSF), dengan penyesuaian UU no. 33/2002 tentang penyiaran dan UU no 44/2008. Namun nyatanya ini masih banyak penolakan dalam setiap eksekusi LSF untuk menyensor gambar yang termasuk erotis karena definisi yang absurd.

Pencekelan dan penolakan untuk film erotis memuncak pada film Buruan Cium Gue (2005). Film yang didanai oleh Raam Punjabi mendapatkan penolakan dari masyarakat, termasuk Dai Kondang Abdullah Gymnastiar alias AA Gym dan tentu saja lembaga pembuat fatwa indonesia, Majelis Ulama Indonesia (MUI). Film ini ditolak karena dianggap melanggar norma susila yang ada di masyarakat dengan menampilkan adegan ciuman yang dianggap vulgar.

Entah nur-nur mana lagi yang sedia serta merelakan tubuhnya dinikmati pecinta film. Tapi pribadi penulis berharap Nur-Nur muda bisa menolak secara halus jika diharuskan bugil didepan kamera. Karena badan seorang wanita lebih indah jika dipandang oleh suami yang sudah sah.

Bagus Anak Wage, 9 Januari 2013

Diolah dari berbagai sumber

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Kompasiana Nangkring bareng Pertamina …

Santo Rachmawan | | 01 September 2014 | 13:07

Inilah Buah Cinta yang Sebenarnya …

Anugerah Oetsman | | 01 September 2014 | 17:08

Catatan Pendahuluan atas Film The Look of …

Severus Trianto | | 01 September 2014 | 16:38

Mengulik Jembatan Cinta Pulau Tidung …

Dhanang Dhave | | 01 September 2014 | 16:15

Ikuti Blog Competition Sun Life dan Raih …

Kompasiana | | 30 August 2014 | 17:59


TRENDING ARTICLES

Dilarang Parkir Kecuali Petugas …

Teberatu | 7 jam lalu

Ini Kata Rieke Dyah Pitaloka …

Uci Junaedi | 7 jam lalu

Ahok Dukung, Pasti Menang …

Pakfigo Saja | 10 jam lalu

BBM Bersubsidi, Menyakiti Rakyat, Jujurkah …

Yunas Windra | 11 jam lalu

Rekayasa Acara Televisi, Demi Apa? …

Agung Han | 12 jam lalu


HIGHLIGHT

Pemenang Putri Indonesia di Belanda Bangga …

Bari Muchtar | 8 jam lalu

Penanggulangan Permasalahan Papua Lewat …

Evha Uaga | 8 jam lalu

Antara Aku, Kamu, dan High Heels …

Joshua Krisnawan | 8 jam lalu

Rakyat Dukung Pemerintah Baru Ambil Jalan …

Abdul Muis Syam | 8 jam lalu

Masa Orientasi, Masa Di-bully; Inikah Wajah …

Utari Eka Bhandiani | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: