Back to Kompasiana
Artikel

Film

Aulia Gurdi

spread wisdom through writing...

Film Rectoverso, Rangkaian Sketsa Kisah Cinta Tak Terucap

REP | 16 February 2013 | 07:52 Dibaca: 16743   Komentar: 19   8

13607645011036963154

http://rectoverso-film.tumblr.com/

Inilah debut 5 srikandi sineas Indonesia, yang merangkai cerita cinta yang unik dan menyentuh. Diangkat dari Novel dengan judul sama Rectoverso, karya Dewi “Dee” Lestari. Sejak awal kehadirannya, novel Rectoverso ini sudah mencuri hati para penggemar Dee. Bagaimana tidak, 11 kisah yang dikemas Dee, bersanding apik dengan 11 lagu karya ciptaannya yang bertautan dengan masing-masing judul dalam cerita novelnya. Dee menyebutnya sebagai 11 fiksi untuk didengar dan 11 lagu untuk dibaca. Salah satunya adalah lagu yang sudah cukup populer yang dirilis oleh Dee sendiri berjudul “Malaikat Juga Tahu.”

Dan sebagai salah seorang penggemar karya Dee, saya sudah menunggu lama novel ini diangkat ke layar lebar. Bagi saya, seorang Dee selalu mampu menghadirkan karya seni yang tak biasa, punya alur cerita yang kuat, dan jauh dari gaya bercerita yang lebay ala sinetron.

Lima sutradara yang menggarap Rectoverso ke layar lebar kesemuanya adalah aktris yang namanya sudah sangat kita kenal. Mereka adalah Marcella Zalianty, Cathy Sharon, Happy Salma, Olga Lydia dan Rachel Maryam. Masing-masing menyutradarai satu film. Kelimanya ciamik menggarap kisah dengan judul berbeda namun mampu dirajut menjadi sebuah cerita cinta nan manis, mengalir dan menarik untuk disaksikan.

Berikut lima sinopsisnya,

Malaikat Juga Tahu (Marcella Zalianty)

Film ini mengisahkan cerita cinta seorang lelaki penyandang autisme pada seorang perempuan anak kost yang menempati rumah bundanya. Dikisahkan bagaimana seorang abang (panggilan tokoh utamanya) melakoni rasa cinta yang teramat jujur dan tulus. Punya rasa bahagia, perasaan yang meledak-ledak, meski akhirnya menjadi sebuah ironi, saat cinta abang tak pernah kesampaian karena keterbatasannya menjadi tembok penghalang. Kisah yang cukup mengharu biru dan sukses membuat airmata saya berloncatan, saat saya menyaksikan bagaimana terlukanya abang melewati masa patah hatinya. Applaus untuk akting abang yang diperankan aktor Lukman Sardi. Sungguh penjiwaan yang sempurna! Perfect!

Firasat (Rachel Maryam)

Bergabungnya seorang gadis bernama Senja pada klub bernama Firasat. Sebuah klub yang berisi orang-orang yang mempercayai firasat sebagai satu isyarat alam bagi sebuah peristiwa hidup. Dikisahkan Senja mempunyai intuisi kuat saat ia kehilangan orang-orang terdekatnya. Ia pun jatuh cinta pada ketua klub ini yang bernama Panca. Satu hari firasat buruk dirasakan Senja akan terjadi pada Panca. Bagaimana kelanjutannya? Anda bisa saksikan sendiri dalam kisah yang  dibintangi Asmirandah, Widyawati dan Dwi Sasono.

Curhat Buat Sahabat (Olga Lydia)

Kisah ini menceritakan seorang gadis bernama Amanda yang begitu supel, ceria dan bersahabat dengan Reggie, seorang pemuda yang mempunyai sifat sangat berbanding terbalik dengan dirinya. Reggie yang sangat kalem dan penyabar adalah seorang pendengar setia untuk setiap curhat Amanda. Belakangan, Amanda menyadari bahwa ternyata Reggielah yang selalu ada menemaninya, bahkan jauh lebih setia dari pacarnya sendiri. Bagaimana kelanjutan hubungan mereka? Bisa anda saksikan kelanjutan kisah yang dibintangi oleh Indra Birowo dan Acha Septriasa ini.

Hanya Isyarat (Happy Salma)

Ini kisah persahabatan lima anak muda backpackers yang direkatkan dari sebuah milis dunia maya. Mereka adalah Tano, Dali, Bayu, Raga dan Al. Tak seperti yang lain yang begitu guyub meski hanya dipersatukan dari sebuah forum milis, Al begitu pendiam, penuh lamunan, dan bersikap menjaga jarak. Diam-diam ternyata Al jatuh cinta pada Raga. Satu malam, mereka mengadakan lomba bercerita kisah paling sedih yang mereka punya. Disanalah Al semakin mengenal sedikitnya siapa Raga, dan membuat Al semakin berpikir bahwa ia tak mungkin memiliki Raga karena rahasia yang tersimpan dalam diri Raga, seperti yang baru saja diceritakannya. Hingga iapun sudah puas meski hanya mencintai Raga dengan hanya melihat punggung dan matanya saja. Kisah ini dibintangi oleh Amanda Soekasah dan Fauzi Baadila.

Cicak-cicak di Dinding (Cathy Sharon)

Berkisah tentang seorang pelukis muda nan lugu bernama Taja yang jatuh cinta pada seorang sosialita yang free spirited bernama Saras. Cinta Taja pada Saras tak bersambut, bahkan Saras pergi menghilang meninggalkan Taja. Sampai beberapa waktu kemudian mereka bertemu kembali dan dari sanalah dimulai babak baru kisah cinta mereka. Kisah ini diperankan aktris seksi Sophia Latjuba bersama Tyo Pakusadewo.

***********

Meski film ini terdiri dari 5 judul dan 5 cerita yang masing-masing lepas dan berdiri sendiri, namun benang merah film ini mampu dirangkai dengan apik menjadi satu cerita cinta yang tak biasa. Tentang cinta yang kerap tak terucap dalam kata. Cinta diam-diam, yang boleh jadi merefleksi cinta banyak insan.

Sedikit kritik,  kekurangan film ini adalah pada alur ceritanya yang terasa terlalu lambat. Meski rajutan kisah satu ke cerita berikutnya, lompatannya cukup halus. Konflik yang muncul dapat dihadirkan begitu apik. Berselang seling di antara kesedihan dan keceriaan. Cukup menyentuh emosi penonton. Terasa benar film ini kental sentuhan tangan perempuan dalam penggarapannya. Lembut walau dalam mencipta konflik sekalipun. Sebagai debut pertama dari para sineas perempuan ini, over all film ini cukup layak ditonton.

Dan seperti pada fim-film dari karya Dee sebelumnya, soundtrack yang hadir mampu menambah warna. Lirik-lirik yang menyentuh dari setiap lagu yang menjadi backsoundnya benar-benar membuat film ini begitu hidup. Apalagi ditunjang setting lokasi yang indah. Sebuah terobosan dunia seni, Dee sukses mengawinkan dua seni kreatif sekaligus, fiksi dan lagu. Dee memang juaraaa.

Dan berikut, simaklah secuplik ungkapan menyentuh tentang cinta yang tak terucap dalam cerita Hanya Satu Isyarat

Aku sampai di bagian

bahwa aku telah jatuh cinta

namun orang itu hanya dapat kugapai

sebatas punggungnya saja

seseorang yang hadir sekelebat

bagai bintang jatuh

yang lenyap keluar dari bingkai masa

sebelum tangan ini sanggup mengejar

seseorang yang hanya bisa kukirimi isyarat

sehalus udara, langit, awan atau hujan


Saya rekomendasi film ini bagi anda pencinta film romansa Indonesia.

Trailernya bisa anda lihat disini


.
.

.

Thank’s to dblogger  and Usee TV for the invitation

.


Tags: freez

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Indahnya Rumah Tradisional Bali: Harmoni …

Hendra Wardhana | | 26 October 2014 | 06:48

Perjuangan “Malaikat Tak …

Agung Soni | | 26 October 2014 | 09:17

Ayo, Tunjukkan Aksimu untuk Indonesia! …

Kompasiana | | 09 September 2014 | 16:24

Fakta & Rahasia Saya Tentang Buku …

Indria Salim | | 26 October 2014 | 01:02

Bagi Cerita dan Foto Perjalanan Indahnya …

Kompasiana | | 22 October 2014 | 17:59



HIGHLIGHT

Rahasia Mantan …

Witri Prasetyo Aji | 7 jam lalu

Kompasiana …

Siti Nur Hasanah | 7 jam lalu

Menelusuri Pusat Keramaian Pusat Kota Malang …

Muhammad Azamuddin ... | 8 jam lalu

Perawatan Penyakit pada Sistem Pernapasan …

Meli Yunita Agustin | 8 jam lalu

Dari Pameran Foto Arsip …

Ade Aryana Uli Pan... | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: