Back to Kompasiana
Artikel

Film

Ahmed Tsar Blenzinky

Ingin menjadi penulis multi talenta..... Ikuti @AhmedTsar

Flight: Kala Panas Sehari Menghapus Hujan Setahun

REP | 07 March 2013 | 11:31 Dibaca: 423   Komentar: 0   2

13626304331472122566

Dalam Film Flight, penonton diajak untuk mengetahui apa rasanya seakan-akan jadi pilot yang menangani kecelakaan. Detik-detik adegan kecelakaan pesawat dan bagaimana penanganannya, terekam dalam film ini

Perumpamaan yang benar judul tulisan ini, hampir semua tahu: Panas setahun dihapus hujan sehari. Arti perumpamaan itu adalah, perbuatan baik yang telah lama dilakukan, terhapus oleh kesalahan yang dilakukan sekali saja.

Tetapi bagaimana kalau kata-kata dalam kalimat perumpamaan itu dibalik sesuai dengan judul tulisan ini? artinya pun berubah, menjadi kesalahan yang telah lama dilakukan, terhapus oleh perbuatan baik yang dilakukan sekali saja.

Mari membicarakan perumpaan asal terlebih dahulu. Lebih jauh arti panas setahun dihapus hujan sehari, mencerminkan ada kesalahan besar sehingga kesalahan besar itu membuat semua orang tak menginggat lagi kebaikan yang telah lama dilakukan.

Lalu kalau panas sehari menghapus hujan setahun? Pembaca bisa jadi mdah menebaknya karena ini hanya pembalikan logika, ya artinya mencerminkan ada perbuatan baik yang besar sehingga semua orang tak menginggat lagi kesalahan yang telah lama dilakukan.

Menjadi pahlawan atau pecundang

Tetapi apalah arti dua perumpamaan itu bila dibenturkan dengan realitas kehidupan. Ya Dua perumpamaan diatas membicarakan hitam putih penilaian, sedangkan realitas kehidupan, tidak selamanya hitam putih menjadi penilaian, bukan?

Itulah tema besar (baca: ide cerita) yang ada dalam adegan-adegan film Flight (2012). Aktor utamanya Denzel Washington (Whip Whitaker) digambarkan terkena “hujan setahun menghapus panas sehari.”

Cara Whip keluar dari kerangkeng perumpamaan itu, membuyarkan apa yang disebut hitam putih penilaian. Membuyarkan di sini berarti, apakah selalu benar “panas sehari bisa menghapus hujan stahun?”

Mari membicaran plot film yang disutradai oleh Robeth Zemerkhis ini, terlebih dahulu. Di adegan-adegan awal, Whip sebagai pilot berpengalaman secara “ajaib” (dalam tanda kutip) menyelamatkan 102 penumpang dalam kecelakaan pesawat, hanya enam orang yang tewas.

Setelah kecelakaan itu, Whip pun di cap menjadi pahlawan penyelamat. Namun ternyata cap pahlawan itu diuji oleh NTSB (National Transportation Safety Board-KNKTnya Amerika).

Sederhana saja, semacam bentuk pertanyaan ujian itu, yaitu apa penyebab utama dari kecelakaan pesawat itu? Disinilah, seakan rekam jejaknya sebagai alkoholik, menghapus gelar pahlawan penyelamat pada Whip.

Dalam adegan-adegan selanjutnya, Penonton akan diperlihatkan bagaimana Whip berjuang untuk memutuskan apakah ia berani menerima gelar pecundang sebagai alkoholik atau memanipulasinya dengan menggunakan gelar pahlawannya.

Menjadi pahlawan sekaligus pecundang

Ketika menonton film yang aktor utamanya termasuk nominasi Best Actor Oscar 2013 ini, penonton akan diajak untuk menilai apakah Whip pantas bertanggungjawab atas kecelakaan pesawat.

Nah kepantasan inilah mengambarkan apakah penonton akan jatuh pada penilaian hitam putih belaka atau tidak. Lebih jauh film ini, berusaha mencoba memberikan perspektif kepada penonton agar ketika terjadi kecelakaan (apapun) yang diakibatkan human error, menanyakan kembali “apakah benar pelaku utama penyebab kecelakaan, benar-benar bersalah?”

Semisal, supir yang mengakibatkan kecelakaan Bis. Di kala kecelakaan itu terjadi, bisa jadi si supir memutuskan untuk bertindak sesuatu untuk meminimalisir korban meninggal.

Atau jika penonton menjadi pelaku utama kecelakaan, pilihannya apakah pasrah saja atau mencoba “melawan” dengan cara menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi di kala kecelakaan.

Pada akhirnya, dua perumpamaan “panas setahun dihapus hujan sehari” dan sebaliknya, bukan lagi menjadi masalah utama penilaian karena di dalam diri manusi memang sudah tertanam alamiah apa itu yang disebut hujan (salah) dan panas (benar). Setuju atau tidak?

Bagaimana dengan film Flight, apakah ber-ending penilaian hitam putih atau tidak? Penonton bisa saksikan sendiri

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Kejanggalan Hasil Laboratorium Klinik …

Wahyu Triasmara | | 19 September 2014 | 12:58

“Kita Nikah Yuk” Ternyata …

Samandayu | | 19 September 2014 | 08:02

Masa sih Pak Jokowi Rapat Kementrian Rp 18 T …

Ilyani Sudardjat | | 19 September 2014 | 12:41

Seram tapi Keren, Makam Belanda di Kebun …

Mawan Sidarta | | 19 September 2014 | 11:04

Nangkring dan Test Ride Bareng Yamaha R25, …

Kompasiana | | 09 September 2014 | 06:48


TRENDING ARTICLES

Wajar, Walau Menang Atas Malaysia, Peringkat …

Achmad Suwefi | 5 jam lalu

Memilih: “Kursi yang Enak atau Paling …

Tjiptadinata Effend... | 6 jam lalu

Ahok Rugi Tinggalkan Gerindra! …

Mike Reyssent | 8 jam lalu

Ahok Siap Mundur dari DKI …

Axtea 99 | 12 jam lalu

Surat untuk Gita Gutawa …

Sujanarko | 16 jam lalu


HIGHLIGHT

Fatin, Akankah Go Internasional? …

Orang Mars | 7 jam lalu

“Apartemen” untuk Penyandang …

Arman Fauzi | 8 jam lalu

Janji Demokrasi Kita …

Ahmad Fauzi | 8 jam lalu

Kacau Sistem, Warga Ilegal …

Imas Siti Liawati | 8 jam lalu

Perekayasaan Sosial: Bensin Premium Perlu …

Destin Dhito | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: