Back to Kompasiana
Artikel

Film

Widianto.h Didiet

Seorang pecinta seni yang mencari makan dari dunia kreatif, suka jalan jalan selama tidak menyusahkan selengkapnya

Java Heat, film Hollywood rasa Indonesia

HL | 13 March 2013 | 07:31 Dibaca: 3567   Komentar: 54   7

13631314891540945015

Dar Der Dor.. Java Heat (http://www.jpnn.com)

Java Heat adalah sebuah film yang dibuat di Indonesia, walau dengan pemain dan crew campuran antara orang lokal dan “bule”. Sebuah film yang diharapkan akan menjembati dua budaya, budaya timur dan barat.

Film ini rencananya tayang pada 18 April 2013. Tapi entah kenapa dan bagaimana, film ini bisa jebol di internet, alias bisa di temukan filenya di internet. Yang ajaib lagi, tidak main-main, dengan kualitas Blueray, sebuah kualitas atas untuk sebuah film. Biasanya film Hollywood saja sekitar 3-4 bulan dari pertama tayang baru keluar edisi Blueraynya.

Mengenai filmnya, ceritanya simple sekali; seorang bule Amerika bernama Jake (Kellan Lutz - main di Twilight), bertekad untuk balas dendam terhadap teroris Islam yang menuntunnya untuk mengunjungi tanah Jawa, tetapi dia menemukan sebuah tempat yang penuh religius dan budaya ala Jawa yang tidak sesimple budaya Amerika, mulai dari istana, masjid, kuil, labirin bawah tanah dan distrik lampu merah yang penuh antek dari jaringan kriminal Asia Tenggara dengan wilayah operasi di pulau Jawa….

Dari sebuah kasus peledakan bom bunuh diri, Jake dengan terpaksa harus bersekutu dengan seorang detektif muslim cerdas, Letnan Hashim (Bayu Ario) yang juga mencurigai tujuan Jake datang ke Indonesia, yang mana akhirnya mengungkap suatu jaringan penjahat internasional yang menculik putri keraton, Sultana (Atiqah Hasiholan) untuk mendapatkan berlian kerajaannya. Letnan Hashim sendiri akhirnya terjun dalam kasus ini lebih jauh karena sang penjahat menculik anak dan istrinya.

Dengan kerjasama mereka berdua, dan penuh adegan baku hantam, Jake dan Hashim bahu membahu melawan sang penjahat internasional, Malik (Mickey Rourke - tau dooong..) yang sangat kejam dan sadis.

Berhasilkah Jake dan Hashim? downlo..eh, tonton nanti saat film ini ditayangkan di bioskop.

Poster Film Resmi

Poster Film Resmi (detik.com)

Mengenai filmnya sendiri. Alur cerita dari film yang shootingnya mengambil lokasi di kota Jogjakarta ini berjalan dengan lancar dan enak untuk disimak, angle dan pengambilan gambar yang enak, yang hampir bisa disetarakan dengan angle film aksi Hollywood. Efek ledakan, baik bom dan senjata yang cukup keren. Keseriusan fim ini juga berbeda dengan film-film Indonesia pada umumnya, dimana film ini jauh diatas kualitas film setan-setanannya Indonesia. (maaf, kebayangnya film Indonesia ya film setan itu.. aneka pocong)

Para pemeran ini juga berakting sangat bagus. Bayu Ario berhasil membawakan karakter seorang polisi yang cool dan sedikit misterius, juga para pemeran lokal lainnya seperti Tio Pakusadewo, Mike Muliadro, Rudi Wowor dan lainnya berhasil bermain dengan bagus dibawah arahan Conor Allyn sang sutradara.

artis lokal + interlokal (detik.com)

artis lokal + interlokal (detik.com)

Yang seru dari film ini, adalah saat adegan di candi Borobudur, dimana lokasinya bukan sekedar setting, tapi benar-benar dilakukan di Candi Borobudur. Menurut berita dari kiri kanan, Conor Allyn mengurus permohonan ijin untuk shooting film tersebut mulai dari UNESCO, pemerintah Indonesia, kelompok masyarakat Buddha, dan beberapa lembaga lain. “Menggunakan lokasi Candi Borobudur untuk syuting benar-benar sebuah tantangan,” katanya.

Walau jika diperhatikan secara detail banyak keanehan dalam film ini yang jika benar-benar diperhatikan cukup membuat kita “mikir”. Seperti, betapa mudahnya senjata AK, shotgun bahkan Rocket Launcher bisa diperoleh di Indonesia, aneh sekali karena penjahat indonesia saja dalam sehari-hari biasanya pakai senjata rakitan.

senjata keren... hebat bisa nemu...

senjata keren… hebat bisa nemu…(detik.com)

Lalu ada adegan dimana Tio Pakusadewo yang ceritanya seorang bangsawan jawa.. mencabut keris, terlihat keris dicabut memakai tangan kiri dengan posisi yang gak bener…. huaaa bangsawan jawa gak ngerti cara nyabut keris….. Juga mengenai posisi keris, posisi keris yang disandang didepan itu sangat tidak biasa. Dalam budaya Jawa, menempatkan keris di depan adalah saat perang. Jika seorang Jawa mengenakan keris di depan dan dilihat oleh orang lain, bisa heboh itu. Sebuah kesengajaan ataukah ketidaktahuan budaya? entahlah….

Juga setting tempat kumuh yang seperti gang kecil, dimana sebuah tempat kumuh tapi ada sebuah diskotik dengan pengunjung yang berkesan gaul. hhhooooi.. Jogja lho itu bukan Thailand. Dimana di film ini juga membahas tentang jual beli wanita atau pelacuran yang justru membuat nuansa film jadi seperti film Thailand.

Begitu juga dengan putri Kratonnya.. *terlalu ok buat jadi putri jawa.. wkwkwkwkw :P Maaf, secara jujur, mukanya nggak jawa banget.

Tapi secara umum, film ini sangat amat lumayan sebagai pelopor film yang akan membawa film Indonesia ke dunia Internasional. Seperti pendahulunya The Raid. Biaya produksi film ini  mencapai US$ 15 juta atau sekitar Rp 145,5 miliar. Dimana buat ukuran film Indonesia sih amat sangat WOW,  tapi buat ukuran film Hollywood sangat amat kecil. Biasanya jumlah segitu hanya untuk produksi film kelas B.

Menurut  Allyn, film ini hanya memakai dua aktor asing. Kru asing yang ikut dalam pembuatan film tersebut hanya sekitar 15 orang. Sedangkan aktor serta kru warga negara Indonesia yang ikut serta dalam penggarapannya mencapai ratusan orang.Karenanya Conor Allyn lebih suka film ini disebut film Internasional daripada jika disebut film import.

Film ini juga diikutkan dalam Dalas International Film Festival. Saya pribadi mencurigai kebocoran film ini akibat dari diikutkan dalam Festival film ini. Karena biasanya untuk ikut sebuah festival, copy film akan diserahkan pada pihak penyelenggara. Tapi ya entahlah… itu kan cuma dugaan saya…

Untuk yang penasaran, tunggu saja tanggal tayang film ini di bioskop, atau kalau gak tahan, bongkar internet untuk nyari dimana filenya berada, karena di tulisan ini saya tidak akan memberitahu dimana menemukannya.

Maju Terus Indonesia, Maju Terus Seni Indonesia

Widianto H Didiet

13577350241336613062

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Learning by Doing, Efektifitas Mendidik ala …

Muhammad | | 16 September 2014 | 10:24

Autoethnografi: Dari Pengalaman ke Teks …

Sehat Ihsan Shadiqi... | | 16 September 2014 | 11:06

Dua Teknologi Penyelamat Kehidupan Menulis …

Necholas David | | 16 September 2014 | 10:03

Jika (Calon) Istri Menyembunyikan Status …

Syaiful W. Harahap | | 16 September 2014 | 08:57

Nangkring dan Test Ride Bareng Yamaha R25, …

Kompasiana | | 09 September 2014 | 06:48


TRENDING ARTICLES

Ganggu Ahok = Ganggu Nachrowi …

Pakfigo Saja | 4 jam lalu

Kabinet Jokowi-JK Terdiri 34 Kementerian dan …

Edi Abdullah | 6 jam lalu

UU Pilkada, Ken Arok, SBY, Ahok, Prabowo …

Ninoy N Karundeng | 6 jam lalu

Ternyata Ahok Gunakan Jurus Archimedes! …

Tjiptadinata Effend... | 7 jam lalu

Revolusi Mental, Mungkinkah KAI Jadi …

Akhmad Sujadi | 8 jam lalu


HIGHLIGHT

[Fiksi Fantasi] Menolak Tua …

Myrna Hasibuan | 8 jam lalu

[Fiksi Fantasi] Sayap Hitam Angella …

Desy Desol | 8 jam lalu

Kabinet Jokowi: Yang Barunya Mana, Ya? …

Aqila Muhammad | 8 jam lalu

Aktor di Balik Alotnya Pengusutan Kasus …

Bagja Siregar | 8 jam lalu

Tentang Palu Pemecah Kaca yang Kehilangan …

Ayudhia Virga Basta... | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: