Back to Kompasiana
Artikel

Film

Kholilul Rohman

Suka menulis, membaca, dan fotografi. Tinggal di Jakarta dari Magelang Jawa Tengah. Menulis menyimpul kata-kata, selengkapnya

Resensi Film Sang Kyai, Pergulatan Ulama dan Santri Tegakkan Merah-Putih

REP | 04 May 2013 | 00:23 Dibaca: 673   Komentar: 0   0

Film “Sang Kyai” mengangkat kisah perjuangan ulama kharismatik dari Tebuireng, Jombang, Jawa Timur, yang juga pendiri Nahdlatul Ulama (NU), KH Hasyim Asy’ari, periode 1942-1947.

Menurut sutradara film Sang Kyai, Rako Prijanto, pemilihan setting waktu pada era itu merupakan usulan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU). Sebagai tokoh sentral saat itu, kata Rako Prijanto, KH Hasyim Asy’ari merupakan penentu arah dalam pengerahan massa santri dalam melawan penjajah.

Hasyim Asy’ari adalah tokoh kunci dalam menggerakan santri-santri dalam merebut dan mempertahankan kemerdekaan. Beliau yang menyulut rasa kebangsaaan santri-santrinya di Tebuireng untuk berperang melawan penjajah yang dikenal dengan resolusi jihad yang terjadi diantara 1942-1947.

Semangat resolusi jihad itu akhirnya menjalar ke masyarakat umum yang ujung-ujungnya menyulut terjadinya perang tanggal 10 November 1945 dengan puncaknya terjadi perobekan bendera Merah Putih Biru menjadi Merah Putih di Hotel Oranye Surabaya.

Aktris senior Indonesia, Christine Hakim, yang memerankan Nyai Kapu, pun tak lepas mengungkapkan kebanggaannya ikut terlibat dalam pembuatan Sang Kyai. Baginya, KH Hasyim Asy’ari layak disematkan lebih dari hanya seorang pahlawan nasional.

“Lebih dari itu, seandainya beliau menghendaki Indonesia menjadi negara agama, tentu bisa. Tapi di situlah, subhanallah, KH Hasyim tidak demikian. Perjuangannya tidak sempit, beliau paham Indonesia adalah miniaturnya dunia, dengan keragaman budaya,” urainya.

Mbah Hasyim, paparnya, wajib menjadi panutan bagi para kyai, apalagi di tengah kerinduan akan ulama yang santun.

“Ada kerinduan akan figur yang santun di tengah masyarakat. Betapa Mbah Hasyim memang harus jadi cermin untuk para kyai masa kini,” cetusnya.

Selanjutnya mari kita tonton aja filmnya. Santri dan kyai se-Indonesia wajib menonton film ini. || @kholilpayaman, diolah dari media online

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Visa on Arrival Turki Dihapus? …

Sifa Sanjurio | | 29 July 2014 | 06:03

Kaum Dhuafa Berebut Zakat, Negara Gagal …

Nasakti On | | 28 July 2014 | 23:33

Membuat Hidangan Lebaran di Moskow (Jika …

Lidia Putri | | 28 July 2014 | 17:08

Kampanye Wisata Thailand’s Best …

Olive Bendon | | 28 July 2014 | 16:49

Punya Gaya “Make Up” Menarik? …

Kompasiana | | 09 July 2014 | 00:21


TRENDING ARTICLES

Pijat Ala Dubai International Airport …

Ardi Dan Bunda Susy | 28 July 2014 23:45

Jangan Terlalu Berharap Banyak Pada Jokowi …

Bambang Srijanto | 28 July 2014 22:40

Berlebaran Tetap Gaya dengan Kaos Kompasiana …

Topik Irawan | 28 July 2014 21:13

Jangan Nanya Panci ke Polisi Amerika …

Usi Saba Kota | 28 July 2014 18:24

” Dari Tahun Ketahun Tak Pernah …

Rere | 28 July 2014 13:56

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: