Back to Kompasiana
Artikel

Film

Irvan Sjafari

Saat ini bekerja di sebuah tabloid komunikasi dan pernah bekerja di sejumlah media sejak 1994. selengkapnya

Review Film Pieds Nus Sur Les Limaces: Kisah Lily dan Kegilaan pada Alam

OPINI | 08 May 2013 | 20:19 Dibaca: 148   Komentar: 0   0

13680190041358322672

Poster Pieds Nus Sur les Limaces (kredit foto www.veryware.com)

Judul Film : Pieds Nus Sur Les Limaces (judul Inggris Lily Sometimes)

Sutradara : Fabbiene Berthaud

Bintang : Diane Kruger, Ludivine Sagnier, Denis Menochet, Brigitte Catillon, Jacques Spissier

Rated : ***

Opening Scene: Alkisah Lily (Ludivine Sagnier) seorang perempuan muda tinggal di sebuah desa di pedalaman Prancis bersama ibunya. Dia punya kecintaan besar terhadap alam. Itu ditujukkannya dengan mengambil kelinci yang tergeletak dan memasukkannya ke tasnya. Dia berbaring seenaknya di jalan ketika tahu ada mobil yang dikendarai ibunya mau lewat. Kemudian dia meneruskan bermainnya dan dari bukit ia melihat mobil ibunya menabrak tumpukan jerami. Ibunya meninggal karena serangan jantung. Kesedihan Lily diperlihatkan duduk termenung di atas tumpukan jerami memandang ibunya.

Scene berikutnya: Lily dan kakaknya Clara (Ludivine Sagnier), istri Pierre (Denis Menochet) seorang pengacara, tinggal di kota, di pemakaman mereka. Lily mencium sepatu bulu ibunya dan melemparkan ke makamnya. Lalu dia baca puisi di makam ibunya. Adegan yang biasa saja. Namun belakangan (pada adegan lain) saya baru sadar bahwa kemungkinan sepatu itu dijahit sendiri oleh Lily dari bulu kelinci (mati) memperkuat kharakter Lily yang tak bisa lepas dari alam.

Scene berikutnya memperlihatkan terpukulnya Lily (kharakter yang benar-benar kekanak-kanakan di usia 30-an) seperti terus-menerus mengunyah makanan, membawa seekor kalkun menemaninya duduk di sofa, berbaring di makam ibunya. Clara kemudian membawa Lily ke kota dan “mengurungnya” di apartemennya. Yang terjadi justru Lily kabur dan berkelana di kota dengan kaki telanjang (mungkin karena ini judulnya Pieds nus =barefoot= tanpa alas kaki, limaces adalah siput). “Kegilaan” Lily di kota diperlihatkan mencuci muka dengan air dari bak pemeliharaan kura-kura di sebuah toko. Petualangannya berakhir di rumah sakit.

Clara mengalah dan membawa kembali Lily ke desanya. Dia harus bersabar menghadapi perilaku Lily yang lebih suka tinggal di gudang, memakai piyama setiap hari untuk kegiatan yang tidak tidur, mewarnai kuku ayam kalkun peliharaannya dengan kuteks, menyimpan binatang berbulu mati dalam kulkas dan kemudian kulitnya digunakan untuk membuat sandal bulu, celana bulu dan pernak-pernik lainnya. Mulanya Clara masih bersabar sampai suatu ketika pernikahannya dengan Pierre terancam. Clara harus memilih jalan hidupnya. Namun salah satu kegilaan Lily justru memberikan inspirasi jalan keluar dari masalah itu.

13680190961374587154

Ludivine Sagnier dalam Pieds sur Les Limaces (Krdit foto www.myfrenchfilmfestival.com)


Kelebihan film yang bertajuk Lily Sometimes judul Bahasa Inggrisnya, terletak pada Ludivine Sagnier benar-benar menghidupkan kharakter ini. Saya mengenalnya lewat Swimming Pool (2003), 8 Femmes (2002), Mesrine: Public Enemy (2008). Perempuan kelahiran 1979 ini rela menempelkan lengannya dengan beberapa lintah menunjukkan kharakter Lily yang begitu menyatu dengan alam, namun tampak aneh di mata “orang normal”.

Kritik saya ialah mengapa Lily tetap digambarkan kanak-kanak dan Clara tumbuh menjadi wanita dewasa (mature)? Tidak ada penjelasan. Tetapi ide film Pieds Nus sur Les limaces sejauh saya ketahui orisinil.

Dari departemen casting mungkin publik di Indonesia hanya mengenal Diane Kruger. Artis kelahiran Jerman 15 Juli 1976 ini bermain dalam film Hollywoood populer sebagai Helen dalam Troy (2004), National Tresure (2004) yang dibintangi Nicholas Cage, Inglourous Basterds (2009) dengan Brad Pitt. Terima kasih buat CCF (Pusat Kebudayaan Prancis) Salemba yang punya perpustakaan film yang lumayan koleksinya,sehingga bisa menambah wawasan soal film.

Irvan Sjafari

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Manajemen Mudik …

Farida Chandra | | 25 July 2014 | 14:25

Quo Vadis Jakarta Baru? …

Shendy Adam | | 25 July 2014 | 14:41

Sensasi Rafting di Kali Oyo Gunungkidul …

Tri Lokon | | 25 July 2014 | 15:27

Keras, Tegas dan Tajam Suara Politik di …

Hendrik Riyanto | | 25 July 2014 | 12:45

Ikuti Lomba Resensi Buku Tanoto Foundation! …

Kompasiana | | 11 July 2014 | 16:12


TRENDING ARTICLES

Dilema MK …

Akhmad Yunianto | 7 jam lalu

Kunjungan Clinton ke Aceh, Misi Kemanusiaan …

Rafli Hasan | 11 jam lalu

Demokrasi ala SBY Jadi Perhatian Pakar Dunia …

Solehuddin Dori | 11 jam lalu

Kebijakan Obama yang Bikin Ciut Nyali Orang …

Andi Firmansyah | 12 jam lalu

Mengapa Harus Jokowi yang Terpilih? …

Ryan Perdana | 13 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: