Back to Kompasiana
Artikel

Film

Maida Umaroh

Memacu semangat, menjalani setiap proses dengan harapan semuanya akan berakhir baik, namun jika semuanya tidak selengkapnya

Ngintip “Taare Zameen Par”

REP | 17 May 2013 | 22:10 Dibaca: 358   Komentar: 2   0

Pengantar

Film dengan judul “Taare Zameen Par” yang disutradarai oleh Amir Khan merupakan film yang sangat inspiratif. Cerita dalam film ini benar-benar sangat menyentuh, dan secara eksplisit menggambarkan tentang realita pendidikan yang terjadi pada anak, baik dalam sektor keluarga (orang tua) maupun sekolah (guru).

Setiap anak lahir dengan membawa berbagai keunikan tersendiri, mereka memiliki impian dan ketertarikan yang berbeda, dan tentu tidak sama dengan orang lain termasuk orang tua yang telah melahirkan dan membesarkannya. Entah karena lupa, tidak dibekali dengan pengetahuan yang cukup, atau bahkan karena sikap egois yang ada pada orang tua,sehingga mereka sering tidak mau tahu dengan apa yang dirasakan oleh anak-anaknya. Oleh karenanya, masih banyak orang tua yang meminta dan menuntut anak-anak mereka bisa mencapai dan menjadi apa yang dapat diraih oleh orang lain secara umum.

Praktik pendidikan yang terjadi di sekolah formalpun tak jauh berbeda dengan yang terjadi dalam keluarga. Dalam melaksanakan tugas sebagai guru, banyak dari mereka yang kurang bisa mendengarkan pendapat yang datang dari para siswa. Gambaran ini seolah ingin menegaskan bahwa guru adalah pihak yang paling tahu dalam proses pembelajaran. Zaman telah berubah, sumber informasi ada di mana-mana dan dapat dijangkau dengan mudah oleh anak-anak. Oleh sebab itu, anggapan yang demikian sangatlah tidak tepat. Proses belajar bisa terjadi dengan pola interaksi yang terjadi secara timbal balik dari guru-siswa, maupun siswa-guru. Pertukaran informasi itulah, yang nantinya dapat meningkatkan kemampuan dan wawasan siswa. Kemampuan mengelola proses pembelajaran juga harus disertai dengan kemampuan guru dalam memahami karakteristik setiap siswa. Pemahaman terhadap karakter setiap siswa dapat membantu guru dalam menentukan metode dan strategi belajar yang tepat. Setiap anak itu unik, mereka memiliki cognitive style yang berbeda antara siswa yang satu dengan yang lainnya. Oleh karena itu, tidak sepatutnya jika guru menerapkan metode yang selalu sama dalam proses pembelajaran. Jika keadaan ini terus dilakukan, maka penyampaian informasi dalam dunia pendidikan tidak akan merata, sebagian pihak diuntungkan dengan metode itu, sehingga mereka dapat mengikuti proses pembelajaran dengan lancar. Sedangkan siswa yang lain akan nampak sebagai siswa yang tidak mampu, terbelakang, malas dan berbagai labeling negatif lainnya, yang belum tentu tepat dengan keadaan mereka.

Sekilas tentang Film

Film ini menceritakan tentang seorang anak yang bernama Ishan Nandkishore Awasthi, yang lahir sebagai anak terakhir dari dua orang bersaudara. Ayahnya bernama Nandkishore Awasthi sedangkan Ibunya bernama Maya Awashi. Ishan berusia 8 tahun, menunjukkan sikap yang kurang suka dengan kegiatan belajar dan sekolah. Setiap pelajaran yang diberikan dirasakan sebagai sesuatu yang sulit baginya, sehingga Iapun harus gagal dakam ujian dan tidak naik kelas. Akibat dari itu, Ishan selalu mendapatkan ejekan dari teman-temannya, semua guru pun tidak suka dengannya dan memberikan lebel-lebel negatif: nakal, tidak memperhatikan, tidak tahu malu, bodoh serta membandingkan kemampuan Ishan dengan Yohan kakaknya yang berkemampuan baik.

Serupa dengan keadaan itu, Maya pun sering sekali merasa kebingungan dalam mengajari Ishan ketika di rumah. Ishan selalu melakukan kesalahan yang serupa baik dalam menulis maupun berhitung. Ibunya sering merasa sedih dengan keadaan ini, karena anak-anak seusianya dapat melakukan hal-hal itu dengan sangat mudah, sedangkan Ishan sangat sulit untuk melakukannya. Di samping itu, Ishan sering sekali menunjukkan perilaku bermasalah; terlibat perkelahian, berpura-pura sakit, bolos sekolah serta tidak mengerjakan tugas-tugas yang diberikan oleh guru. Setiap perilaku negatif yang dilakukan oleh Ishan dan itu diketahui oleh Ayahnya, maka Ishan dipastikan memperoleh “punishment” dari sang Ayah. Jika ini sudah terjadi baik Ibu maupun Yohan kakaknya tidak dapat melakukan apa-apa untuk membantu anak dan adik yang disayanginya.

Berdasarkan masalah-masalah yang dihadapi oleh Ishan itulah, sehingga ayahnya berkeinginan mengirimkan Ishan ke sekolah asrama yang cukup jauh dari rumah. Ketika mengetahui niat itu, Ishan menunjukkan sikap berontak kepada ayahnya. Dia juga meminta tolong kepada ibunya, agar ayahnya mengurungkan niatnya itu. Usaha yang dilakukan oleh Ishan tidak membuat niat ayahnya berubah, Iapun tetap dibawa ke asrama dan berpisah dengan keluarganya. Ishan menganggap bahwa sekolah di asrama merupakan hukuman yang diberikan oleh orang tua untuk anak-anak yang nakal dan tidak mau menurut. Anggapan itu kemudian diperkuat dengan sikap dan gaya mengajar guru di sekolah yang cenderung keras dengan alasan demi menegakkan kedisiplinan siswa.

Suasana kelas dan kegiatan asrama sama sekali tidak dapat dinikmati oleh Ishan, dan semua guru tetap menganggap dia sebagai siswa yang bodoh, berbagai hukumanpun diterima sebagai bentuk konsekuensinya. Ishan diselimuti oleh ketakutan dan kesedihan yang dalam, sehingga membuat dia tidak bersemangat dan tidak mau melakukan apapun termasuk melukis yang selama ini menjadi aktivitas yang Ia gemari. Keadaan itu terus berlangsung sampai datangnya guru seni pengganti yang bernama Ram Shankar Nikumbh (Aamir Khan).

Gaya mengajar yang berbeda dengan guru-guru pada umumnya membuat Nikumbh digemari oleh semua siswa, tapi tidak bagi Ishan. Sebab itulah, Nikumbh mencoba mengamati dan mencari tahu masalah yang dihadapi oleh Ishan termasuk juga tanggapan orang tua tentang keaadaanya, akhirnya dia mengetahui bahwa Ishan adalah anak yang mengalami Disleksia. Oleh sebab itu, Dia membuat orang tua dan guru lainnya menyadari bahwa Ishaan bukan anak yang abnormal, tetapi anak yang sangat khusus dengan bakat sendiri. Dengan waktu, kesabaran dan perawatan Nikumbh berhasil dalam mendorong tingkat kepercayaan Ishaan. Dia membantu Ishaan dalam mengatasi masalah pelajarannya dan kembali menemukan kepercayaan yang hilang, serta mau kembali aktif dalam menuangkan imajiansinya dalam lukisan-lukisan yang selama ini menjadi dunianya.

  • Bahas Yuk !

Sebuah keluarga dapat dinilai sebagai suatu sistem yang didalamnya memiliki serangkaian aturan, dengan berbagai batasan untuk masing-masing subsistem yang ada didalamnya. Subsistem merupakan unit yang ada dalam sebuah sistem yang secara keseluruhan memiliki fungsi dan peran yang berbeda-beda. Menurut Irene & Herbert, hal yang perlu ditekankan adalah kejelasan atas batasan dari masing-masing subsistem guna menciptakan keluarga yang berfungsi secara efektif dan dapat bertumbuh bersama.

Film “Taare Zaamen Par” dapat menjadi gambaran dari dinamika keluarga Asia secara umum. Dimana masing-masing subsistem berperan sebagaimana mestinya, dan secara tradisional masih disandarkan pada jenis kelamin. Ayah sebagai kepala keluarga bekerja di luar rumah guna menghidupi keluarga. Ibu berperan sebagai isteri yang siap melayani suami dan memenuhi seluruh kebutuhan anak, membimbing dan mengajari, serta berperan sebagai pihak yang mengontrol semua urusan anak. Secara praktis, penulis kurang melihat adanya peran keterlibatan ayah dalam membimbing anak-anak. Sosok ayah dalam film itu digambarkan sebagai pihak yang sibuk dengan urusan pekerjaan dan memiliki harapan yang tinggi untuk kedua anaknya. Selain itu, ayah juga digambarkan sebagai sosok pribadi yang tegas, keras, dan cukup ringan tangan ketika berhadapan dengan masalah-masalah yang dihadapi oleh anak. Sikap semacam inilah yang menurut penulis, menyebabkan anggota keluarga lain seperti; Maya, Yohan bahkan Ishan kurang dapat mengkomunikasikan apa yang mereka rasakan dan apa yang mereka inginkan.

Peran-peran anggota keluarga dalam film itu sesuai dengan yang digambarkan oleh Feldman mengenai dimensi psikologis peran laki-laki dan perempuan secara tradisional. Pembagian peran itulah yang pada akhirnya menghalangi keluarga berfungsi secara baik, karena adanya halangan-halangan yang dihadapi oleh masing-masing subsistem untuk mengembangkan potensinya. Berikut ini adalah peran suami dan isteri (laki-laki dan perempuan) yang dapat penulis peroleh dengan mendasarkannya pada hasil penelitian Feldman:

  1. Peran isteri; berorientasi rumah dan anak, hangat dan penuh kasih sayang, peka dengan perasaaan anggota keluarga, perhatian dan bijaksana, emosional, lemah (rapuh), penurut dan cenderung tergantung dengan apa yang diungkapkan oleh suami.
  2. Peran suami: ambisius, kompetitif, kurang berperasaan, tangguh, dominan dalam menentukan dan membuat keputusan, kasar (keras) dan otokratik (kaku).

Menurut hemat penulis, konflik yang terjadi dalam keluarga Nandkishore Awasthi disebabkan oleh adanya ketidaktahuan orang tua terhadap masalah yang dihadapi oleh anak (Ishan), yang mengalami krisis perkembangan. Sebagai akibatnya, orang tua (ayah) menganggap bahwa Ishan adalah anak yang malas, nakal dan tidak dapat diatur. Posisi Ishan juga cenderung semakin sulit karena keadaannya bertolak belakang dengan apa yang ada pada diri kakak (Yohan). Disfungsi peran keluarga memiliki korelasi yang kuat dengan krisis perkembangan, baik perkembangan keluarga itu sendiri maupun perkembangan setiap anggota keluarga, orangtua maupun anak.

Ayah menginginkan anak-anak yang cerdas, pintar, dan sukses secara akademik sehingga mereka dapat menjawab tantangan zaman yang terus menuntut persaingan. Keinginan ayah nampaknya tidak begitu sulit bagi kakak (Yohan) karena dia memang anak yang cerdas dan memiliki self-regulasi yang baik. Sedangkan bagi Ishan, harapan itu adalah hal yang sangat sulit untuk dilakukan. Bukan karena dia malas ataupun nakal seperti yang dipahami oleh orang-orang yang ada disekitarnya. Semua itu disebabkan oleh gangguan kesulitan belajar (disleksia) yang cukup terlambat diketahui baik oleh orang tua maupun sekolah. Akibatnya, anaklah yang menjadi korban, dan masalah-masalah perilaku yang ditunjukkan olehnya adalah bentuk pelarian dari ketidakmampuannya, bukan karena dia ingin melakukannya.

Ciri keluarga yang disfungsi tergambar dengan jelas dalam film “Taare Zameen Par”, misalanya:

  1. Pola komunikasi yang patologis; digambarkan oleh adanya komuniksi yang retak dengan sedikitnya kontrol emosi dari masing-masing anggota keluarga khususnya ayah.
  2. Tidak terlibat dan menjaga jarak; ciri ini lebih ditekankan kepada ayah, yang kurang menunjukkan keterlibatan secara langsung dalam urusan pendidikan dan pengarahan anak. Kepedulian dan perhatian orang tua dipahami sebatas terhadap pemenuhan kebutuhan fisik anak maupun laporan keberhasilan belajarnya. Sehingga sentuhan, perhatian dan penghargaan terhadap prestasi kecil yang dapat diraih oleh anak kurang begitu dipentingkan bahkan tidak pernah ditunjukkan. Kasih sayang orang tua nampak muncul sebagai bentuk yang penerimaan bersyarat atas kemampuan mereka.
  3. Terjadi kekerasan; Dalam film itu ada beberapa adegan yang menunjukkan sikap marah ayah, yang disertai dengan pemukulan kepada anak.

Walaupun menggambarkan adanya ciri keluarga yang disfungsi, film ini juga menggambarkan tentang proses dan upaya dari orang tua untuk  mencoba mengerti dan memahami kebutuhan dan keadaan anak. Hal ini menunjukkan bahwa tidak sepenuhnya apa yang terjadi dalam keluarga itu adalah salah, karena semuanya berangkat dari ketidaktahuan mereka. Orang tua mau merubah dan menghagai impian dan keinginan anak dengan bantuan dari guru di sekolah. Jadi, interaksi yang baik antara orang tua dan guru tentang perkembangan ataupun problem yang dialami oleh anak, akan menjadi cara yang bijak dalam memahami permasalahan anak.

Setiap anak adalah spesial dengan berbagai keunikan harapan dan impian yang berbeda-beda. Oleh sebab itu tidak tepat kiranya jika kita (para orang tua dan guru) memasung impian dan harapan mereka. Ijinkan mereka hidup dengan potensi dan keunikan, hargailah apa yang mereka lakukan, maka mereka pun akan tumbuh dan berkembang menjadi pribadi yang sehat dan cerdas serta mengesankan semua orang.

“Alhamdulillah, semoga bermanfaat”

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Inilah 5 Butir Penting Putusan MK atas …

Rullysyah | | 21 August 2014 | 17:49

MK Nilai Alat Bukti dari Kotak Suara …

Politik14 | | 21 August 2014 | 15:12

Penulis Fiksiana Community Persembahkan …

Benny Rhamdani | | 21 August 2014 | 11:53

Meriahnya Kirab Seni Pembukaan @FKY26 …

Arif L Hakim | | 21 August 2014 | 11:20

Haruskah Semua Pihak Menerima Putusan MK? …

Kompasiana | | 21 August 2014 | 10:31


TRENDING ARTICLES

Dear Pak Prabowo, Would You be Our Hero? …

Dewi Meisari Haryan... | 3 jam lalu

Kereta Kuda Arjuna Tak Gentar Melawan Water …

Jonatan Sara | 4 jam lalu

Dahlan Iskan, “Minggir Dulu Mas, Ada …

Ina Purmini | 5 jam lalu

Intip-intip Pesaing Timnas U-19: Uzbekistan …

Achmad Suwefi | 7 jam lalu

Saya yang Memburu Dahlan Iskan! …

Poempida Hidayatull... | 10 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: