Back to Kompasiana
Artikel

Film

Syaiful W. Harahap

Aktivis LSM (media watch), peminat masalah sosial kemasyarakatan, dan pemerhati (berita) HIV/AIDS

FTV di “SCTV” yang Merusak Citra Pariwisata Yogyakarta

OPINI | 23 May 2013 | 09:05 Dibaca: 2194   Komentar: 1   0

* Perzinaan adalah delik aduan

Ini harus tak kerjai.” Itulah sesumbar karyawan losmen yang ditampilkan di FTV “Calon Istri yang Sempurna” produksi screenplayproductions di “SCTV” (22/5-2013) tentang ‘pasangan’ yang menginap di losmen tsb.

Kenyataan pahit dihadapi Bondan (Donny Alamsyah) dan Saraswati (Gista Putri), dua pemeran dalam FTV itu, ketika polisi mendobrak pintu kamar mereka.

Polisi dalam FTV itu juga berlebihan (overacting). Hanya menggerebek [KBBI: mendatangi dengan tiba-tiba untuk menangkap (menggeledah, menyergap, dsb.) pasangan yang diduga berbuat mesum dilakukan dengan todongan pistol.

Cara polisi itu merupakan promosi buruk dan busuk yang akan merusak citra pariwisata Yogyakarta sebagai kota tujuan wisata terbaik.

Pertama, perzinaan adalah delik aduan. Karyawan hotel itu sudah melakukan perbuatan melawan hukum dan pelanggaran hak asasi manusia (HAM) karena melaporkan perbuatan yang tidak ada kaitannya dengan dirinya terkait pernikahan. Polisi hanya bisa merazia jika ada pengaduan dari suami atau istri salah satu pasangan yang ada di kamar penginapan, losmen, hotel melati dan hotel berbintang.

Kedua, polisi melakukan diskriminasi karena hanya mendobrak kamar Bondan di losmen itu.

Ketiga, polisi tidak menangkap basah pasangan itu sedang melakukan hubungan seksual sehingga menggiring mereka ke kantor polisi adalah perbuatan melawan hukum dan pelanggaran HAM.

Keempat, kalau polisi merasa dirinya sebagai ’penjaga gawang moral’, mengapa tidak merazia semua kamar di losmen itu, serta losmen, penginapan, hotel melati dan hotel berbintang yang ada di Kota Jogja?

Kelima, di lokasi pelacuran ’Sarkem” (Jalan Pasar Kembang) secara faktual terjadi ratusan perzinaan, mengapa polisi tidak merazia ’Sarkem’?

Cara-cara yang ditonjolkan dalam FTV itu membuat pelancong akan ketakutan karena karyawan losmen justru menjadi musuh sebagai kaki tangan polisi.

Tidur sekamar selalu dikaitkan dengan hubungan seksual. Maka, di beberapa kota tidak ada kamar yang mempunyai pintu penghubungan (connecting door) dengan alasan kalau ada pintu penghubung akan terjadi perzinaan. Pandangan itu naif sekali karena beda kamar, bedah lantai, bahkan beda hotel pun bisa saja terjadi perzinaan jika satu pasangan sudah sepakat melakukannya.

Padahal, Bondan sendiri meminta kamar dengan dua tempat tidur terpisah. Tapi, karyawan hotel yang menerima mereka justru berburuk sangka dan mengejek Bondan. ”Remaja sekarang rusak,” kata karyawan hotel tsb. tentang Bondan.

Apakah remaja dulu yang sekarang seusia karyawan itu tidak rusak? Kasus HIV/AIDS pada istri terus terdeteksi di semua daerah di Nusantara yang menunjukkan sebagian kalangan dewasa juga ’rusak’ karena melacur tanpa kondom yang membuat mereka tertular HIV/AIDS.

Streotip (KBBI: konsepsi mengenai sifat suatu golongan berdasarkan prasangka yg subjektif dan tidak tepat)dimunculkan pula dalam FTV tsb. yaitu menyebutkan perempuan yang mau diajak tidur di losmen sebagai ’perempuan nakal’.

Lalu, apa julukan bagi laki-laki dewasa, terutama yang beristri, yang membawa cewek ke penginapan, losmen, hotel melati dan hotel berbintang serta lokasi pelacuran?

Penyebuatan ’perempuan nakal’ merupakan salah satu bentuk bias gender yang hanya menimpakan kesalahan (moral) kepada perempuan.

Kalau saja skenario FTV itu digarap lebih baik tentulah tidak perlu ada penangkapan di kamar losmen. Bisa saja, misalnya, ketika Bondan dan Saraswati keluar dari losmen pagi hari dilihat teman atau keluarga sehingga dilaporkan ke orang tua Bondan dan Saraswati. Cara ini lebih smooth sehingga arif dan bijaksana.

FTV garapan dsx productions dan screenplayproductions biasanya bagus, tapi FTV “Calon Istri yang Sempurna” buruk sekali karena mengesankan razia pasangan yang menginap di losmen di Yogyakarta akan diadukan karyawan hotel ke polisi.***[Syaiful W. Harahap]***

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Raja Ampat (2): Muslim, Ojek, dan Negeri …

Luthfiyah Nurlaela | | 31 August 2014 | 08:52

Kerja Bakti Juga Ada di Amerika …

Bonekpalsu | | 31 August 2014 | 04:45

Kompasioner Terancam …

Hendra Budiman | | 31 August 2014 | 11:05

Mahabiru di Puncak Merbabu …

Den Bhaghoese | | 31 August 2014 | 09:39

Blog Competition Smartfren: Andromax yang …

Kompasiana | | 18 August 2014 | 20:22


TRENDING ARTICLES

Jokowi Tidak Tahan Lama …

Kokoro ? | 4 jam lalu

Usulan Hebat Buat Jokowi-Prabowo Untuk …

Rahmad Agus Koto | 6 jam lalu

Oknum PNS Memiliki Rekening Gendut 1,3 T …

Hendrik Riyanto | 6 jam lalu

Lurah Cantik nan Kreatif dan Inspiratif …

Axtea 99 | 10 jam lalu

Hak Menahan Tersangka, Kartu ATM Polisi …

Hanny Setiawan | 13 jam lalu


HIGHLIGHT

Penghasilan Ideal Penulis Indonesia, Berapa? …

Bambang Trim | 8 jam lalu

KRL–Setelah Gerbong Khusus Wanita …

Wardah Fajri | 9 jam lalu

Ranjau Berkarat …

Luhur Pambudi | 9 jam lalu

Asyiknya Belajar dengan Mind Map …

Majawati Oen | 9 jam lalu

“Petualangan Anak Indonesia” …

Tjiptadinata Effend... | 9 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: