Back to Kompasiana
Artikel

Film

Irvan Sjafari

Saat ini bekerja di sebuah tabloid komunikasi dan pernah bekerja di sejumlah media sejak 1994. selengkapnya

Review Film Laura dan Marsha: Bukan Hanya Kisah Koper dan Ransel

OPINI | 24 May 2013 | 13:31 Dibaca: 1085   Komentar: 1   1

13693768341926560787

Adegan dalam Laura dan Marsha di Amsterdam (kredit foto Inno Maleo Films)

Judul Film : Laura dan Marsha

Sutradara : Dinna Jasanti

Bintang : Prisia Nasution, Adinia Wirasti

Rated : **** (excellent)

Opening scene sudah menarik. Perjalanan sebuah postcard bergambar bangunan colosseum dari kantor pos hingga tiba di rumah Laura. Pembukaan semakin menarik karena juga didukung penggunaan teknik animasi menawarkan keceriaan. Diikuti percakapan antara dua orang sahabat sejak SMA, Laura (Prisia Nasution) karyawan travel agent dengan Marsha (Adinia Wirasti), seorang penulis buku travelling. Marsha mengajak Laura untuk berpergian ke Eropa.

Laura, single parent dari seorang anak perempuan bernama Luna, mulanya tidak tertarik. Dia enggan meninggalkan putrinya itu lama-lama ( hubungan hangat antara ibu dan anak ini diperlihatkan dengan membacakan cerita sebelum tidur). Sementara Marsha ingin merayakan dua tahun kepergian ibunya sekaligus mewujudkan khayalannya berlibur ke Eropa. Akhirnya Laura luluh juga. Kharakter keduanya berbeda, laura teratur, sistematis dan terbiasa merencanakan hal-hal yang akan dia lakukan. Sementara Marsha ceria, spontan dan menyukai hal-hal yang berbau kebebasan.

Perbedaan antara keduanya terlihat dari bagaimana membawa pakaian, Laura yang serba teratur dan direncanakan menggunakan koper, sementara Marsha hanya dengan ransel standar para backpacker. Dalam perjalanan yang menempuh Amsterdam, Bruhl, Inssbruck, Verona dan Venice ini perbedaan ini melahirkan konflik demi konflik. Mulai dari betapa santainya Marsha mengajak penumpang asing bernama Finn ikut perjalanan mereka, tersesat di sebuah hutan, pertemuan dengan sebuah grup musik yang berkeliling.

Hingga akhirnya Marsha mengetahui bahwa Laura punya agenda tersendiri dalam perjalanan itu ketika mereka terdampak dalam sebuah bangunan yang ditinggalkan penghuninya. Dalam adegan ini juga terungkap bahwa masalah yang dihadapi Marsha bukan hanya soal kehilangan ibu, tetapi ada hal yang lain yang justru berdampak. Apa yang dicari Laura sebetulnya bersangkutan dengan postcard di awal cerita dan kehadiran Finn yang sepintas tampak hanya tokoh pelengkap cerita saja.

Adegan pertengkaran antara Laura dan Marsha merupakan adegan yang terbaik dalam film ini. Untuk pertama kalinya kedua sahabat ini “saling menyerang”. Persahabatan mereka dalam ujian berat. Kematangan akting Prisia Nasution dan Adinia Wirasti tampak dalam adegan ini. Untuk Prisia Nasution (memang pantas dinobatkan sebagai aktris terbaik dalam Piala Citra 2011 dalam Sang Penari ) menurut saya berhasil menampilkan kegalauannya karena tingkah sahabatnya lewat gesture tubuh dan mimik wajah mulai dari munculnya Finn, resah didekati Hugo manajer grup musik hingga akhirnya meledak emosinya. Semua dilakukan dengan natural seperti terjadi di dunia realita.

13693769171295547916

Akting Adinia Wirasti dan Prisia Nasution di tepi sebuah danau di Jerman begitu natural (kredit foto Inno Maleo Films)

Begitu juga Adinia Wirasti begitu cemerlang, begitu natural menghidupkan kharakter Marsha, seolah-olah dia memerankan dirinya sendiri. Mungkin karena dia pernah juga memerankan kharakter Ambar dalam road movie juga, yaitu 3 Hari untuk Selamanya yang disutradarai oleh Riri Reza. Adegan Asti (panggilan karibnya) dengan santai mengajak ngobrol orang yang belum dikenal, mengajak main kartu, minum bir begitu natural lazimnya seorang yang kerap melakukan perjalanan.

Kelebihan pertama dari Laura dan Marsha memang terletak pada akting gemilang Prisia Nasution dan Adinia Wirasti. Menurut saya sebuah road movie menarik bila kharakter antara para pelakunya kuat dan ada konflik antara mereka. Konflik antara dua manusia (bisa lebih) yang melakukan perjalanan adalah hal realistis, karena watak asli akan terlihat. Jangankan antara dua sahabat, orang yang berhubungan darah di tempat terasing akan teruji hubungannya.

Saya teringat sebuah film Prancis, Le Grande Voyage (2004) karya Ismael Ferroukh yang menceritakan perjalanan antara dua orang Arab muslim, ayah dan anak (diperankan Mohamed Majd danNicholas Cazale) dari Prancis ke Mekah, Arab Saudi. Sang Ayah ingin naik haji adalah generasi yang masih terikat kultur negeri asalnya, sementara anaknya sudah “Prancis”. Kedua film ini menurut saya sebagian sebangun (berbeda konten tentunya), sama-sama menemui berbagai masalah dalam perjalanan yang memuncak pada sebuah konflik.

Pertengkaran antar dua sahabat Laura dan Marsha mirip pertengkaran ayah dan anak dalam Le Grande Voyage. Perbedaan antara mereka sudah digambarkan sejak awal. Sang ayah menyempatkan waktu membaca Al Qur’an dan tidak lupa shalat. Sang anak sebaliknya jangankan shalat, gaya hidup saja western oriented. Sang ayah kemudian berang karena si anak mabuk dan berpelukan dengan penari dari Jordan dan mereka berpisah di gurun.

Ada juga sebuah road movie yang tidak memperlihatkan konflik antara dua sahabat, tetapi karena perbedaan budaya mereka berkonflik dengan keluarga. Dunya dan Desie (2008) karya sineas Belanda Dana Nechushtan. Diceritakan Dunya, gadis keturunan Maroko tinggal Belanda dan sahabatnya Desie mengadakan perjalanan kembali ke Maroko karena Dunya akan dinikahkan dengan sepupunya. Konflik terjadi karena Desie hidup dengan gaya westernnya berada di negara muslim dan tinggal dalam keluarga yang masih memegang nilai-nilai Islam.

1369377062187021398

Adegan dalam Laura dan Marsha (kredit foto Inno Maleo Films)

Soal perjalanan lintas budaya ini, Laura dan Marsha tampaknya juga didukung riset yang kuat menampilkan realita perjalanan di Eropa. Sang sutradara Dinna Jasanti melakukan riset yang kuat, hingga adegan demi adegan realistis, serta saling berkaitan. Nggak ada dalam film ini tokoh-tokohnya bertemu orang Indonesia dan menemui orang yang bisa berbahasa Indonesia. Adegan penginapan di caravan bagi backpacker, polisi imigrasi mengejar Laura dan Marsha, realita yang terjadi di Eropa.

Menyaksikan Laura dan Marsha seperti menyaksikan film semi dokumenter. Kesan ini saya dapat juga ketika menonton Le Grande Voyage, Dunya and Desie dan juga Motorcycle Diary (2004) karya Walter Salles Penggunaan animasi di awal dan akhir film, serta soundtrack berisi beberapa lagu di antarnya Summertime yang begitu manis . Lagu-lagu ini dinyanyikan oleh Antononius Mashdiarto Wirtanto (Diar) musisi kebangksaan Indonesia yang tinggal di Jerman. Diar dan para personel juga bermain dalam beberapa adegan film ini. Skenario yang ditulis Titien Watimena juga kuat dan ending ceritanya sulit ditebak (kecuali bagi mereka yang menyimak benar adegan per adegan). Secara keseluruhan bagi saya film ini nyaris sempurna.

Satu-satunya masalah seperti halnya film road movie lainnya (terutama yang digarap apik) belum tentu bisa diterima semua penonton. Bagi yang tidak terbiasa menonton film genre seperti ini bisa merasa bosan. Namun bagi yang menyukainya akan membawa pulang tidak hanya hiburan, tetapi juga makna yang mendalam. Bagi penggemar travelling juga diberi pengetahuan baru bahwa Eropa itu tidak hanya seperti dalam brosur wisata, tetapi juga kota kecil yang unik.

Bagi mereka yang berjiwa muda, suka travelling, suka belajar lintas budaya, maka saya kira menonton Laura dan Marsha saya rekomendasikan.

Irvan Sjafari

Sumber Foto: Dokumen Inno Maleo Films

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Memotret Manusia Api …

Nanang Diyanto | | 19 September 2014 | 17:32

Ketika Institusi Pendidikan Jadi Ladang …

Muhammad | | 19 September 2014 | 17:46

Masa sih Pak Jokowi Rapat Kementrian Rp 18 T …

Ilyani Sudardjat | | 19 September 2014 | 12:41

Imbangi Valencia B, Indra Sjafrie Malah …

Djarwopapua | | 19 September 2014 | 14:17

Dicari: “Host” untuk …

Kompasiana | | 12 September 2014 | 16:01


TRENDING ARTICLES

Mencoba Rasa Makanan yang Berbeda, Coba Ini …

Ryu Kiseki | 6 jam lalu

Fatin, Akankah Go Internasional? …

Orang Mars | 6 jam lalu

Timnas U23 sebagai Ajang Taruhan… …

Muhidin Pakguru | 9 jam lalu

Wajar, Walau Menang Atas Malaysia, Peringkat …

Achmad Suwefi | 11 jam lalu

Memilih: “Kursi yang Enak atau Paling …

Tjiptadinata Effend... | 12 jam lalu


HIGHLIGHT

“Calon Ibu Pejabat Galau di Negeri …

Rietsy | 8 jam lalu

Centang Prenong …

Rifki Hardian | 8 jam lalu

Duka Lara …

Rifki Hardian | 8 jam lalu

Awal Manis Piala AFF 2014: Timnas Gasak …

Achmad Suwefi | 9 jam lalu

Taman Rekreasi Atau Kuburan? …

Rifqi Nur Fauzi | 9 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: