Back to Kompasiana
Artikel

Film

Refleksi Nasional Film `Sang Kiai`

OPINI | 05 June 2013 | 23:18 Dibaca: 244   Komentar: 2   1

Nama ‘Hasyim Asy’ari’ cukup familiar di telinga masyarakat Indonesia. Ya, beliaulah Pahlawan Nasional RI, Hadratus Syaikh (Mahaguru), pendiri Pondok Pesantren Tebuireng Jombang serta Rois Akbar Jamiyah Nahdhatul Ulama (NU). Bahkan sejarawan Arab kenamaan, Sayyid M. As’ad Syihab menjulukinya sebagai wadhi’ labinati istiqlal Indunisia atau peletak batu pertama kemerdekaan Indonesia.

Selain diabadikan sebagai nama institut dan lembaga pendidikan, nama ‘Hasyim Asy’ari’ juga banyak dijumpai sebagai nama jalan penting di berbagai kota di Indonesia, seperti Jakarta, Semarang, Surabaya, Ciledug, Jombang, Madura, dan sebagainya. Baru-baru ini, search engine atau mesin pencari google menambah entri baru untuk nama ‘Hasyim Asy’ari’ Yaitu sebuah film berjudul “Sang Kiai” yang diproduksi oleh RAPI Film.

Film ini baru diliris 30 Mei 2013, dan telah diputar di seluruh bioskop di Indonesia. Sebuah kesempatan luar biasa kami bisa menyaksikannya beserta rombongan 60 santri dan keluarga Tebuireng di Surabaya. Kami merasa wajib menontonnya, karena Hadratus Syaikh KH Muhammad Hasyim Asy’ari adalah tokoh besar yang tak hanya berjasa mendidik jiwa raga kami tetapi juga berjuang atas nama agama dan untuk Indonesia.

Menguak sejarah

Secara singkat film ini mengisahkan perjuangan hidup Kiai Hasyim Asy’ari dan keterlibatan kaum santri dalam meraih kemerdekaan Indonesia. Secara jelas digambarkan betapa kontribusi pesantren sangat menentukan nasib rakyat kala itu. Pesantren juga membentuk barisan tentara yang diberi nama Hizbullah beranggotakan santri-santri di Pulau Jawa.

Dalam film ini Kiai Hasyim Asy’ari menjadi konsultan spiritual bagi tokoh perjuangan nasional seperti Bung Karno, Jendral Sudirman serta Bung Tomo. Tanggal 10 Nopember yang kini diperingati sebagai Hari Pahlawan, tak lain bermula dari gempuran para santri dan arek-arek Suroboyo melawan sekutu berkat fatwa Resolusi Jihad yang dikeluarkan oleh Kiai Hasyim. Secuplik sejarah yang ditampilkan dalam film ini tampaknya belum masuk atau bahkan ‘hilang’ dari data dokumentasi negara. Ini bisa dilihat di buku-buku pelajaran sejarah di sekolah formal.

Genre ‘Edukasi’

Film yang disutradarai Rako Prijanto ini menarik banyak kalangan. Presiden RI berserta wapres dan pejabat lainnya memberikan apresiasi sebagai film yang direkomendasikan untuk disaksikan khalayak umum. Karena berisi nilai-nilai perjuangan, nasionalisme, religius dan inspirasi generasi muda bangsa. Persentase penonton film Indonesia tahun 2012 diwarnai dengan berbagai genre, mulai drama 66.07%, horor 16.07%, laga 9.90%, komedi 4.18%, horor-komedi 1.54%, thriller 1.37%, musikal 0.62%, dan animasi 0.25%.

Jika dikategorikan, Film ‘Sang Kiai’ ini masuk dalam genre colossal-biography, serupa dengan documentary-history. Genre semacam ini memang sedang diminati penggemar film Indonesia. Maka tak heran, film Habibie dan Ainun sudah mengumpulkan 4.370.376 lebih, terpaut tiga ratus ribu saja dari rekor pendapatan Laskar Pelangi.

Hal ini menjadi sebuah angin segar bagi perusahaan film Indonesia untuk lebih giat mengadaptasi kisah nyata ke layar film daripada fiktif. Di samping secara bisnis dapat menjanjikan, genre semacam ini tentunya akan menambah referensi edukasi dan mencerdaskan bangsa. Diprediksi tokoh-tokoh besar nasional seperti Bung Karno, Ki Hajar Dewantara, Ibu Kartini, Gus Dur akan difilmkan, agar dunia film Indonesia tidak hanya dipenuhi hantu dan pocong. Semoga!

Gelisah dan Tantangan

Ketika film Sang Pencerah yang mengisahkan KH A Dahlan dirilis (2010), tokoh pesantren dan NU sudah mewanti-wanti agar KH M Hasyim Asy’ari tidak perlu difilmkan. Banyak alasan, di antaranya khawatir figur yang memerankan Kiai Hasyim tidak sesuai dan terjadi pengerdilan citra tokoh besar itu. Sejumlah dzuriyah (keluarga) Bani Hasyim pun tidak semua setuju.

Bahkan tanggapan pun juga datang dari KH Salahuddin Wahid (Gus Sholah), cucu Kiai Hasyim yang kini meneruskan kepemiminan Pesantren Tebuireng. Ada 2 hal yang menjadi pertimbangannya. Pertama, sebagian masyarkat umum yang tidak mengenal banyak tentang tokoh pejuang Islam, akan mengira Hasyim Asy’ari adalah satu gembong teroris karena namanya hampir serupa dengan Dokter Azhari, padahal sangat berbeda.

Kedua, untuk saat ini biografi Kiai Hasyim masih bisa dijumpai di buku literatur terkait. Akan tetapi sepuluh tahun kedepan, generasi muda belum tentu minat membaca buku. Khawatir mereka tidak mengenal siapa itu Kiai Hasyim, maka film ini menjadi salah satu solusi terbaik.

Akan sangat ironi jika mereka lebih mengidolakan penyanyi luar negeri daripada pejuang tanah airnya sendiri. Selain itu, film Sang Kiai juga menjadi sebuah tantangan bagi pesantren di Indonesia yang kini berjumlah lebih dari 25.785 pesantren. Jika dahulu Pesantren Tebuireng membela bumi pertiwi mati-matian, lantas apa kontribusi pesantren untuk negeri kini? (Fathurrohman/Mar)

Fathurrohman adalah Mahasiswa Ma’had Aly Hasyim Asy’ari, Pesantren Tebuireng Jombang yang juga pewarta warga.

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Kerbau Disembelih, Tanduknya Jadi Sumber …

Leonardo | | 31 July 2014 | 14:24

Aborsi dan Kemudahannya …

Ali Masut | | 01 August 2014 | 04:30

Di Pemukiman Ini Warga Tidak Perlu Mengunci …

Widiyabuana Slay | | 01 August 2014 | 04:59

Jadilah Muda yang Smart! …

Seneng Utami | | 01 August 2014 | 03:56

Punya Gaya “Make Up” Menarik? …

Kompasiana | | 09 July 2014 | 00:21


TRENDING ARTICLES

Perbedaan Sindonews dengan Kompasiana …

Mike Reyssent | 13 jam lalu

Lubang Raksasa Ada Danau Es di Bawahnya? …

Lidia Putri | 17 jam lalu

Jangan Tulis Dulu Soal Wikileaks dan …

Bang Pilot | 21 jam lalu

Tipe Karyawan yang Perlu Diwaspadai di …

Henri Gontar | 31 July 2014 09:31

Evaluasi LP Nusa Kambangan dan …

Sutomo Paguci | 31 July 2014 09:01

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: