Back to Kompasiana
Artikel

Film

Rama Wibi

i'am nothing but i want to be something...

Review Film “Leher Angsa”

OPINI | 21 June 2013 | 10:29 Dibaca: 923   Komentar: 1   2

Title : Leher Angsa

Genre : Family

Rate : 3,5 of 5 Star

Lagi-lagi gw selalu lebih terpesona dengan film garapan Alenia Pictures ini, entah dari yang pertama berupa Denias sampe yang terakhir Di Timur Matahari, dan gw rasa Alenia adalah satu-satunya rumah produksi yang concern untuk mengangkat tema anak-anak, pendidikan dan juga budaya untuk daerah timur Indonesia. Tidak seperti film-film anak yang beredar sekarang dibioskop yang lebih mengutamakan ke-priyayi-an dan membentuk mental anak-anak menjadi menye dan cemen, antara Cowboy Junior atau Leher Angsa, pleeaaassseeee orangtua pilihlah LEHER ANGSA dan JANGAN BAWA BAYI ATAU BALITA ya…..

Film ini dari segi cerita sebenarnya menceritakan apa yang benar-benar terjadi didaerah timur sana, disaat di Jekarta dan sekitarnya menikmati segala macam kebutuhan hidup, tetapi di Lombok timur sana masih ada yang mesti rela untuk makan hanya dengan sepotong tempe dan juga menikmati keindahan pegunungan Rinjani. Warga di desa tersebut memang apa adanya tidak muluk-muluk akan kehidupan yang serba wow, terlebih untuk satu hal yaitu buang hajat mereka benar-benar secara bersama-sama untuk ke kali dan membuang hajat di kali itu secara langsung. Tidak ada yang bisa merubah kebiasaan kotor mereka yang menyebabkan penyakit dimana-mana hingga Aswin yang menjadi pelopor untuk membuat WC leher angsa dirumahnya dan diikuti oleh para penduduk sekitarnya.

13717851702125789087

4 peran anak-anak ini bisa gw bilang sangat menghibur banget dan anak-anak banget, kental dengan kebisaaan mereka masing-masing disekolah, ada yang ngeyel dengan kebisaannya memainkan biola, ada yang terbiasa ngupil dikelas dan meperinnya dimeja kelas dan tingkah konyol mereka yang menjadikan 4 persahabatan yang lucu.

Overall, film ini sederhana banget ceritanya, cuma ndak terkoneksi dengan baik antara awal, tengah dan akhirnya. Maksud yang disampaikan sebenarnya jelas cuma dari awal penonton mesti ngikutin tingkah polah masyarakat sana dahulu, jadinya rada bingung juga gw pas tengah-tengah, terlebih ALenia mencoba memainkan efek animasi yang masih kurang halus, dari gw sih ini udah cukup berkesan banget cuma sedikit agak kasar jadinya masih bisa nebak kalo ini efek animasi. Untuk komedi slapticknya cukup bisa membuat ketawa dan sedikit nyinyir kok, tapi yang membuat janggal adalah tampilnya efek animasi yang bikin gw nelen ludah dan berucap “iyyuuuuhhhhhhhh….” sedikit vulgar atau memang vulgar benar memang ALenia menampilkannya tapi kalo gw liat dari kebiasaan masyarakat sana ya memang seperti itu, cuma sayangnya pesan itu kurang sampai kepada penonton karena pasti penonton bakalan nelen ludah dan berucap “iihhhhhh apaan sih itu jijik banget….”. So, far ALenia sebenarnya ingin menyampaikan kepada kita yang tinggal di kota besar dengan bergelimpangan kemudahan bahwa masyarakat sana masih ada yang seperti itu dan inilah Indonesia, disaat siaran televisi dan film-film kita dibuat se-Hedon mungkin, ALenia mengingatkan untuk memperhatikan mereka yang terbelakang dari sisi kemudahan namun terdepan dari sisi cita-cita, tidak seperti di kota besar bukan…

137178526399672197

1371785282375135092

Bagusnya film garapan ALenia sudah pasti keindahan alam yang disajikannya, kali ini Lombok yang digunakan ALenia untuk menggambarkannya kepada dunia *mungkin*, Lombok bukan hanya pantai Senggigi atau Gilitrawangan, dibawah kaki Rinjani juga terdapat keindahan desa dan bukit-bukit yang bikin gw berdecak kagum sama Indonesia ini. Film keluarga dan yang pasti cocok dengan anak-anak untuk diajarkan tentang Indonesia dibandingkan nonton filmnya si Iqbal dkk yang menurut gw sori gak mengajarkan anak menjadi anak Indonesia pada umumnya, hanya menampilkan kehidupan yang bukan sesungguhnya. Film ini sedikit aneh dan jorok mungkin bagi sebagian orang yang menganggapnya belum terbiasa, tapi bukan itu maksud yang disampaikan oleh ALenia.

~r4,20130621~

Tags: my event

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Belum Lebaran kalau Belum ke Pasar Malem …

Nanang Diyanto | | 02 August 2014 | 10:03

Upie Guava yang Tetap Rendah Hati …

Ahmad Imam Satriya | | 02 August 2014 | 11:23

Eksotisme Sisi Barat Gunung Kidul …

Yswitopr | | 02 August 2014 | 09:29

Gedung Flora di Malang …

Abdul Malik | | 02 August 2014 | 08:36

Ikuti Lomba Resensi Buku Tanoto Foundation! …

Kompasiana | | 11 July 2014 | 16:12


Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: