Back to Kompasiana
Artikel

Film

Septian Dhaniar Rahman

Seorang karyawan biasa sekaligus pengarang novel satire spionase TUAN BONG Bisa juga ditemui di http://novelismelankolis.blogspot.com selengkapnya

Kesimpulan Akhir Film “Pacific Rim”

OPINI | 14 August 2013 | 16:18 Dibaca: 723   Komentar: 5   0

1376471840827161021

sketsa bikinan pribadi

Tidak mudah membuat sebuah film orisinal di Hollywood apalagi dengan semakin gencarnya proyek film adaptasi dari media lain seperti novel, komik, serial televisi, sandiwara radio, wahana permainan, video game. Film Pacific Rim adalah satu dari sedikit film orisinal sekaligus anomali di bulan musim panas selain After Earth dan Elysium. Berbeda dengan dua film lain yang dibintangi aktor-aktor kondang seperti Will Smith dan Matt Damon, Pacific Rim sama sekali tidak seperti itu karena sutradara asal Meksiko Guillermo Del Toro lebih memilih lusinan aktor-aktris dari serial televisi yang tidak sekondang Smith maupun Damon untuk berbagai karakter utama maupun pendukung seperti Charlie Hunnam sebagai Raleigh Beckett, Rinko Kikuchi sebagai Mako Mori, dan Idris Elba sebagai Stacker Pentecost. Ada lagi duo komedian Charlie Day dan Burn Gorman sebagai dua ilmuwan nyentrik Newton Geiszler dan Herman Gottlieb, Clifton Collins Jr sebagai Tendo Choi, serta aktor watak langganan sutradara Del Toro yaitu Ron Perlman sebagai Hannibal Chau.

192 menit adalah durasi awal dari film ini, tetapi pada akhirnya hanya 132 menit yang tersisa di final cut-nya. Memang sebuah keputusan amat sulit bagi sutradara Del Toro untuk mengesampingkan satu jam durasi yang mungkin membuat filmnya menjadi panjang dan lama seperti Choki-Choki. Del Toro merangkum pondasi awal filmnya sepanjang 15 menit secara efisien sehingga membuat penontonnya langsung bisa merasakan situasi genting di filmnya, lalu tanpa bertele-tele Del Toro langsung mengejutkan penonton dengan memberi adegan aksi di awal film melibatkan Beckett bersaudara, Raleigh dan Yancy. Jangan harap ada kesenangan yang ada karena justru adegan aksi awal ini memicu nuansa kepiluan dan kegetiran mendalam bagi keduanya yang menjadi titik awal adegan selanjutnya.

Munculnya Stacker Pentecost memberikan nuansa resistensi pada tone filmnya. Begitu pula dengan adanya Mako Mori dan Tendo Choi. Adanya berbagai pilot dan robot dari pihak perlawanan yang tersisa tentu menjadi harapan bagi Pentecost sebagai pimpinan kaum resisten. Lalu bagaimana peran dua ilmuwan nyentrik duo G itu? Seakan belum cukup, kehadiran Hannibal Chau ternyata tidak terduga juga. Sementara itu bagaimana pula robot dan monster yang menjadi ikon-ikon dari film ini?

Dari durasi 132 menit alias 125 menit + 7 menit ending credit title (termasuk adegan tambahan koplak), ada sekitar 70 menit penuh adegan aksi di film ini, termasuk 25 menit adegan The Battle of Hongkong, 20 menit adegan awal yang berujung tragedy, 3 menit adegan robot perang lawan monster penjebol tembok di Sydney, 5 menit adegan flashback Mako kecil di Tokyo, serta 17 menit perang di klimaks filmnya. Adegan 70 menit penuh aksi gila ini belum termasuk adegan latih tanding calon pilot robot yang melibatkan Raleigh dan Mako (dengan tanktop!) serta adegan perkelahian Raleigh lawan si pilot songong dari Australia itu.

Saat saya menonton saya betul-betul merasa takut bila monster-monster itu benar-benar muncul ke dunia nyata, lalu saya juga terkejut dengan tragedi di awal film, saya menangis sesenggukan melihat nasib Mako kecil, saya juga melongo plus ngeces/ngiler melihat adegan perang robot lawan monsternya, saya juga ehem terpesona pada … Rinko eh Mako dewasa sampai saya sempatkan diri membuat sketsanya di atas ehem.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Yuks Jadi Tongsis Reporter… …

Imam Suwandi | | 23 December 2014 | 00:56

Skandal Pekerja Apple, Mana Suara Pemerintah …

Fandi Sido | | 23 December 2014 | 09:17

Belajar Setia dari Tentara Suriah atau Lebih …

Abanggeutanyo | | 23 December 2014 | 05:27

Empat Modal PSSI Berprestasi di 2015… …

Achmad Suwefi | | 23 December 2014 | 07:07

Voluntourism Blog Competition: Berikan Aksi …

Kompasiana | | 08 December 2014 | 19:03


TRENDING ARTICLES

Fachri Hamzah Ucapkan Selamat Natal dan …

Gunawan | 3 jam lalu

Penyelidikan Korupsi RSUD Kota Salatiga …

Bambang Setyawan | 12 jam lalu

Akankah Nama Mereka Pudar?? …

Nanda Pratama | 14 jam lalu

Kasih Ibu dalam Lensa …

Harja Saputra | 15 jam lalu

Hebatnya Ibu Jadul Saya …

Usi Saba Kota | 16 jam lalu


Subscribe and Follow Kompasiana: