Back to Kompasiana
Artikel

Film

Zulfikar Akbar

Menulis itu adalah kombinasi gagasan dan tindakan, pikiran dan tangan, rencana dan kerja - Twitter: selengkapnya

Kontroversi Film Soekarno (Perbandingan dengan Film JFK)

HL | 14 December 2013 | 03:45 Dibaca: 3332   Komentar: 33   15

13869674331200248520

Film Soekarno setidaknya menjadi titik balik bangkitnya film berkelas di Indonesia (Gbr: Merdeka)

Anak dari pahlawan proklamasi, Soekarno bukan hanya Rachmawati Soekarnoputri. Sementara, gugatan paling kencang terkait dengan film tentang sosok kebanggaan Indonesia itu hanya datang dari sang putri presiden pertama tersebut.

Tanpa bermaksud menafikan atau meremehkan alasan yang dikemukakan Rachmawati, tapi jika berpijak pada konsep keberimbangan dalam pemberitaan, tentu menjadi hal paling ideal adalah melihat juga pandangan dari anak-anak Soekarno lainnya.

Pasalnya jika menyimak berita akhir-akhir ini, sangat sedikit yang memuat respons dari putra-putri Soekarno secara umum. Alasannya jelas karena di antara saudara-saudaranya, hanya Rachma yang melakukan penolakan. Sesuatu yang berbeda, dari kacamata berita tentu menarik. Berita itu juga menjual, wajar jika magnet berita lebih tertuju kepadanya.

Bagaimana dengan anak-anak tokoh yang kerap disapa dengan julukan “Bung Karno” yang lain soal film tersebut? Pada hari Senin, (9/12), tiga anak Soekarno turut menonton Gala Premier film Soekarno. Dua di antaranya adalah putri sang tokoh yang diangkat film itu: Karina Kartika Sari Dewi Soekarno dan Diah Mutiara Sukmawati Sukarnoputri, plus satu putra beliau: Guntur Soekarnoputra. Namun tak banyak media yang mengangkat kehadiran ketiga darah daging presiden pertama tersebut.

Guntur memang memberikan kritiknya terhadap film sejarah itu. Hanya secara garis besar, ia cenderung memperlihatkan kesan positif, yang kontras dengan penolakan Rachmawati yang mengherankan banyak pihak. “Film tersebut belum mencapai kualitas yang baik,” kata Guntur, seperti dikutip dari tempo.co. Namun ia juga mengaku, hal itu merupakan hal wajar dan ia memaklumi, “Karena ini–adalah film–pertama kali (tentang Soekarno),” ungkapnya.

Bahkan, Guntur juga memberikan pandangannya terhadap dampak positif dari film dimaksud. Menurutnya dengan kehadiran film ini, mampu memberikan penjelasan sekaligus gambaran mengenai ayahnya yang juga menjadi bapak bangsa Indonesia itu. Di sisi lain, ia pun menilai film tersebut akan membantu membangun karakter masyarakat Indonesia.

Pandangan yang sangat jernih, saya kira. Apalagi dengan film ini, banyak hal yang divisualkan tentang tokoh tersebut. Patut dicatat, budaya baca belum cukup membanggakan di Indonesia. Menurut saya pribadi, jika hanya berharap masyarakat negeri ini bisa mengenal Soekarno melalui bacaan, maka itu merupakan harapan yang absurd.

Terlebih lagi dunia layar lebar, televisi, dan sejenisnya sampai dengan internet, sedikitnya sudah kian menggeser budaya membaca. Maka tak keliru, saya pikir terkait logika dan apresiasi yang diberikan Guntur terkait film ini.

Kritik positif juga diberikan oleh Sukmawati, “Ada beberapa detail saja yang kurang sempurna,” ujarnya. Tak kurang, ia bahkan memuji pemeran utama film ini, Ario Bayu yang menurutnya sangat menjiwai karakter yang diperankannya.

Harus diakui, terdapat beberapa hal yang kurang. Itu juga yang sempat diungkapkan oleh Sukmawati. Menurut perempuan berusia 62 tahun ini, dari sisi alur sejarah memang terdapat beberapa hal yang keliru. Tapi lagi-lagi ia memilih untuk memakluminya.

Sukmawati menilai, kekurangan itu layaknya pemanasan, namun tidak serta-merta membuat film tersebut menjadi tidak penting. “Menceritakan mengenai tokoh pejuang kemerdekaan itu sangat penting,” ujar dia. Sementara Karina justru menyatakan kebanggaannya setelah melihat film garapan Hanung Bramantyo ini, selain ia juga menegaskan dirinya memiliki harapan yang besar terhadap film tersebut.

Itu bagian polemik dan dinamika yang berangkat dari keluarnya film tentang tokoh karismatik Indonesia, Bung Karno. Komentar dan pandangan yang paling mencuat lebih banyak berkisar dari keluarga sosok yang diangkat dalam film tersebut. Sejauh ini, belum terdapat komentar dan pandangan dari tokoh-tokoh kritikus film mumpuni seputar film ini. Kecuali, terdapat beberapa pandangan publik Indonesia yang mengeluarkan pandangannya melalui media-media sosial. Bukan kritikan obyektif lazimnya sebuah kritik film, yang mengenal dunia tersebut secara apa adanya dan seperti harusnya.

Kritik yang lebih mirip kecaman diberikan Rachmawati terhadap film itu jelas tak terasa sebagai kritik film, melainkan lebih banyak dirasakan publik sebagai kritik yang “ada apa-apanya”. Ini jelas sesuatu yang tidak sehat.

Sebuah Perbandingan

Masih ingat tentang film tentang presiden Amerika yang melegenda, John F. Kennedy? Jika berbicara soal kontroversi setelah sebuah film rilis, maka film yang akrab dengan akronim tokoh itu–JFK–juga menuai banyak kritik dan bahkan protes keras.

Film yang diproduseri dan sekaligus disutradarai Oliver Stone mendapatkan beragam komentar dari berbagai pihak dan media. Chicago Tribune, Washington Post, New York Times, menuliskan review plus kritik, hingga dibicarakan di acara talk-show Oprah, belakangan kemudian.

Jon Margolis, salah seorang penulis bahkan menuding film JFK sebagai film yang menghina intelektualitas. Artikel yang bernada kecaman keras itu dimuat pada 14 Mei 1991 di Chicago Tribune. Tak lama setelahnya, Washington Post memuat tulisan George Lardner yang secara garis besar menyebutnya sebagai film yang absurd–tidak masuk akal–dan penuh dengan kebohongan.

Kritik, kecaman, gugatan, boleh saja muncul. Seperti halnya yang belakangan ini juga mendera Hanung Bramantyo setelah dia meluncurkan film Soekarno. Toh, jika berkaca ke film JFK, meski kritik keras dan berbagai hal yang mirip dengan itu berdatangan, tetap tak menghalangi film JFK mendapat ganjaran penghargaan.

Patut dicatat, meski keabsahan data yang disuguhkan dalam film itu pun menuai kritik tajam, namun JFK kemudian masuk dalam delapan nominasi Academy Awards: Best Picture, Best Actor in a Supporting Role (Tommy Lee Jones/pemeran pendukung), Best Director (Oliver Stone), Best Original Score (John Williams), Best Sound, Best Cinematography, Best Film Editing, dan Best Adapted Screenplay. Dari sekian nominasi, JFK memenangkan dua penghargaan, Best Cinematography dan Best Film Editing (Sumber: Phil Reeves, harian The Independent, 1 April 1992).

Oliver versus Hanung

Tak kurang penting, rasanya saya merasa perlu melihat siapa Oliver Stone yang menggarap JFK yang masih menjadi magnet setelah 20 tahun rilis. Sebelum ia menggarap film presiden Amerika Serikat yang mati tertembak itu, Oliver sendiri lebih dulu menjalani pekerjaan sebagai pemain film. Namun, film yang dimainkannya sebelum ia menjadi sutradara dan merilis JFK, Oliver hanya bermain di dua film: The Battle of Love’s Return (1971) dan Wall Street (1987). Selain itu, pria jebolan New York University itu pun lebih dulu menyutradarai delapan film.

Sedikit membandingkan dengan Hanung yang mengarsiteki Soekarno. Ia lebih dulu menjalani posisi sebagai pemeran dalam tujuh film. Di samping, Hanung pun sudah lebih dulu menggarap 27 film, bandingkan dengan Oliver Stone! Di sini, semestinya memang sosok yang juga menggarap film tentang Ahmad Dahlan (Sang Pencerah) itu memiliki insting lebih tajam, paling tidak ia tidak mengalami semacam ’serangan’ seperti kencang menderanya belakangan.

Kembali ke film Soekarno, tak menjadi soal adanya gugatan dari salah satu putri Soekarno. Tidak menjadi masalah, ia menuai banyak kritik. Toh, masih banyak anak-anak Soekarno sekalipun memberikan kritik, tapi itu merupakan kritik yang lebih bersifat penghargaan. Indonesia butuh film-film berkualitas. Walaupun, di sisi lain, ke depan Hanung yang memiliki concern terhadap dunia perfilman, bisa lebih memerhatikan sumber-sumber dalam pembuatan filmnya dengan data-data yang lebih kuat. Syukur-syukur jika film yang lahir kelak bahkan menjadi referensi. (FOLLOW: @ZOELFICK)

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Indonesia 0 – 4 Filipina : #BekukanPSSI …

Angreni Efendi | | 26 November 2014 | 00:33

Bom Nuklir Ekonomi Indonesia …

Azis Nizar | | 26 November 2014 | 04:44

Nangkring bareng Litbang Kementerian …

Kompasiana | | 25 November 2014 | 19:25

Festival Foto Kenangan Kompasianival 2014 …

Rahab Ganendra 2 | | 26 November 2014 | 04:01

Olahraga-olahraga Udara yang Bikin Ketagihan …

Dhika Rizkia | | 11 November 2014 | 13:41


TRENDING ARTICLES

Kisruh Golkar, Perjuangan KMP Menjaga …

Palti Hutabarat | 4 jam lalu

Golkar Lengserkan Aburizal Bakrie, Babak …

Imam Kodri | 5 jam lalu

5 Kenampakan Aneh Saat Jokowi Sudah …

Zai Lendra | 9 jam lalu

Timnas Indonesia Bahkan Tidak Lebih Baik …

Kevinalegion | 10 jam lalu

Suami Bergaji Besar, Masih Perlukah Istri …

Cucum Suminar | 12 jam lalu


HIGHLIGHT

Golkar Pecah karena Ical Praktekkan Tirani …

Ninoy N Karundeng | 7 jam lalu

Uang Nasabah Bank Mandiri Raib 8 Milyar …

Ifani | 8 jam lalu

Ternyata Server E KTP di Dalam Negeri, …

Febrialdi | 8 jam lalu

FPI Tak Usah Dibubarkan …

Radix Wp Ver 2 | 8 jam lalu

Kisah Cinta Putra Jokowi …

Jimmy Haryanto | 9 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: