Back to Kompasiana
Artikel

Film

Irvan Sjafari

Saat ini bekerja di sebuah tabloid komunikasi dan pernah bekerja di sejumlah media sejak 1994. selengkapnya

Catatan untuk “Tenggelamnya Kapal Van der Wijck”, Sepertiganya Rasa Bollywood

OPINI | 23 December 2013 | 12:41 Dibaca: 837   Komentar: 7   3

13877772521406437351

Adegan Tenggelamnya Kapal Van der Wijck (kredit foto Tribunnenews.com)

Judul Film : Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck

Sutradara : Sunil Soraya

Bintang : Herjunot Ali, Pevita Pearce, Reza Rahadian, Arzeti Bilbina, Rendy Nidji

Rated : ***

Saya sengaja mengajak kedua orangtua saya menonton film yang diadaptasi dari novel karangan HAMKA berjudul sama. Khususnya ayah saya yang lahir pada 1930-an tentunya mengetahui setting sosial yang terjadi masa itu di tanah kelahirannya dan juga sudah baca novelnya. Apa yang digambarkan film itu ketika Zainudin tokoh utamanya merantau dari tanah kelahirannya di Makasar ke Batipuh, Padang Panjang akurat.

Tenggelamnya Kapal Van der Wijck bercerita tentang Zainudin yang ingin silaturahmi dengan keluarga ayahnya dan di sana dia bertemu (Rangkayo) Hayati, asli Minang. bunga di perkauman itu. Zainudin jatuh hati. Sayang Hayati keturunan bangsawan dan Zainudin orang melarat. Kemudian Zainudin pun harus pergi ke Padangpanjang dan mendapati kenyataan Hayati menikah dengan Azis, keturunan bangsawan dan orang kaya. Zainudin pun merantau ke Batavia dan kemudian ke Surabaya menjadi sukses karena kerja kerasnya. Saya nggak masuk ke detail cerita karena sudah banyak diulas baik di Kompasiana maupun di situs lain. Saya memberi catatan kesan saya pada film itu.

Bahwa memang ada orang Minang yang berpakaian tradisional dan ada yang berpakaian seperti orang Belanda (termasuk gaya rambutnya), ada yang masih tinggal di Rumah Gadang dan ada yang sudah di rumah seperti orang Belanda juga pas. Menurut ayah saya keberadaan pacuan kuda di Padang Panjang juga suasananya seperti itu. Tentunya harusnya tulisan Gelanggang Boekit Ambatjang, bukan Gelanggang Bukit Ambacang.

Pada segmen di Ranah Minang, Tenggelamnya Kapal Van der Wijck saya beri applaus. Cara bertutur kaya dengan memakai pepatah dan syair terutama dialog antara Zainudin (Herjunot Ali) dengan Hayati, begitu juga Mamak-nya dengan Hayati (Pevita Pearce) memang seperti itu. Begitu juga bahasa surat-menyurat. Adegan ketika Zainudin yang jatuh sakit karena patah hati menggenggam tangan Hayati ternyata kukunya sudah berinai (kuku dicat tanda perempuan Minang sudah menikah). Saya jadi ingat sebuah lagu dari Elly Kasim Malam Bainai.

Pada segmen itu sang sutradara berhasil memotret permasalahan masa itu. Zainudin tidak dianggap sebagai bagian dari keluarganya atau orang Minang, karena ayahnya Minang dan Ibunya Bugis. Sebaliknya di Makasar dia juga tidak dianggap karena ayahnya orang Minang. Yang satu menganut matrineal dan yang lain patrineal. Zainudin jatuh hati pula pada Hayati yang asli Minang, yang bisa menikah harus restu mamak (paman yang dituakan dalam suatu keluarga besar/kaum).

Kedua, film itu juga menggambarkan dengan baik orang Minang yang terdidik Barat diwakilkan oleh Aziz (Reza Rahadian) dan adik perempuannya. Aziz digambarkan gemar kebut-kebutan dengan teman orang Belanda, diam-diam berjudi, bukan hanya berpakaian. “Aziz, ingat kau orang Minang. Jangan terlalu bergaul dengan teman-teman Belandamu,” kata ibunya.

Ayah saya memberikan nilai lebih pada Muluk (Randi Nidji) yang pas memerankan preman Minang lebih suka di pasar daripada di rumah. Tokoh ini menjadi sahabat baik Zainudin yang menumpang di rumah keluarganya di Padang Panjang, hingga ikut merantau menemani Zainudin ke Batavia dan jadi orang terpandang di Surabaya. Muluk kemudian menjadi partner bisnis Zainudin.

segmen selanjutnya, Zainudin menjadi pengarang mashyur di Batavia berkat kerja kerasnya. Detail mesin ketika masa itu, surat kabar masa itu, pakaian, hingga tampilan buku pas dan detail untuk segmen batavia. Karena keberhasilannya dia dipercaya menjadi perwakilan perusahaan penerbitannya di Surabaya. Di sana Zainudin sukses dan menjadi orang terpandang. Di segmen ini penggambaran menjadi bak mirip mirp Bollywood. Zainudin digambarkan punya rumah gedung bergaya klasik, menyelenggarakan pesta dengan tarian-tarian.

Ayah saya ragu apa iya ada orang Indonesia pada masa itu punya rumah yang orang Belanda saja tidak terlalu banyak memilikinya. Saya juga sependapat sebab dari saya pelajari dari berbagai literatur, hingga majalah dan surat kabar sezaman memang masa Hindia Belanda memang ada orang Indonesia yang kaya raya di luar kelompok bangsawan. Mereka yang bergelimang harta karena kerja keras sebagai pengusaha memang ada tersebar di kota-kota besar. Kalau pribumi punya mobil juga ada di luar golongan bangsawan, pegawai menengah maupun pengusaha kelas UKM juga ada yang punya bahkan di kota seperti Bandung, Malang, Pontianak, hingga Gorontalo sekalipun. Tetapi apakah seperti Zainudin dalam film itu, tanda tanya besar. Dugaan saya penggambaran ini lebih karena pengaruh Bollywood.

Aroma Bollywood juga kental pada hubungan Zainudin-Hayati pada segmen Surabaya ini,mulai ketika pertemuan Zainudin yang berubah namanya menjadi Sabil dalam pesta, ketika Aziz dan Hayati tinggal di rumah Zainudin karena bangkrut, hingga percakapan antara Hayati dan Zainudin yang begitu emosional setelah kematian Aziz. Akhirnya Hayati diminta pulang ke Padang Panjang menumpang Kapal Van der Wijck. Menurut cerita dan catatan sejarah memang kapal itulah tenggelam pada 20 Oktober 1936.

Lebih menonjol adegan saat Zainudin bertemu Hayati di rumah sakit, setelah kapal Van Der Wijk tenggelam. Adegan ini terasa melodrama seperti menonton film India. Tetapi mungkin cara sang sutradara agar film ini enak ditonton. Ya, memang bagi mereka yang menonton hanya untuk hiburan. Selain itu ada sedikit tanda tanya, mustahil dengan transportasi masa itu kapal tenggelam pada 20 Oktober dan hari itu juga bisa bertemu? (Di makam tercatat Hayati meninggal 20 Oktober 1936). Lalu kemudian surat kabar (pada masa itu) mengabarkan kapal Van Der Wijk tenggelam secepat surat kabar sekarang? Ending film ini juga berbeda dari novelnya.

Dari departemen kasting Herjunot Ali, Pevita Pearce, apalagi Reza Rahadian benar-benar kerja keras. Tentunya juga Randy Nidji patut diacungi jempol. Begitu pemain lain pas, tidak ada yang janggal. Adegan kapal yang tenggelam, saya setuju dengan berapa peresensi film ini jangan bandingkan dengan Titanic. Walau mungkin juga ada pengaruhnya. Bahwa ada adegan film yang mirip Gatsby juga sulit disangkal untuk gambaran suasana gaya hidup kota.

Secara keseluruhan kehadiran Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck harus diapreasiasi dengan baik sebagai sebuah tontonan di atas rata-rata film Indonesia. Saya menonton bersama keluarga di sebuah bioskop di Depok, Minggu (22/12) yang lalu. Sekitar 90% jumlah kursi terisi. Sementara Soekarno dan 99 Cahaya masih laris dan terisi separuhnya. Satu lagi film horor Indonesia (saya lupa namanya) hanya kurang dari 20 orang.

Irvan Sjafari

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Belajar Tertib Anak-anak Jepang di Taman …

Weedy Koshino | | 01 September 2014 | 14:02

Karet Loom Bands Picu Kanker …

Isti | | 01 September 2014 | 20:48

Manajemen Pergerakan dan Arah Perjuangan …

Jamesallan Rarung | | 01 September 2014 | 22:12

Florence …

Rahab Ganendra | | 01 September 2014 | 19:09

9 Kompasianer Bicara Pramuka …

Kompasiana | | 01 September 2014 | 13:48


TRENDING ARTICLES

Ratu Atut [Hanya] Divonis 4 Tahun Penjara! …

Mike Reyssent | 7 jam lalu

Pak Jokowi, Saya Jenuh Bernegara …

Felix | 13 jam lalu

Dilarang Parkir Kecuali Petugas …

Teberatu | 14 jam lalu

Ini Kata Rieke Dyah Pitaloka …

Uci Junaedi | 14 jam lalu

Ini Pilihan Jokowi tentang Harga BBM …

Be. Setiawan | 15 jam lalu


HIGHLIGHT

Pemuda Solusi Terbaik Bangsa …

Novri Naldi | 8 jam lalu

Rasa Yang Dipergilirkan …

Den Bhaghoese | 8 jam lalu

Kisah Rhoma Irama “Penjaga …

Asep Rizal | 9 jam lalu

Marah, Makian, Latah. Maaf Hanya Ekspresi! …

Sugiyanto Hadi | 9 jam lalu

Tentang “Tuhan Membusuk” …

Lintang Mahindra | 9 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: