
Di rumah, saya dipanggil Dar. Di sekolah, saya dipanggil Dor. Di kampus, ada yang memanggil saya Day. Di Kompasiana, teman-teman memanggil saya Isjet (alias Iskandarjet, artinya Iskandar Z, kepanjangannya Iskandar Zulkarnaen). Temukan iskandarjet di About.me, Slideshare.net, Twitter, Facebook dan LinkedIn!
Dibaca: 2411
Komentar: 12
Nihil
Saya masih ingat betul hikayat Playboy Indonesia yang bikin heboh jagat tanah air. Begitu majalah bikinan Hugh Hefner ini terbit April 2006 lampau, kantor Velvet Silver Media, penerbit Playboy Indonesia, langsung diserbu ratusan demonstran anarkis. Sang Pimpred Erwin Arnada pun tak luput dari kecaman sejumlah pihak dan sempat menjadi tersangka tindak pidana susila bersama Andhara Early dan Kartika Oktavina Gunawan (masing-masing sebagai model sampul dan playmate edisi perdana) serta beberapa model Playboy Indonesia lainnya.
Sekarang Playboy Indonesia tak lagi terdengar gaungnya. Menurut kabar yang beredar, majalah yang identik dengan foto syur ini masih terbit di kawasan Bali, dan kantor redaksinya sudah lama pindah ke Bali setelah menerbitkan edisi kedua, Juni 2006.
Tiga tahun berlalu, kontroversi serupa merebak kembali, menyusul rencana pembuatan film Menculik Miyabi, bintang film porno terpopuler, setidaknya di kawasan Asia.
Yang paling disorot pertama kali adalah rencana kedatangan si Maria Ozawa. Sejumlah organisasi masyarakat dan agama langsung menolak dan mengecam rencana bisnis Maxima Picture ini. MUI dan FPI berada di garda depan dalam barisan penentang Miyabi. Bahkan ada Komisi Pencekalan Miyabi untuk kasus ini.
Raditya Dika, si empunya cerita yang berencana memerankan sendiri film tersebut, tak luput dari hujatan banyak orang. Banyak orang bilang, sebagai blogger yang memiliki banyak penggemar dan pembaca dari semua usia, tidak etis kalau namanya disandingkan dengan nama besar Miyabi.
Akhirnya rencana mendatangkan Miyabi dibatalkan. Dan Raditya Dika yang belakangan menjadi selebritas setelah membintangi film Kambing Jantan juga mengundurkan diri secara total dari proyek ini: tidak hanya sebagai pemeran utama tapi sebagai penulis naskah.
Praktis, film Menculik Miyabi kini kehilangan unsur hebohnya: Miyabi tidak jadi ke Indonesia, Raditya Dika tidak jadi menculik Miyabi.
Mungkin masih ada yang bertanya-tanya, mengapa Playboy dan Miyabi begitu ditentang setengah mati? Padahal baik Playboy Indonesia dan Miyabi jauh-jauh hari sudah ‘bersumpah’ untuk tidak memasukkan sifat asli keduanya, yaitu tampilan porno dalam arti segamblang-gamblangnya! Erwin Arnada bilang, majalah ini 70% memuat konten lokal, dan Playmate-nya masih tetap mengenakan baju. Sama halnya dengan Miyabi yang dipastikan oleh Dika tidak akan mengandung sedikitpun (ya, tidak sedikitpun) tampilan porno apalagi jorok.
Jawabnya adalah: Simbol.
Untuk budaya Indonesia yang banyak dihiasi dengan rutinitas dan nuansa keagamaan, Playboy dan Miyabi adalah simbol pornografi paling telanjang yang tidak bisa ditolerir sedikitpun. Karena begitu simbol ini dibiarkan masuk, maka kegiatan pornografi dikhawatirkan akan semakin terbuka.
Sebagai simbol yang besar, sejarah panjang Playboy selalu menimbulkan reaksi setiap kali masuk ke satu negara. Dan perlu dicatat, penolakan tidak dilakukan oleh agama tertentu, tapi oleh semua budaya yang menjunjung tinggi nilai-nilai agama. Sebelum Indonesia, majalah bersimbol kelinci ini juga ditolak di negara Cina, Korea Selatan, India, Myanmar, Malaysia, Thailand, Taiwan, Singapura, Brunei dan banyak negara lainnya. Jadi tidak peduli sebagus dan sebersih apapun isinya, Playboy adalah Playboy, simbol foto bugil sejak tahun 1953.
Miyabi lebih parah lagi. Wanita berwajah innocence yang ditolak oleh orangtua dan keluarganya ini tidak sedang mewakili satu institusi, tapi menjadi pribadi dan entitas seks sendiri. Dia adalah bintang porno yang filmnya laku di mana-mana. Jadi sebagai simbol, apapun yang dilakukan oleh Miyabi, orang akan tetap memandangnya sebagai Miyabi. Dia tidak lagi bisa dicitrakan sebagai sosok yang berbeda.
Lalu apa kabar penyebaran film-film porno, praktek prostisusi dan kegiatan pornografi yang terus terjadi? Bukankah penolakan Miyabi hanya akan menunjukkan besarnya kemunafikan dalam budaya negeri ini?
Bagi saya pribadi, kemunafikan itu akan selalu ada. Tapi bertahan dari simbol sebesar Playboy dan Miyabi lebih penting dari sekedar takut dibilang munafik.
Negara sebebas Amerika (dan negara-negara Barat lain) juga tahu betul bagaimana menjaga diri dari sebuah simbol. Meskipun di sana seks berlaku bebas, bukan berarti presidennya boleh selingkuh dan berseks ria. Skandal seks dan wanita tetap menjadi faktor penghancur dalam ranah politik mereka. Padahal, sekali lagi, setiap warganya boleh berinteraksi dengan seks sebebas-bebasnya.
Apalagi kita!
Faktor lainnya: