Back to Kompasiana
Artikel

Gosip

Wawan Supriadi

LAHIR DI SUMEDANG TANGGAL 20 NOVEMBER 1966 -. PERNAH JADI GURU DI SMP DAN SMK selengkapnya

Surat Untuk Allah

OPINI | 25 October 2009 | 12:55 Dibaca: 2566   Komentar: 27   2

Ilustrasi harisahmad.wordpress.com

Ilustrasi harisahmad.wordpress.com

Cerita ini diambil dari guyonan Wayang dengan dalang Asep Sunandar Sunarya, sehingga mohon jangan dipolitisir, karena sifatnya hanya guyonan belaka.

Suatu hari disautu kampung yang bernama Kampung Gendereh, ada seorang yang bernama Udin.  Si Udin ini sedang mengalami kesusahan karena PLN akan memutuskan aliran listrik ke rumahnya, berhubung  si Udin tidak bisa membayar tagihan listrik.

Si Udin kesana kesini meminta tolong pada tetangganya  meminjam uang untuk membayar tagihan listrik, tapi tidak ada seorangpun yang mau menolong si Udin. Si Udin pusing tujuh keliling sebab batas pembayarannya tinggal 2 hari lagi, 2 hari tidak bisa membayar, maka rumahnya akan gelap gulita, mau menggunakan lampu tempel ribet juga harga minyak tanah sudah diluar jangkauannya. Tapi si udin tidak gelap mata, dia sadar baha Allah itu Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Dengan keyakinan itu dia segera mengambil secarik kertas membuat  surat pada Allah, isi surat si Udin kira-kira sebagai berikut

==============================================================

Kepada Allah
Dimana Saja Dia berada


Allah, saya yakin bahwa Engkau Maha Penyayang dan Maha Pengasih pada umatnya. Sekarang saya sedang mengalami kesusahan, minta tolong pada tetangga tidak ada yang mau mendengarkannya. Tolonglah hambaMu ini ya Allah, saya memerluak uang sebesar 100.000 rupiah, kalau dua hari lagi hambamu ini tidak bisa membayarnya maka dapat dipastikan rumah hamba akan gelap gulita. Kasihanilah hambaMu ini ya Allah berilah hamba uang untuk membayar listrik.


wassalam


Udin Gendereh

===========================================================

Kertash lusuh tersebut kemudian di lipat rapih dan dimasukan kedalam amplop. Surat tersebut kemudian dititipkan ke tetangganya yang kebetulan akan pergi ke kota. Sesampainya di kota, sebelum memasukan ke kotak POS, tetangganya penasaran si Udin mau mengirim surat ke siapa ? sebab sepengetahuannya si Udin sudah tidak mempunyai sanak keluarga, setelah dilihat alamat yang dituju, ternyata surat tersebut ditujukan ke Allah. “Ah Si Udin sudah gila “, sehingga surat tersebut tidak jadi dimasukan ke kotak POS melainkan dibuang di jalan.

Beberapa menit kemudian ada dua orang polisi yang lewat, salah seorangnya melihat ada surat yang tergeletak di jalan. Salah seorang polisi memungut surat tersebut, begitu melihat alamat yang dituju pada surat tersebut si polisi tersebut tertawa terbahak-bahak. Polisi yang satunya heran melihat temannya tertawa, “Eh, apa yang lucu dari surat tersebut ?”, polisi yang memegang surat memperlihatkan suratnya, tak ayal kedua polisi tersebut tertawa. Karena penasaran aplop surat dibuka, dan dibaca isinya, setelah membaca isinya tawa kedua polisi langsung terhenti.”Haduh kasihan benar si Udin, eh kamu punya uang 100 ribu tidak ?”, temannya menjawab “Saya tidak bawa uang 100 ribu, tapi cuman bawa 75 ribu”, “Nggak apa-apa sinih uangnya saya pinjam”. Oh ya sebagai gambaran kedua polisi ini termasuk orang baik tapi dia senang bercanda. akhirnya seorang polisi menulis surat

=============================================================

Kepada Udin

Di Gendereh


Udin, surat Udin sudah diterima, nih ada uang segera bayarkan ke PLN jangan sampai rumahmu gelap gulita. …………………………


wasalam


Allah

===============================================================

Kertas tersebut dilipat kemudian dimasukan ke dalam amplop beserta uang yang 75 ribu tadi. Surat tersebut tidak dimasukan ke kotak POS melainkan diantarkan langsung ke rumah si Udin, sebab alamat si Udin tertera jelas pada amplop suratnya dan polisi tersebut akan pergi ke suatu tempat dan kebetulan melewati rumahnya si Udin.  Singkat cerita kedua polisi sudah sampai ke depan rumahnya si Udin. tok.. tok … tok…. ” Asalamu’alaikuuuuum” .  “Wa’alaikum salam”, si Udin menyahut dari dalam, “Ini Rumahnya Udin ?”, si udin menjawab dengan gemetaran “Iya Pak, benar ada apa ? saya tidak merasa berbuat kejahatan…”. “Saudara Udin tidak melakukan kejahatan, saya hanya mengantarkan surat, kebetulan tadi ada yang titip pada saya”. Plong… hati si Udin  jadi lega apalagi setelah melihat alamat pengirim dari surat tersebut dari Allah”

Setelah kedua polisi tersebut pergi, si Udin segera membuka amplop surat, wajahnya yang asalnya riang berubah menjadi merah padam karena marah. Kemudian si Udin mengambil secarik kertas dan menulis surat.

=================================================================

Kepada Allah

Dimana saja berada


Allah, terima kasih kiriman uangnya sudah saya terima, tapi lain waktu jangan dititipkan lagi ke polisi sebab kiriman dariMu dipotong 25 ribu oleh polisi tersebut …………………………..


wassalam Udin

Gendereh

===============================================================

Dari cerita ini, menggambarkan polisi selalu dinilai negatip. ada peribahasa “Karena nila setitik, rusak susu sebelanga”

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Sambut Sunrise Dari Puncak Gunung Mahawu …

Tri Lokon | | 28 July 2014 | 13:14

Pengalaman Adventure Taklukkan Ketakutan …

Tjiptadinata Effend... | | 28 July 2014 | 19:20

Membuat Hidangan Lebaran di Moskow (Jika …

Lidia Putri | | 28 July 2014 | 17:08

Kampanye Wisata Thailand’s Best …

Olive Bendon | | 28 July 2014 | 16:49

Punya Gaya “Make Up” Menarik? …

Kompasiana | | 09 July 2014 | 00:21


TRENDING ARTICLES

Pijat Ala Dubai International Airport …

Ardi Dan Bunda Susy | 14 jam lalu

Jangan Terlalu Berharap Banyak Pada Jokowi …

Bambang Srijanto | 15 jam lalu

Berlebaran Tetap Gaya dengan Kaos Kompasiana …

Topik Irawan | 16 jam lalu

Jangan Nanya Panci ke Polisi Amerika …

Usi Saba Kota | 19 jam lalu

” Dari Tahun Ketahun Tak Pernah …

Rere | 24 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: