
Dibaca: 489
Komentar: 0
Nihil
Tetangga saya datang bertamu Dia membawa sejumlah stiker. Rupanya tetangga saya itu bermaksud meperkenalkan jagonya (caleg). Bukan hanya memperkenalkan, malahan saya dia ajak menjadi tim sukses.
“Ini calon saya masih muda. Dia sarjana. Dia memiliki usaha. Ada mobil pribadi.” Begitu tetangga saya mempromosikan jagonya.
“Soal moral, komitmen kerakyatan – gimana pak ? “Tanya saya
“Oh jangan ragu kalau hanya soal itu. Orangnya baik. Orangnya tidak pernah terlibat perbuatan a moral. Dia sangat bermasyarakat. cerdas lagi.”
Ya, tapi saya ini kan bukan baru kali ini ikut pemilu. Masih sejak puluhan tahun lalu sudah ikut pemilu. Nah, ternyata kan yang menjadi wakil rakyat yang kita pilih, akhirnya hanya memperkaya diri sendiri. Tidak memihak rakyat. Hanya memihak elite berkuasa dan pengusaha. Masak bapak ndak paham ? . demikian kata saya
“ Tapi kalau caleg saya ini berbeda. Nih coba bapak baca ini dalam stker. Itu namanya sumpah. Maksudnya, dia bersumpah akan memihak rakyat, tidak akan korupsi. Apa ndak cukup. “
Kalau yang seperti itu namanya bukan sumpah. Itu hanya janji yang ditulis di stiker dan tidak memiliki pengaruh apa-apa apabila calegnya bapak tidak menepati janji.”
“Wah ndak bisa. Nanti kita yang memilih dia bisa menuntut apabila dia tidak becus. Kan dia sudah bersumpah.”
“Sumpah? Supah apa ? itu sekali lagi saya katakan, bukan sumpah. Sedangkan pejabat yang disumpah atas nama Allah, ada Alquran diatas kepala. Toch masih melanggar. Apalagi hanya sekedar janji yang ndak jelas begitu. Ndak ada harapan, pak.”
Lanjut saya lagi, bapak tahu ndak. Yang namanya sumpah ada caranya menghindari agar tidak termakan sumpah. Caranya, ketika kita disumpah, jari telunjuk kita digerak-gerakan. Nah, dengan cara begitu maka kita tidak akan dimakan sumpah.
Bahkan, menurut teman saya, sumpah pocong pun dapat ditaktisi agar tidak mempan .”
“Caranya? “ tanya tetangga saya
“Oh gampang. Kata teman saya, ketika kita disumpah, kita (maaf) menggosokan tahi ayam di jidat. Begitu caranya. “
Teman saya tertawa terkekeh-kekeh, kemudian dia minta pamit.