
Bosan jadi pegawai, lantas berwirausaha. Senang baca, dan suka juga nulis, tapi kadang2. ~ "Pengetahuan tidaklah cukup, ..... karenanya kita hrs mengamalkannya. Niat saja tidaklah cukup, untuk itu kita harus melakukannya."
Dibaca: 769
Komentar: 14
3 dari 3 Kompasianer menilai Menarik
(Bapa Komik Indonesia) Si Put On hanya Orang biasa sajaPut On, jang punja vorm gemuk, bunder seperti kuwe Tong-Tjupia atawa kuwe bulan, masih dan aken tetep budjangan, agak litjik jang sering korbanken dua adik’nja dan ‘Ne (panggilan dari mama’nja) tapi itu tabeat tida bisa bikin ia masuk noraka, pingin djadi pahlawan, sok segala bisa dan tau jang berachir dengen kesialan atawa ke-Malangan dan jang terachir dari Put On punja sifat jang sanget mirip dengen Tie Pat Kai (siluman babi) alias dojan makan tidur dan tida mau djauh dari nona-nona tjantik.
Kemalangan jang paling achir ia mesti „Dibenamken” bersama harian Warta Bhakti jang memuat serial si Put On jang di tjap melitjinken kudeta G-30-S. Sekarang jang djadi pertanja’an kemana dan dimana pentjipta si Put On ?
Kho Wan Gie, dilahirken di Indramaju 1908. (*Wafat Mei 1983 di Djakarta). Bersama Siauw Tik Kwie beladjar melukis pada J. Frank dan H.v. Velthuisen. Pada usia 21 pemuda Kho koendjungi harian Sin Po di Asemka Djakarta untuk melamar pekerdja’an sebage pelukis. Bos Sin Po saat itu tuan Ang Jan Goan lasung mufakat. 17 Januari 1931 untuk pertama kali muntjulah tokoh Put On jang selandjutnja aken ditunggu oleh setiap pembatja Sin Po, mulai dari ‘ntjim², enso², oewa² hingga engkong² dan anak² ketjil pada berebutan djika itu koran sore kundjungi mereka.
Kalau sampe Put On mangkir atawa tida dimuat, maka hudjan surat pembatja aken membadjirken redactie Sin Po, „dimana Put On?, kenapa mangkir?, benarkah ia sakit?, berat atawa enteng sakitnja? kalau berat apa sudah ke Dokter?, di doakennja agar Put On sembuh dan sehat kombali, dan laen² pertanja’an dan pesan jang menjataken rasa sajang pembatja Sin Po pada ‘ngkoh Put On, dan tida djarang satu entjim ada jang mau pungut mantu sama si Put On!!! “
Bangkit dan tenggelamnja surat kabar tersebut adalah juga timbul dan hilang’nja si Put On. Setelah kemerdeka’an, Put On selalu tida pernah ketinggalan menonton paraja’an 17 Agustus’an bersama dia poenja ‘Ne (*mama’nja) dan kedua adik’nja si Tong dan Si Peng, bahken sobat²nja (si A Liuk; si A Kong; si Oh Tek) pun aken ia adjak untuk turut dalem itu peraja’an. Ketika orang demam sukarelawan, Put On pun djadi sukarelawan, diwaktu program pangan, Put On tida segan untuk turun ke desa bantu pak Tani. Pendek-kata karikatur Put On „TURUT” ikutin djaman dan kemauan pemerentah jang katanja aken sedjaterahken rakjat . Demikianlah si Put On jang awam aken POLEKSOSBUD diachir-achir kisahnja mendjadi berbau politik kata sang Petjipta sambil membetulken letak katjamata’nja.
Jang terang Kho Wan Gie bukan tukang gambar sembarangan, liatlah garis-garis gambar’nja jang sanget memikat. Setjara anatomis gambaran’nja tuan Kho tida kaku, dalem posisi begimana djuga (liatlah siPut On naek sepeda, njerobot Oplet, Mandjat Puhun, Terdjungkal, Baen badminton, sambut „Tamu Agung”, Lari ketakutan digigit andjing, Menjanji , Menari dan Meraju siotjia² jang mendjadi ia punja kesenengan) ia tampak pas dan mejakinkan. Dengen kata laen tokoh jang gemuk, berwadjah tida tampan (* djangan sekali-kali bilang djelek) dan orang gampang kenalin ia baek itu dari muka, belakang atawa samping.
Biarlah kini si Put On kini mendjadi sedjarah jang boleh di banggaken kaum muda di Indonesia. Dan kini setiap surat kabar di djaman merdeka umum’nja djuga memiliki tokoh sematjem si Put On, upamanja Keong (Sinar Harapan); Om Pasikom, Pandji Koming (Kompas); Mat Karyo (Suara Karya); Doyok (Pos Kota); Bung Djoni (Berita Buana) dll, jang sepertinja hendak bersaing dengen berita² halaman satu. Apa mereka bisa disamaken dengen si Put On ? biar pembatja jang djawab.
Padahal hal itu tida perlu, si Put On di Tahun 1950’an ditjintai, dirindui oleh pembatja’nja mungkin djustru karena ia mewakili berdjuta-djuta orang biasa, jang „TAK PUNJA NAMA” atawa identitas mentereng. Sama seperti sianseng Kho Wan Gie, jang hanja seorang kakek Tionghoa Peranakan dengen 8 putra-putri dan 14 tjutju.
Barangkali karena tokoh² kartun kini tjenderung mendjadi Sophisticated. Padahal jang kita rindukan Put On – Put On – Put On, sekali lagi Put On jang baru.
~ Arti Demokrasi ala Put On ~
Si Put On karya Kho Wan Gie (1908-1983)—belakangan mengubah namanya menjadi Sopoiku—yang muncul tiap pekan di harian Sin Po mulai tahun 1930. Sin Po adalah surat kabar Tionghoa berbahasa Melayu yang terbit di Jakarta sejak tahun 1910 (diawali sebagai mingguan).
Surat kabar ini dulu berkantor di Jalan Asemka, Jakarta Barat. Saat Jepang masuk tahun 1942, koran ini dilarang terbit. Sin Po muncul lagi tahun 1946 dan pada 1962 mengubah nama menjadi Warta Bhakti untuk kembali diberangus selepas peristiwa 30 September 1965. (kompas.com)
Salam,
Umar - Tukang Nasi