Artikel

Gosip

Linda

TERVERIFIKASI

Jadikan Teman | Kirim Pesan

linda - TEMPO dan GATRA menempa saya untuk selalu jeli, kritis, menulis dengan jujur, dan bekerja keras. Hasilnya? Saya tidak tahu karena yang menilai tentu orang lain. Di KOMPASIANA ini saya sangat menghormati nama pemberian orang tua saya sehingga tidak perlu saya ganti dan palsukan, apalagi memalsukan wajah pada identitas diri. Blog pribadi saya, www.lindadjalil.com --- bila iseng, silakan mampir.

PSAUI (Paduan Suara Alumni UI): ‘Ruar Biazaaaaa..!’


HL | 26 February 2010 | 12:20 Dibaca: 711   Komentar: 80   3 dari 5 Kompasianer menilai Menarik

Di meja bulat sebelah meja saya, seorang pria berumur, bernada  Sumatra Utara, berkata berulangkali saat menonton PSAUI ( Paduan Suara Alumni UI ) Rabu malam 24 Februari lalu, ‘Ruar biazzaaaaa…. ruar biazzzaaaa…!!’

Duh, PSAUI memang ‘ruar biaza’ alias luar biasa. Sudut mata saya tergenang setitik air mata. Haru, bangga, dan merinding rasanya. Ada 44 manusia hebat berada di atas panggung, yang semua pernah mengecap Universitas Indonesia dari berbagai angkatan. Mereka memakai batik-batik dari seluruh pelosok pembuat batik di Indonesia, warna warni corak ragam indah sekali. Mereka berpuisi dalam bentuk nada, mengungkap isi hati dalam suara berirama, menuturkan betapa bermaknanya lagu-lagu dari berbagai daerah pelosok Nusantara. Hafal teks, gegap gempita, penuh rasa, dan indah sekali. Manusia-manusia super itu masih bisa menyisihkan waktu repotnya untuk berlatih menyanyi paling tidak seminggu sekali sepanjang hidupnya, untuk Paduan Suara yang selalu kompak ini.

Soal tampilan, bisa setelah ini saya kisahkan. Yang ingin saya cerita di sini adalah, bagaimana sebuah pemanggungan bisa mendekati sempura, karena ada kerja keras, kesadaran yang utuh, hobi yang menggebu-gebu dan cinta segunung terhadap kesenian dan cinta kepada sesama anggota dalam grup ini.

Seorang pria, dokter ginekolog Biliater Sinaga, misalnya. Dengan senang hati ia mudah saja lari sebentar  ke tempat latihan PSAUI dari Rumah Sakit tempat pasien-pasien dan ‘calon’ bayi menunggu bantuannya. Ia butuhkan untuk asupan batinnya. Menyanyi, menyanyi, dan menyanyi. Lalu dokter Billy kembali ke rumah dengan senyum, atau balik ke Rumah Sakit bila ada panggilan ‘pembukaan tiga’.. hahahaa..!  Geli sekali saya mengingat Billy yang pernah datang ke rumah saya beberapa tahun lalu, hanya untuk minta dilatih lagu yang  kebetulan sudah saya karang, agar ia bisa menyanyikannya dengan penuh penghayatan. Itulah Billy, yang serius menekuni apa yang ia sukai. Saat menyanyi solo ‘Rentak 106′ lagu Riau Melayu di  malam konser itu, suara sang dokter   nyaring mantap menggelegar .. hhmm..  bagai suara bayi-bayi yang sehari-hari ia tangani dalam persalinan pasien-pasiennya.

Seorang Yta Gultom, lulusan dari Fakultas Ekonomi dengan segala urusan dagang batik tulisnya, usaha hotel Lumbung nya di Puncak, sekaligus sampai saat ini masih joging di kawasan kuningan dan  naik turun gunung mendaki sana-sini secara profesional, tetap saja  baginya PSAUI sudah menjadi darah dagingnya sehari-hari. Suaranya yang berjenis sopran melengking merdu dan mencengangkan ini dengan cantiknya melantunkan  ‘Di tepinya Sungai Serayu’.  Dan puluhan temannya yang lain mengiringinya dengan jenis suara  sopran, alto, tenor, bas. Seakan-akan, 14 pria yang melengkapi ke 44 penyanyi itu mendominasi lagu sesuai dengan kebutuhannya. Pas, indah, cocok, dengan harmonisasi yang terukur sekali.

Yang juga seru,  di pemanggungan kemarin ini, ada seorang pemandu wisata tampan  lulusan  Sastra Jerman FSUI ( Fakultas Sastra UI ) , Deddy Lesmana. Suaranya bukan main bagusnya. Bahasa tubuhnya juga luwes. Lagu Sepasang Mata Bola dan  lagu Tanduk Majeng dari daerah Jawa Timur  mampu dinyanyikannya dengan sangat lepas. Tak henti-henti  tamu bertepuk tangan. Uih..!!

Saya juga salut kepada Tetty Sihombing. Ia lulusan Sastra Inggris yang berpforesi sebagai pelatih di lembaga pendidikan bahasa dan budaya pemerintah Australia. Tak segan-segan pula Tetty membawa anaknya ke tempat latihan menyanyi, kadang-kadang. Yani Karyani meski kadang harus naik turun taksi atau kendaraan umum kalau terpaksa, tetap tidak absen berlatih Paduan Suara bertahun-tahun. Lulusan Fakultas Hukum ini punya segudang kesibukan pekerjaan  di sebuah perusahaan hak paten yang terkenal di negeri ini. Menyanyi baginya adalah kebutuhan batinnya, selain ia rajin pula mengikuti pengajian di mana-mana.

Lucy Pandjaitan, eksekutif  cantik yang mahir dalam bidang asuransi dan perbankan, bertubuh subur namun senyumnya juga selalu subur  lho mengembang dalam keadaan lelah sekalipun. Suaranya merdu dan berlatih menyanyi  baginya bukan berupa beban.  Kalau ia sedang ditugaskan kantor ke luar negeri dan tak sempat ikut latihan, maka partitur, teks lagu dimintanya dari rekan lain. Di pesawat, di manapun dia akan  bergumam menyanyi.. hahahaa… Lucy… Lucy….. hebat kamu ! Oya, Lucy waktu manggung PSAUI di acara Ulang Tahun saya beberapa tahun silam di hotel Grand Flora Kemang, disaksikan oleh Ray Sahetapi, yang dengan terang-terangan Lucy mengaku sangat favorit terhadap aktor itu. Hahahaa… !

Ada juga Kamarwati ( Wiwiek ), soprano berkerudung jago di bidang  asuransi, yang amat mencintai PSAUI. Dialah yang tak lupa selalu memikirkan ‘urusan perut’ bagi teman-temannya yang berlatih. Makanan apapun akan dipikirkannya untuk mengganjal perut seluruh rekannya. Wiwiek adalah sarjana ekonomi yang handal dan sesekali ia juga menjadi solois dalam PSAUI. Rita Sri Hastuti adalah wartawan senior yang aktif di PWI. Sejak menjadi mahasiswi Fakultas Sastra Indonesia di Rawamangun dulu, kerjanya memang menyanyi melulu. Suaranya indah. Artikulasinya jelas sekali. Oleh sebab itu iapun sering menjadi pemandu acara dipakai gratisan oleh teman-teman dekatnya. Kini Rita juga menjadi MC profesional ke mana-mana. Ke manapun tempat latihan , Rita akan berusaha selalu datang di tengah kerepotan kerjanya.

Maudy Warou wanita pandai dan gesit ini dari remaja memang sudah serba bisa. Ia menjadi salah satu putri yang dinobatkan majalah GADIS saat lalu. Sarjana ekonomi dan magister psikologi terapan ini tekun sekali mempelajari lagu-lagu baru yang akan dinyanyikan. Kini Maudy si cantik terpilih menjadi ketua PSAUI. Jangan main-main, Maudy pernah  pula memimpin Paduan Suara keluarga dua tahun silam dan meraiyh medali Bronze di ajang internasional North Sulawesi International Choir Competition.

Yustiana, ekonom yang juga ahli di bidang asuransi, tak pernah merasakan beban melampaui jarak jauh dari kantor, rumah dan tempat latihan PSAUI. Baginya semua menjadi hiburan sehat dan sekaligus menjalin silaturahmi terus menerus antar sesama alumni. Suaranya bulat, mantap dan … wah buanget! Waduh, kalau saya sebut satu persatu, tentu tak muatlah di tulisan ini. Namun ada yang akan saya ceritakan khusus dari mereka..

Tresno Pribadi, yang biasa dipanggil mas Pri, adalah salah satu pendiri PSAUI tahun 1993 dan tak mau dilepas oleh teman-temannya sebagai ketua PSAUI sampai tahun 2009. Sikapnya selalu terukur, tak banyak cakap tapi bijak. Suara bas nya yang mantap membuat lagu-lagu yang berkumandang menjadi semakin enak dinikmati. Sebagai seorang ahli perbankan di Bank Mandiri yang baru saja menikmati masa pensiunnya, Pri tetap aktif dalam berbagai kegiatan dan tak lupa selalu datang ke tempat latihan.

Saya juga menaruh hormat yang amat tinggi kepada Yosi Kusuma Arianto Bayuadji. Dokter gigi inilah yang selalu menyiapkan tempat latihan bagi PSAUI selama bertahun-tahun. Wisma Bayuadji milik keluarganya yang berada di kawasan Barito Kebayoran Baru ini dianggap tempat yang netral di pusat, sehingga anggota PSAUI lebih leluasa menuju sana dari kantor dan rumah masing-masing. Yosi bersuara indah, tapi karena kesibukannya yang ‘ngebor’ sana-sini gigi orang, tidak selalu ia bisa hadir saat latihan di konser-konser yang lampau. Untung saja pada konser kemarin ini Yosi bisa turut serta dan cantik sekali dia dengan seragam oranye yang membalutnya malam itu.  Gurauran saya kepada para teman sesama PSAUI adalah, “Tahu nggak, yang bikin kalian berhasil dan awet di PSAUI? Itu semua gara-gara Yosi dan gara-gara bubur ayam Barito !”. Dan semua sepakat dengan kata-kata saya. Hehe.. suatu saat yang belum pernah merasakan bubur ayam Barito di kala malam hari samping tembok kuburan, harus mencobanya. Santapan makan malam anggota PSAUI selalu bubur  dan sambalnya yang sedap itu, muncul selalu di lantai 5 Wisma Bayuadji dengan kebulan panas asapnya… membuat PSAUI loncer eh lancar bernyanyi karena si bubur itu…

Di buku acara Konser Cinta Negeri PSAUI, ada deretan penyanyi dengan nama keluarga yang sama. Bayangkan, ada empat nama  Mangoendipoero turut serta. Siapakah mereka? Noeke Mangoendipoero adalah sosiolog handal yang sudah melanglang sampai ke sekolah di Den Haag dan London. Wanita cantik ini memilki adik-adik yang canggih menyanyi pula di PSAUI, yaitu Henny Mangoendipoero, lulusan Sastra Jawa yang kini menetap di Medan dan dengan sukarela mondar-mandir ke Jakarta untuk urusan menyanyi PSAUI. Adiknya lagi, si mungil cantik Saras Mangoendipoero, rajin sekali bernyanyi dari tahun ke tahun. Saras , sarjana hukum ini juga ahli di bidang asuransi sebagaimana beberapa temannya yang lain di PSAUI. Ia juga seorang penari Jawa, Sumatra dan Kalimantan. Nah, satu lagi Mangoendipoero, adalah Chocky.  Menjabat sebagai wakil ketua PSAUI, penyanyi tenor yang suaranya ‘muantaf surantaf’  alias mantap  ini juga ahli bermusik kecapi Batak, piano dan gitar. Chocky lulusan FISIP yang setia pada musik dan kesatuan bangsa. Baginya tak ada masalah meski seorang muslim yang taat, ia tak segan-segan bernyanyi pada grup vokal teman-temannya di gereja.

Ada juga kakak beradik lain yang seru dan kompak selalu di PSAUI. Nah, saya sebut lagi deh pak dokter kita. Billy, punya kakak bernama Sahat. Jangan main-main, Sahat adalah seorang Purnawirawan TNI yang merangkap sebagai apoteker. Billy Sinaga, dan Sahat Sinaga, adalah ‘pesaing’ keluarga Mangoendipoero di PSAUI… hahahaaa…. hidup Batak… hidup Jawa…! Itulah Indonesia !

Dyah Ratna, dirigen PSAUI yang juga Kompasianer

Dyah Ratna Permatasari, dirigen PSAUI yang juga Kompasianer

Satu lagi yang membanggakan, sang dirigen ( ingat, bukan jirigen lho!), yang disebut juga konduktor, adalah salah satu penghuni Rumah Sehat Kompasiana. Dyah Ratna Permatasari, yang dipanggil Itje, adalah yang super sibuk mengatur ritme, irama, keselarasan perpaduan suara antara sopran, alto, tenor dan bas. Duh, saat latihan betapa keringat mengucur tiada henti di tubuhnya yang gempal. Tapi Itje selalu sabar dan senyum di kulum tak pernah lepas. Sebagai sarjana dari kimia MIPA ia juga pendiri sekolah Doctor Rabbiet Science Inc, dan menjadi penyelenggara tiap tahun lomba karya ilmiah anak-anak SD se Indonesia. Dedikasinya terhadap pendidikan di negeri ini memang mengagumkan. Lagu-lagu yang pernah saya ciptakan ada beberapa yang diaransemen sesuai pola Paduan Suara oleh wanita yang jago banget main gitarnya ini. Setelah dipanggungkan… keren abis deh! Dyah Itje… ingat ya sekali lagi teman, dia adalah Kompasianer. Uhuy !! ( Sst.. buka rahasia dikit ah..,  sebelum manggung, siangnya Dyah Itje totok wajah dulu dan pijat-pijat di ALLESA salon khusus perempuan milik saya…).. Uhuy lagi…!.

Tentu saya salut juga dengan anggota lain yang sore sampai malam berlatih terus menerus untuk pertunjukan hebat ini. Ada Luky  yang berkiprah di media, Ami, Arum yang kocak, Aswita, Christel yang murah senyum, Dini, Elmo, Erida, Etty si cantik, Frieda, Jo, Bambang, Adarjuang, Lusiana, Marjona, Marina, Jejet Pardede yang gesit, Nasrun, Nessy, Ponny, Rethina yang ramah, Sudarsari, Sugeng, Siti Astriati, Yetty, Sylvia, dan .. siapa lagi yaaa… maaf kalau ada yang terlupa. . o iya, Agus yang bolak-balik Jakarta Melbourne demi menyanyi untuk PSAUI… waaaah… !!

Tak dilupakan pula, Laurens Supusepa ( Rensi) , si ganteng Ambon ipar Indro Warkop yang duduk di sebelah saya malam itu, tentu banyak sekali jasanya. Bertahun-tahun ia menjadi pelatih sekaligus dirigen PSAUI tanpa pamrih. Rensi, jasamu luar biasa sampai masa pensiunmu ini !  Dan Yanti serta Halida Hatta, wanita berjasa yang telah mengiringi piano PSAUI tahun-tahun dulu, sungguh cantik kalian malam itu ! Hormat saya setinggi-tingginya juga kepada Diah Soenario, pianis yang bertahun-tahun sampai malam itu tetap setia mengiringi piano PSAUI tanpa lelah. Diah adalah keponakan pianis terkenal yang mengiringi PSUI zaman dulu, Soenarto Soenario. Tak ada Diah guru piano yang jelita dan gesit itu,  tentu latihan PSAUI di Barito yang ‘berbubur ayam lezat’ pun terasa hambar….  sumpe’ deh.. !!

Teman Kompasianer, ternyata setelah dihitung-hitung, pengunjung di Gedung PLN jalan Trunojoyo kemarin itu hampir mencapai 400 orang lebih lho. Semua bercampur baur dengan hangat, sekaligus bereuni bernostalgia satu sama lain. Tante Cepy yang lebih dikenal di Fakultas Sastra sebagai ibu Fuad Hassan turut terkagum-kagum menonton. Kami berpelukan sebelumnya karena Beliau selain sangat dekat dengan keluarga besar ibu saya, juga dosen saya di Sastra Indonesia UI zaman baheula. Ibu Mahar Mardjono dengan rambut putih yang merata tampak bahagia malam itu. Betapa tidak, suaminyalah dulu, saat menjadi rektor UI yang mendukung sepenuhnya munculnya PSUI ( Paduan Suara UI ), sehingga akhirnya berlanjut menjadi PSAUI sampai kini. Sofyan Djalil, Dipo Alam juga hadir malam itu.

Saya juga sangat terharu ketika tante Sonya, yang lebih dikenal sebagi ibu Max Rukmarata pemimpin pertama PSUI puluhan tahun silam, masih mengenal dan menyebut nama saya dengan fasih. Saat SD dulu, dialah guru pertama privat Bahasa Inggris saya. Rumahnya persis di sebelah Kolip Beng ( kini namanya  Benyamin),  pemilik farmasi gede Kalbe Farma sekarang. Saya   sempat mengobrol sejenak dengan Ibu Sitompul yang masih cantik dan sehat. Suaminyalah pengarang melodi lagu Genderang UI yang bagus sekali itu. Godfried Sitompul  yang juga pencipta lagu O Tana Batak dengan bersemangat,  diajak Husseyn Umar, mahasiswa tingkat akhir Fakultas Hukum UI, pada tahun 1956 untuk membuatkan melodi atas Genderang UI yang dikarangnya dengan sangat baik itu.

Husseyn Umar sempat menjadi Dirut Pelni,  juga atase perhubungan di Belanda dan Perwakilan Indonesia untuk PBB UNCTAD di Swiss.  Lagu Genderang UI di awal acara konser kemarin ini  khusus dinyanyikan oleh PSAUI dengan dua versi. Pertama, versi yang terdapat kata-kata Bogor, Bandung Jakarta… buku, pesta, dan cinta. Pada perkembangannya, sesungguhnya beberapa puluh tahun lalu kata-kata itu diubah. Padahal,  si pencipta asli lagu itu berpendapat, semboyan ‘buku, pesta, dan cinta’  tidak ada yang salah, sebab itu adalah landasan para mahasiswa berkarya dan menuntut ilmunya. Kalau tidak, seseorang hanya akan menjadi seorang ‘tukang’…, bukan ilmuwan yang ‘hidup’.  Dalam hal ini, saya sungguh sependapat dengan pria usia 80 tahun yang kini menjadi arbiter di Badan Arbitrase Nasional Indonesia ini.

Sembari menulis panjang lebar tentang PSAUI ini,  sekarang saya  tengah mendengarkan CD yang saya peroleh dari pertunjukan itu kemarin. Bukan main, mereka telah mengeluarkan CD yang merekam suara cemerlang itu. Lagi-lagi, musik dilengkapi dengan permainan piano Diah Soenario dengan ‘D’ Chamber Music’ nya  yang sering manggung ke mana-mana.

Sebagian dari lagu yang dinyanyikan di konser 24 Februari kemarin ini sudah ada dalam bentuk rekaman CD PSAUI. Lagu  Ini Tepinya Sungai Serayu, Sigulempong, Kaden Saje, Cik Cik Periuk, Rentak 106, Tanduk Kajeng, dan tentunya…. Genderang UI !! Betapa mulianya mereka bernyanyi, sebab nyanyian yang baik adalah doa. Nyanyian adalah setumpuk harapan. Nyanyian adalah amal ibadah. Bayangkan, PSAUI bertarget CD mereka akan dibagi-bagikan secara gratis dan diamalkan  kepada 40 ribu Sekolah Dasar yang menyebar di mana saja. Agar anak-anak Indonesia mengenal lagu-lagu daerahnya. Agar cinta mereka , cikal bakal para pemimpin Indonesia ini tetap menyatu antar sesama suku bangsa.

Di satu sisi yang lain, saya melihat betapa bangsa kita adalah bangsa yang ketat persaudaraannya. Yang rajin dan tekun dalam bidang yang dicintainya. Lihatlah betapa para anggota PSAUI yang tercipta dari pemuda pemudi  Universitas Indonesia yang bekerja keras, belajar keras menuntut ilmunya, dan Alhamdulilah berhasil meraih apa yang dicita-citakannya. Mereka tidak terlena oleh sekedar gelar. Mereka bekerja, berbakti bagi bangsanya. Mereka masih pula meluangkan waktu menyalurkan hobinya. Mereka tak membuang-buang waktu yang disediakan Tuhan untuk diisi oleh hal-hal yang mashlahat. Mereka bernyanyi dan bernyanyi dengan sesuka hati…… dengan iman yang indah…. bernyanyi untuk  Tuhan….. bernyanyi untuk sesama…..

PSAUI memang RUAR BIAZAAAAAAA…..!!!  ~ salam indah dari saya, LINDA DJALIL  ~

 
Tulis Tanggapan Anda
Guest User

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: