
Mantan jurnalis dan pengawas Pemilu. Ingin terus menulis dan menulis. Meminati politik, ekonomi, sosial, seni, budaya, wisata, otomotif, media dll
Dibaca: 1189
Komentar: 13
Nihil
DUNIA seraya berputar lebih liar di Zone Cafe The Sexiest Athmosphere Baturraden, Kamis malam hingga dini hari lalu. Sebuah putaran yang digiring oleh hentakan, dentuman dan decitan piringan hitam yang menyuguhkan permainan Electric Barbellas. Dan poros dari semua putaran itu ada pada duo DJ yang patut dijuluki ”ratu piringan hitam”, DJ Milinka dan DJ Devina.
Kedatangan dua dara yang menjadi fenomena baru dalam panggung dunia hiburan malam itu merupakan penampilan perdana di Kota Purwokerto. Tak ayal, penggila musik dj di Purwokerto tidak menyia-nyiakan suguhan keduanya. Pada malam bertajuk ”The 1st Zone Anniversary The Final” itu, mereka menyemut di lantai dansa.
Teriakan histeris dan kamera ponsel mengabadikan permainan jemari lentik kedua DJ berdarah blasteran tersebut. Sementara Milinka dan Devina, disela-sela aksi panggungnya, hanya menyungging senyum sekilas. Menggoda sekaligus tetap berkelas.
Milinka lahir di Belanda dari pasangan berdarah Indonesia dan Yugoslovakia. Sementara Devina adalah anak pasangan Belanda dan Indonesia yang lahir di Sydney, Australia. Selama di Sydney inilah, Devina telah gemar mengkoleksi piringan hitam. Sementara Devina semula bagian dari penggemar berat dunia gemerlap (dugem). Keduanya bertemu di sebuah kelab malam kota Jakarta tahun 2005, bulan November tahun itu juga, keduanya menghebohkan rimba malam Indonesia dengan memperkenalkan Electric Barbarellas.
Keduanya fenomenal bukan saja karena minimnya DJ perempuan di Indonesia, tetapi juga keputusan untuk menyuguhkan permainan duo layaknya Mulan dan Maya Ahmad yang mengusung Ratu. Sebagai mantan model, Devina maupun Milinka juga mengusung peragaan busana dalam setiap penampilannya. Desainer Oscar Lawalata, satu dari sekian penyedia keperluan gaya mereka.
“Tidak ada perasaan yang bisa menandingi saat crowd di depan kami bersorak dan menari karena menyenangi musik yang kami mainkan,” tutur Devina.
Alasan itulah yang membuat penyandang gelar sarjana desain grafis dan diploma perhotelan itu lebih memilih menjadi DJ. Milinka yang memiliki gelar sarjana ekonomi dari Belanda pun meninggalkan pekerjaan sebagai pialang saham dan eksekutif perusahaan periklanan di Singapura demi sensasi petualangan di antara decit piringan hitam dan gemerlapnya lampu kelab-kelab malam di seantero Indonesia.
Dan begitulah, cerita bergulir. Mata cluber Purwokerto yang terbelalak menikmati sensasi musik Electric Barbarellas hanya menjadi satu kisah dari malam ke malam yang ditempuh keduanya. Ketika deduanya mengusaikan sentuhan terakhir dari belakang turn table, penggila Elektric Barbarellas mungkin hanya berharap, di satu malam yang lain akan bersua kembali.(http://visitbanyumas.com/bahasa/archives/30 ***
Itu baru sepenggal kisah dunia malam di Baturaden. Masih ada ribuan desah bertebaran di seantero kawasan wisata terkenal ini. Coba saja tengok ke pelataran terminal Bus Baturaden. Begitu anda turun dari kendaraan (kalau malam) pasti akan didekati seorang atau beberapa orang pria berjaket. Ia akan menawarkan sensasi malam yg lain di sana. Dan kalau setuju maka mereka akan membawakan gadis belia ke kamar hotel yg ada sekitarnya. Maka layanan plus-plus Baturadenpun akan berlangsung. Di sekitar terminal ada sebuah lokasi penampungan wanita pemuas hasrat bilogis pria yg disebut Gang Sadar I dan II. Mereka ditampung para “mami” dan selalu siap antar jaga (siaga) 24 jam, kaya bidan saja.
Di pelataran terminal itu juga tersebar warung-warung yg menjual miras. Maka hampir dipastikan (utamanya malam minggu) banyak kerumunan anak-anak muda tengah duduk-duduk di depan warung itu sambil bergelak tawa diiringi musik keras dan ditemani wanita. Setelah agak malam merekapun pergi ke diskotik yang ada di sana. Ada yg menampilkan live musik dangdut sebelum diteruskan dengan hentakan house music yang membuat mereka bergairah. Hinga pukul 2 atau 3 malam diskotik bubar dan bagi yg masih meneruskan minum-minum bisa ke terminal lagi atau cek in.
Begitulah Baturaden, malam tak pernah berhenti berdenyut di sini. Sisi lain dari ramainya industri wisata di Baturaden. Dan ketika bulan puasa tiba, biiasanya Pemkab banyumas menghentikan acara hiburan malam atau membatasi jamnya. begitu juga geliat perdagangan seks bebas di gang sadar dihentikan sementara demi menghormati bulan suci tersebut. namun begitu lebaran tiba, geliat erotis itu kembali normal. Bahkan akan muncul wajah-wajah baru menghiasi denyut malam Baturaden…..